Minggu, 12 Mei 2013

ASKEB KEHAMILAN DENGAN INFEKSI RUBELLA



PENDAHULUAN
INFEKSI VIRUS DALAM KEHAMILAN

  1. SIFAT UMUM VIRUS
Virus merupakan penyebab infeksi yang terlalu kecil dengan diameter 20-300 nm. Virus hanya dapat bereplikasi pada sel hidup. Dan sifat istimewa dari virus adalah hanya mempunyai satu jenis asam  nukleat (RNA atau DNA) dan tidak pernah memiliki keduanya.
  1. PATOGENESIS INFEKSI VIRUS PADA JANIN
1.      Transmisi transplasental
2.      Infeksi Asenden yaitu menginfeksi kandungan dari saluran genitalia ibu melewati amnion yang utuh pada akhir kehamilan.
3.      Infeksi perinatal
  1. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PATOGENESIS VIRUS KE JANIN
1.      Imunitas maternal
2.      Mekanisme imun plasenta
3.      Pengembangan system imun
  1. DIAGNOSIS INFEKSI VIRUS DALAM KEHAMILAN.
Tabel 1. Diagnosis janin dalam kandungan
Umur Kehamilan (dalam minggu)
Investigasi
Bahan yang diperiksa
Obyek yang dideteksi
> 11
Biopsi
Vili korionik
Virus (dengan kultur sel, deteksi antigen, deteksi asam nukleat, dll)
18-23
Amniosentesis
Cairan amnion
17-39
USG
-
Abnormalitas anatomi
22-23
Kordosentesis, amniosentesis
Darah janin, cairan amnion
Deteksi antobodi spesifik (pemeriksaan serologi), deteksi virus.
> 24
USG
-

Tabel 2. Perbedaan hasil pemeriksaan serologi infeksi congenital dan perinatal

Tipe infeksi

Transmisi
Antibodi spesifik virus
Pada saat kelahiran
Bayi
< 4 minggu
Bayi > 4mg-1th
Kongenital
Intrauterin
IgM +
IgM +
IgM +/-
IgG +
IgG +
IgG +
Perinatal
Ekstrauterin
IgM -
IgM +/-
IgM +
IgG +
IgG +
IgG +
Tidak ada infeksi
Tidak ada transmisi
IgM -
IgM -
IgM +/-
IgG +
IgG +
IgG -

Tabel 3.Perbedaan hasil deteksi virus pada infeksi congenital dan perinatal

Tipe infeksi

Transmisi
Deteksi virus
Pada saat kelahiran
Bayi
< 4 minggu
Bayi > 4mg-1th
Kongenital
Intrauterin
+
+
+/-
Perinatal
Ekstrauterin
-
+/-
+











KEHAMILAN DENGAN INFEKSI RUBELLA

A.        SIFAT UMUM VIRUS
Virus rubella termasuk genus Rubivirus, famili Togaviridae. Virus ini mempunyai virion sferis dengan diameter 60-70 nm, sedangkan neokapsidnya berdiameter 40 nm dengan simetri ikosahedral. Virus rubella mempunyai genom RNA untai positif tunggal linier, tidak bersegmen, dan RNA ini bersifat infeksiosus. Virus ini sensitive terhadap pelarut lemak dan akan kehilangan infektifitasnya secara cepat pada suhu 56 derajad celcius.

B.        PATOGENESIS
  1. Infeksi menyebar melalui saluran pernafasan
  2. Bereplikasi awal pada epitel saluran nafas pada nodus limfatikus sehingga menyebabkan pembesaran kelenjar limfe yang disertai rasa nyeri pada orang dewasa sedangkan pada anak-anak tidak menimbulkan rasa nyeri.
  3. Masa inkubasi sekitar 7-9 hari dengan munculnya virus di serum, nasofaring dan feses. Fase viremia ini sering ditandai dengan gejala prodromal ringan dan malaise
  4. Muncul ruam makulopapular mulai hari ke-16 sampai hari ke-20.
  5. Ruam dapat menghilang dalam 12 jam atau sampai 5 hari tergantung berat ringannya. Ruam tersebut merupakan reaksi antigen antibody.

C.       IMUNITAS
Yang berperan pada awal terjadinya infeksi adalah IgM kemudian disertai munculnya IgG, IgA, IgD dan IgE. Yang semuanya dapat ditemukan dalam serum setelah satu minggu terjangkit.

D.        GAMBARAN KLINIS
Biasanya menyebabkan penyakit ringan dan sebagian besar bersifat asimtomatis. Jaramg menimbulkan kematian. Gejala klinisnya adalah sebagai berikut :
·         Ruam makopapular (95%), ruam bermula dari muka dan menyebar secara sentripethal ke dada dan perut dan dalam satu atau dua hari menyebar ke ekstremitas. Lesi diawali dengan ruam mukopapular merah muda kemudian menyatu dan akhirnya menghilang dengan cepat.
·         Limfadenopati
·         Demam ringan
·         Konjungtivitis
·         Radang tenggorokan
·         Arthalgia
·         Batuk pilek

E.        INFEKSI RUBELLA DALAM KEHAMILAN
1.   Angka kejadian 1 diantara 4 wanita hamil.
1.      Transmisi infeksi paling sering terjadi pada kehamilan trimester pertama.
2.      Kelainan rubella congenital yang dilaporkan, 80% kasus terjadi pada ibu yang terpapar saat usia kehamilan 12 minggu pertama, 54% pada minggu ke-13 dan ke-14, 25% pada akhir trimester ke-2 dan 5-6 % pada trimester ke-3.
3.      Mekanisme teratogenesis virus rubella masih belum diketahui dengan jelas. Diduga sel yang terinfeksi rubella akan mengeluarkan substansi yang menghambat pertumbuhan dan replikasi sel sehingga akan terlihat bayi tumbuh dengan lambat.
4.      Faktor yang menentukan akibat infeksi virus rubella pada janin belum diketahui dengan pasti, tapi diduga berhubungan dengan :
·         Waktu kehamilan saat terjadi infeksi maternal
·         Jumlah virus yang menginfeksi janin
·         Perbedaan virulensi strain
·         Kerentanan individu yang dipengaruhi etnis atau genetic.
5.                                                            Komplikasi akibat virus rubella antara lain :
·         Abortus spontan
·         Bayi lahir mati
·         Kelahiran premature
·         Abnormalitas janin
·         Sindrom rubella congenital, dengan angka mortalitas 5-35%, 80% anak dengan rubella congenital menunjukkan adanya gangguan system saraf, penonjolan fontanella anterior, letargi iritabilitas dan abnormalitas tonus motorik. Anak dengan sindroma rubella congenital yang mencapai IQ diatas 90 hanya 39%, 37% mengalami retardasi mental, 7% autis, 3% mengalami gangguan kepribadian. Tuli sensorik dan gangguan penglihatan serta terjadinya DM pada usia muda adalah diduga sebagai gejala sisa dari sindrom ini.

F.         DIAGNOSIS RUBELLA
Criteria diagnosis laboratories infeksi virus rubella :
  1. Isolasi virus rubella. Virus ini mudah ditemukan kemudian diisolasi dari specimen nasal, darah, usapan tenggorokan, urine dan cairan serebrospinal. Diambil 6 hari sebelum sampai 6-14 hari munculnya ruam.
  2. Uji serologi untuk antibody IgM rubella positif
  3. Peningkatan titer IgG yang signifikan antara serum masa akut dan perbaikan
  4. Deteksi virus dengan RT-PCR

G.        PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
  1. Pemberian vaksin rubella sebelum kehamilan dan menunggu minimal 28 hari untuk hamil setelah divaksinasi
  2. Pada wanita hamil yang terpapar sebaiknya dilakukan pemeriksaan serologi
  3. Konseling tentang bahaya virus rubella pada bayi yaitu bias terjadi sindrom rubella congenital
  4. Bisa mempertimbangkan abortus terapeutik/medicinalis
  5. Pemberian immunoglobulin pada ibu hamil yang terpapar rubella tetapi menolak dilakukan abortus terapeutik.
  6. Pengobatan simtomatik karena biasanya tidak memerlukan terapi yang spesifik
  7. Observasi terus menerus pada bayi yang dilahirkan