Selasa, 28 Mei 2013

Makalah Infeksi Rubella

BAB I

PENDAHULUAN



1.1.      LATAR BELAKANG
Infeksi virus Rubella merupakan penyakit ringan pada anak dan dewasa, tetapi apabila terjadi pada ibu yang sedang mengandung virus ini dapat menembus dinding plasenta dan langsung menyerang janin. “Rubella” atau dikenal juga dengan nama Campak Jerman adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Rubella. Virus biasanya menginfeksi tubuh melalui pernapasan seperti hidung dan tenggorokan.
            Anak-anak biasanya sembuh lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
Virus ini dapat menular lewat udara. Selain itu Virus Rubella dapat ditularkan melalui urin, kontak pernafasan, dan memiliki masa inkubasi 2-3 minggu. Penderita dapat menularkan virus selama seminggu sebelum dan sesudah timbulnya “rash” (bercak merah) pada kulit. “Rash Rubella” berwarna merah jambu, akan menghilang dalam 2-3 hari, dan tidak selalu muncul untuk semua kasus infeksi.
            Sindroma rubella kongenital terjadi pada 25% atau lebih bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella pada trimester pertama. Jika ibu menderita infeksi ini setelah kehamilan berusia lebih dari 20 minggu, jarang terjadi kelainan bawaan pada bayi. Kelainan bawaan yang bisa ditemukan pada bayi baru lahir adalah tuli, katarak, mikrosefalus, keterbelakangan mental, kelainan jantung bawaan dan kelainan lainnya.

1.2.      RUMUSAN MASALAH
1. Apakah yang dimaksud dengan penyakit rubella ?
2. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada kehamilan ?
3. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada ibu bersalin ?
4. Bagaimanakah dampak penyakit rubella pada ibu nifas ?

1.3.      TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit rubella.
2. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada kehamilan.
3. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada ibu bersalin.
4. Untuk mengetahui dampak penyakit rubella pada ibu nifas.







BAB II
PEMBAHASAN

2.1     RUBELLA

2.1.1    PENGERTIAN

            Rubella atau campak Jerman adalah penyakit yang disebabkan suatu virus RNA dari golongan Togavirus. Penyakit ini relatif tidak berbahaya dengan morbiditas dan mortalitas yang rendah pada manusia normal. Tetapi jika infeksi didapat saat kehamilan, dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan organ dan dapat mengakibatkan kecacatan. Virus penyebab rubela atau campak Jerman ini bekerja dengan aktif khususnya selama masa hamil. Akibat yang paling penting diingat adalah keguguran, lahir mati, kelainan pada janin, dan aborsi terapeutik, yang terjadi jika infeksi rubela ini muncul pada awal kehamilan, khususnya pada trimester pertama. Apabila seorang wanita terinfeksi rubela selama trimester pertama, ia memiliki kemungkinan kurang lebih 52% melahirkan bayi dengan sindrom rubela kongenital (CRS, Congenital Rubella Syndrome).
Angka tersebut akan meningkat menjadi 85%, jika ibu terinfeksi rubela pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu. Kelainan CRS yang paling sering muncul adalah katarak, kelainan jantung, dan tuli. Kemungkinan lainnya adalah glaukoma, mikrosefalus, dan kelainan lain, termasuk kelainan pada mata, telinga, jantung, otak, dan sistem saraf pusat. Janin dengan CRS sering kali mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri dan pascanatal. Infeksi rubela yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 12 minggu jarang menyebabkan kelainan.
2.1.2    TANDA DAN GEJALA
            Tanda-tanda dan gejala rubella, terutama pada anak-anak, sering begitu ringan sehingga sulit untuk dilihat. Jika tanda-tanda dan gejala yang terjadi, mereka biasanya muncul antara dua dan tiga minggu setelah terpapar virus. Rubella biasanya berlangsung sekitar dua sampai tiga hari dan gejalanya sebagai berikut:
1. Demam ringan dengan suhu 38,9 derajat Celcius atau lebih rendah Mengantuk
2. Sakit tenggorok
3. Ruam-berwarna merah terang atau pucat pada hari pertama atau kedua, menyebar dengan cepat dari wajah ke seluruh tubuh, dan menghilang dengan cepat pula.
4. Pembengkakan kelenjar leher.
5. Sakit kepala
6. Hidung tersumbat atau pilek.
7. Radang, mata merah

2.1.3    PENYEBAB
            Virus yang ditularkan melalui kontak udara maupun kontak badan. Virus ini bisa menyerang usia anak dan dewasa muda. Pada ibu hamil bisa mengakibatkan bayi lahir tuli. Penularan virus rubella adalah melalui udara dengan tempat masuk awal melalui nasofaring dan orofaring. Setelah masuk akan mengalami masa inkubasi antara 11 sampai 14 hari sampai timbulnya gejala. Hampir 60 % pasien akan timbul ruam. Penyebaran virus rubella pada hasil konsepsi terutama secara hematogen. Infeksi kongenital biasanya terdiri dari 2 bagian : viremia maternal dan viremia fetal. Viremia maternal terjadi saat replikasi virus dalam sel trofoblas. Kemudian tergantung kemampuan virus untuk masuk dalam barier bayi-bayi lain, disamping bagi orang dewasa yang rentan dan berhubungan dengan bayi tersebut.
2.1.4    DIAGNOSA
            Diagnosis Ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang timbul, dan dari pemeriksaan darah di laboratorium dengan melihat kadar antibodi IgG dan IgM-nya terhadap rubela. Diagnosa ditegakkan melalui pemeriksaan serologi. IgM akan cepat memberi respon setelah keluar ruam dan kemudian akan menurun dan hilang dalam waktu 4 – 8 minggu, IgG juga memberikan respon setelah keluar ruam dan tetap tinggi selama hidup.
Diagnosa ditegakkan dengan adanya peningkatan titer 4 kali lipat dari hemagglutination-inhibiting (HAI) antibody dari dua serum yang diperoleh dua kali selang waktu 2 minggu atau setelah adanya IgM. Diagnosa Rubella juga dapat ditegakkan melalui biakan dan isolasi virus pada fase akut. Ditemukannya IgM dalam darah talipusat atau IgG pada neonatus atau bayi 6 bulan mendukung diagnosa infeksi Rubella.


2.2       RUBELLA PADA KEHAMILAN
2.2.1    DEFINISI

            10 – 15% wanita dewasa rentan terhadap infeksi Rubella. Perjalanan penyakit tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan ibu hamil dapat atau tidak memperlihatkan adanya gejala penyakit. Derajat penyakit terhadap ibu tidak berdampak terhadap resiko infeksi janin. Infeksi yang terjadi pada trimester I memberikan dampak besar terhadap janin. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981).
            Bila ibu hamil yang belum kebal terserang virus Rubella saat hamil kurang dari 4 bulan, akan terjadi berbagai cacat berat pada janin. Sebagian besar bayi akan mengalami katarak pada lensa mata, gangguan pendengaran, bocor jantung, bahkan kerusakan otak. Infeksi Rubella pada kehamilan dapaT menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Tidak semua janin akan tertular. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90 persen. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu, maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20 persen.
Namun, risiko janin tertular meningkat hingga 100 persen jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu. Untungnya, Sindrom Rubella Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan masih kurang dari 4 bulan. Bila sudah lewat 5 bulan, jarang sekali terjadi infeksi. Di samping itu, bayi juga berisiko lebih besar untuk terkena diabetes melitus, gangguan tiroid, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf.
2.2.1    PENCEGAHAN
            Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella).Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil.
Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya.
 Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi atau sudah divaksinasi terhadap Rubella. Anda tidak mungkin terkena Rubella lagi, dan janin 100% aman. Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, berarti anda baru terinfeksi Rubella atau baru divaksinasi terhadap Rubella. Dokter akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.
Jika anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti anda tidak mempunyai kekebalan terhadap Rubella. Bila anda belum hamil, dokter akan memberikan vaksin Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6 bulan. Bila anda tidak bisa mendapat vaksin, tidak mau menunda kehamilan atau sudah hamil, yang dapat dikerjakan adalah mencegah anda terkena Rubella. Bila sudah hamil padahal belum kebal, terpaksa berusaha menghindari tertular Rubella dengan cara berikut: Jangan mendekati orang sakit demam Jangan pergi ke tempat banyak anak berkumpul, misalnya Playgroup sekolah TK dan SD. Jangan pergi ke tempat penitipan anak Sayangnya, hal ini tidak dapat 100% dilaksanakan karena situasi atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu. Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena Rubella. Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah, pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG danIgM Rubella setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru. Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau tidak Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 22 minggu.


2.2.2    PEMERIKSAAN
            Pemeriksaan rubella harus dikerjakan pada semua pasien hamil dengan mengukur IgG . Mereka yang non-imune harus memperoleh vaksinasi pada masa pasca persalinan. Tindak lanjut pemeriksaan kadar rubella harus dilakukan oleh karena 20% yang memperoleh vaksinasi ternyata tidak memperlihatkan adanya respon pembentukan antibodi dengan baik. Infeksi rubella tidak merupakan kontra indikasi pemberian ASI
            Tidak ada terapi khusus terhadap infeksi Rubella dan pemberian profilaksis dengan gamma globulin pasca paparan tidak dianjurkan oleh karena tidak memberi perlindungan terhadap janin.Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan < 18 minggu dan risiko infeksi rubella bawaan.
2.2.3    TERAPI ANTIVIRUS
1. Acyclovir adalah anti virus yang digunakan secara luas dalam kehamilan
2. Acyclovir diperlukan untuk terapi infkesi primer herpes simplek atau virus varicella zoster yang terjadi pada ibu hamil
3. Selama kehamilan dosis pengobatan tidak perlu disesuaikan
4. Obat antivirus lain yang masih belum diketahui keamanannya selama kehamilan : Amantadine dan Ribavirin
2.3       RUBELLA PADA PERSALINAN
2.3.1    Penyebab
            Adanya kuman yang masuk semisal karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibatketuban pecah dini sebelum proses persalinan.
2.3.2    Gejala Klinis
            Suhu tubuh ibu panas, detak jantung janin cepat, begitu pula dengan detak jantung ibu, air ketuban hijau kental dan berbau. Hal ini bisa membahayakan kondisi ibu dan janinnya bila tidak segera melahirkan.
2.3.3    Penanganan
            Jika ditemukan keadaan sangat gawat, bayi harus segera dilahirkan. Tentunya tergantung kondisi ibu saat itu. Jika sudah waktunya mendekati persalinan, dilakukan tindakan vakum atau forsep. Jika masih jauh waktunya dari persalinan, akan dilakukan operasi meski dengan risiko bayi lahir prematur. Masalah operasi ini memang masih kontroversial. ada kontroversi. Jika dalam keadaan infeksi dilakukan operasi, luka pada tubuh ibu bisa memicu terjadinya sepsis. Namun jika bayi tak dikeluarkan segera, akan terjadi hipoksia (kekurangan oksigen), bahkan kematian janin.
2.3.4    Pencegahan
            Proses persalinan dilakukan dengan cara dan peralatan yang steril mungkin, serta sedapat mungkin dibantu oleh tenaga medis.
2.4       RUBELLA PADA NIFAS
2.4.1    Penyebab

            Kuman bakteri Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui pada endometrium atau lapisan dalam rahim. Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril; kondisi daya tahan tubuh menurun sehingga kuman yang tadinya tidak menimbulkan penyakit jadi menimbulkan penyakit; banyaknya luka terbuka di rahim akibat lepasnya plasenta, sehingga bila ada satu dua kuman yang masuk ke dalam luka tersebut menimbulkan infeksi.
2.4.2    Gejala Klinis
            Tergantung keganasan kumannya serta masa inkubasi. Bisa dalam hitungan jam atau hari. Gejalanya ada reaksi radang seperti suhu tubuh naik (panas tinggi) dan badan terasa nyeri, menggigil, nafsu makan menurun. Pada hari kedua mungkin timbul perlawanan antibodi-antigen. Kemudian keluarlah nanah yang berbau dari vagina/jalan lahir. Jika berlanjut, kuman bisa masuk dalam aliran darah dan terjadi sepsis sehingga harapan hidup si ibu kemungkinan sangat kecil.
2.4.3    Diagnosis

            Ditegakkan berdasar gejala klinis pada ibu masa nifas, yaitu panas tinggi, lokhia berbau/nanah, denyut nadi cepat, rahim tidak berkontraksi secara adekuat.
2.4.4    Pengobatan
            Di rawat di rumah sakit dengan pemberian infus/cairan yang adekuat, antibiotik yang sesuai, dan usahakan rahim berkontraksi.
2.4.5    Pencegahan
            Persalinan diupayakan dengan cara sesteril mungkin. Dianjurkan pula ibu hamil untuk imunisasi terutama tetanus guna perlindungan saat pemotongan tali pusat dengan bayi. Setelah persalinan, karena terjadinya perdarahan, biasanya dokter memberikan obat-obatan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi. Meski ada juga dokter yang tidak memberikan obat-obatan antibiotik dengan anggapan bahwa luka yang diakibatkan persalinan adalah alami dan dapat sembuh sendiri. Selain itu, penggunaan antibiotika dianggap boros dan membuat kuman tertentu menjadi resisten.










BAB III

 PENUTUP


3.1       SIMPULAN

            Infeksi Rubella pada kehamilan dapaT menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin.Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.
            Sedangkan dalam persalinan terjadi akibat adanya kuman yang masuk karena dilakukan pemeriksaan dalam tanpa keadaan yang steril, juga akibat ketuban pecah dini sebelum proses persalinan. Selain itu Kuman bakteri Infeksi sesudah persalinan dapat ditemui juga pada endometrium atau lapisan dalam rahim . Infeksi dapat terjadi bila pertolongan persalinan tidak steril.
3.2       SARAN
            Bidan di harapkan dapat mendeteksi sedini mungkin adanya tanda dan gejala yang mengarah ke Rubella terutama pada ibu tersebut hamil, supaya ibu tidak terlambat dalam mendapatkan penanganan.

DAFTAR PUSTAKA


Adam JMF. Survei diabetes melltitus pada wanita hamil. Penelitian Universitas Hasanuddin. 1986.
Amankwah KS, Prentile RL, Fleury FJ. The incidence of gestational diabetes. Obstetric and Gynecology 1977; 49:497-498.
Mochtar, Rustam. Prof. DR. 1989. Sypnosis Obstetrik : Obstetrik Patologi. Edisi I.
Jakarta : EGC
Manumba, Ida Bagus. 1993. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetrik dan Ginekologi
Jakarta : EGC
http://creasoft.wordpress.com/2008/04/26/diabetes-mellitus-pada-kehamilan




Infeksi Rubella dalam Kehamilan

Infeksi Rubella dalam Kehamilan
Penyakit Rubella disebabkan karena infeksi oleh virus yang disebut Rubivirus.

Penyebaran virus ini dapat melalui bahan cairan yang berasal dari hidung atau tenggorokan penderita  Rubella yang dapat menyebar saat batuk atau bersin.
Biasanya infeksi Rubella  akan menimbulkan gejala seperti kemerahan pada kulit, demam dan nyeri disertai bengkak pada persendian.

Infeksi  Rubella dalam kehamilan terutama di bawah usia kehamilan 12 minggu dapat membahayakan janin, karena virus tersebut dapat melewati plasenta dan menyerang janin sehingga menimbulkan kecacatan atau kelainan kongenital (bawaan) pada janin yang sering disebut sebagai Congenital Rubella Syndrome (CRS), yaitu berupa kebutaan, tuli, kelainan jantung, gangguan mental serta keguguran dan prematuritas.  Hampir 100% kemungkinan janin akan cacat bila infeksi terjadi sebelum kehamilan 8 minggu.

Kemungkinan ibu hamil terserang Rubella sangat kecil <1%, tapi sebaiknya perlu diketahui apakah ia mempunyai  kekebalan sehingga  perlu dilakukan pemeriksaan darah sebelum menikah.

Rubella dapat dicegah dengan vaksinasi MMR (Mumps, Measles dan Rubella). Hal ini telah sukses dilakukan di AS dan Eropa sehingga  menurunkan frekuensi  CRS. Pada saat ini telah diketahui tidak ada hubungan antara vaksin MMR dengan kejadian autisme pada anak.







Gejala pada Rubella
http://www.anakku.net/wp-content/uploads/2012/04/hamil.jpg
image : simplehomemade.net
Biasanya menimbulkan gejala, Walaupun pada beberapa kasus gejala sangat ringan sehingga penderita tidak menyadarinya. Masa inkubasi Rubella antara 15-20 hari, gejala yang timbul seperti demam, lemas, pembesaran kelenjar getah bening, kemerahan pada kulit. Masa  paling menular adalah ketika kemerahan pada kulit timbul.

Jika ibu hamil terserang Rubella pada  awal kehamilan maka sebaiknya ibu berkonsultasi dulu dengan dokter untuk menentukan langkah apa yang harus diambil. Pada saat ini belum ada terapi yang efektif untuk mengatasi hal itu sehingga  si ibu mungkin diberikan pilihan untuk mengakhiri kehamilan atau diberikan immunoglobulin untuk meningkatkan daya tahan dan mengurangi kerusakan pada janin. Terapi yang lain adalah  untuk menghilangkan gejala saja seperti pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri dan pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi..

Bila  anda sedang hamil dan ternyata belum  mempunyai kekebalan maka si ibu tidak boleh divaksin saat hamil , jalan satu-satunya hindari kontak dengan penderita dan segera vaksin setelah melahirkan.
Berikut ini beberapa rekomendasi yang sebaiknya diperhatikan bagi  ibu –ibu yang mempersiapkan kehamilan :
  1. Karena efek CRS bervariasi tergantung pada usia kehamilan  maka penentuan usia kehamilan adalah mutlak perlu untuk menentukan tindakan medis yang akan dilakukan
  2. Diagnosis Rubella dalam kehamilan harus ditegakkan dengan  pemeriksaan serologis kadar antibodi  terhadap Rubella
  3. Pada ibu hamil yang terpapar/ dengan gejala infeksi Rubella maka harus dilakukan pemeriksaan serologis untuk menentukan status kekebalan dan resiko untuk mengalami CRS
  4. Vaksin Rubella sebaiknya tidak diberikan saat hamil
  5. Ibu yang kebetulan divaksin Rubella kemudian langsung hamil harus dipantau untuk menentukan adanya CRS atau tidak
  6. Ibu yang ingin hamil sebaiknya dilakukan pemeriksaan serologis untuk menentukan status kekebalannya dan bila ternyata tidak kebal maka harus divaksin sebelum hamil.

Referensi :
  1. Silverstein, Alvin, Virginia Silverstein, and Robert Silverstein. Measles and Rubella. Hillside, NJ: Enslow Publishers, Inc., 2007
  2. Rubella (German measles) during pregnancyReviewed by the BabyCenter Medical Advisory Board. Last updated: October 2005
  3. Rubella in Pregnancy  , J Obstet Gynaecol Can 2008;30(2):152–158


INFEKSI CYTOMEGALOVIRUS (CMV) KONGENITAL


Pendahuluan
Dilaporkan di negara maju bahwa infeksi kongenital karena CMV merupakan 0,3-0,5% dari kelahiran hidup dan 1-2% di negara berkembang. Lebih dari 10-15% infeksi kongenital pada anak baru lahir jelas gejalanya. Tetapi ada juga yang baru tampak gejalanya pada masa pertumbuhan dengan memperlihatkan gangguan; neurologis, mental, ketulian dan visual.

Masalah yang timbul di Indonesia, sejauh mana kemampuan laboratorium untuk menegakkan diagnosis dan seberapa jauh kemajuan pengelolaan kasus infeksi kongental CMV terutama dalam pengobatan dan pencegahannya.

Gejala pada ibu :
Umumnya (>90%) infeksi CMV pada ibu hamil asimpomatik, tidak terdeteksi secara klinis. Gejala yang timbul tidak spesifik; demam, lesu, sakit kepala, sakit otot dan nyeri tenggorok.
Transmisi dari ibu ke janin dapat terjadi selama kehamilan, infeksi pada kehamilan sebelum 16 minggu dapat mengakibatkan kelainan kongenital berat.

Prenatal diagnosis :
Infeksi Cytomegalovirus pada janin masih merupakan masalah yang belum jelas penaganannya, kultur virus dan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) dari sediaan cairan amnion atau darah janin merupakan cara diagnosis yang sedang dikembangkan Pemeriksaan cairan amnion sebaiknya dilakukan pada 21-23 minggu kehamilan. Sampai saat ini diagnosis CMV masih mengandalkan kepada tehnik pemeriksaan laboratorium serologi, serokonversi aviditas anti-CMV antibodi, zat ini masih dapat ditemukan sampai 20 minggu setelah terjadinya infeksi.

Diagnosis CMV pada wanita hamil :
Wanita dengan seropositif CMV sebelum kehamilan. Dilaporkan bahwa hanya 1,2 % sero-positif akan menyebabkan transmisi ke janin sedangkan yang sero-negatif sebelum kehamilan transmisi terjadi lebih besar (12,9%). Hal ini mengakibatkan dugaan bahwa peningkatan imunitas ibu sebelum hamil, dapat melindungi janin dari kelainan kongenital CMV sebesar 90%. Artinya imunitas spesifik ibu yang telah mengalami infeksi CMV lebih tinggi daripada ibu yang baru terinfeksi selama hamil.

Dari hasil survey didapat bahwa, 50-70% wanita hamil dengan sero-positif sebelum hamil, transmisi infeksi terhadap janin (infeksi vertikal) hanya 1%, virulensinya lebih rendah dibanding wanita sero-negatif.

Apakah perlu pemeriksaan rutin serologi CMV?
Pemeriksaan serologi CMV tidak perlu dilakukan secara rutin, pemeriksaan hanya dilakukan bila ada tanda-tanda bahwa janin mengalami kelainan, misalnya ada dugaan kelainan pada pemeriksaan antenatal, riwayat kehamilan sebelumnya, riwayat kehamilan sekarang dan dugaan dari hasil pemeriksaan rutin.

Adanya antibodi IgG CMV menyatakan bahwa pernah terjadi infeksi CMV, Kadar IgG akan tampak dalam darah 7-14 hari setelah terjadinya infeksi. Gambaran serologi ini akan menetap. IgG CMV mungkin meningkat kadarnya pada keadaan imunitas menurun seperti pada kasus transplantasi organ, AIDS. IgM akan tampak pada hari ke 3-4 setelah gejala timbul, IgM akan tetap berada dalam sirkulasi ibu sampai beberapa bulan. Infeksi kongenital dapat di diagnosis dengan menemukan IgM janin di dalam darah tali pusat (kordosentesis) atau cairan tuban (amniosentesis).

Infeksi CMV dari ibu ke janin :
Cytomegalovirus ditransmisikan dari ibu ke janin atau anak baru lahir melalui 3 jalan; 1) plasenta, 2) jalan lahir dan 3) ASI. Infeksi CMV perinatal umumnya terjadi karena kontak di jalan lahir dan ASI, sedangkan infeksi vertikal lebih sedikit. IgG CMV positif menyatakan pernah terjadi infeksi, IgM CMV menyatakan sedang terinfeksi. Untuk mengetahui lebih jauh kapan waktu terjadinya infeksi dapat diperkuat dengan pemeriksaan Aviditas antibodi IgG. Bila aviditas terhadap IgG rendah kemungkinan ada infeksi baru, sedang aviditas tinggi menyatakan bahwa infeksi baru tidak ada. Pemeriksaan ini penting dilakukan pada trimester pertama kehamilan, bila didapat aviditas rendah, maka pemeriksaan PCR perlu dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut akan kemungkinan adanya infeksi baru.

Pemeriksaan pada wanita sero-negatif :
Wanita dengan sero-negatif sejak 6 bulan sebelum kehamilan, mempunyai kemungkinan dapat terserang infeksi primer CMV. Infeksi primer peripartum mempunyai prognosis buruk. Untuk mengurangi risiko terinfeksi diajurkan untuk menjaga kebersihan dirinya (hidup higienis) dengan cara menjauhkan diri dari zat atau cairan organic; urine, ludah, darah, air mata, semen, ASI dan sering mencuci tangan.

Di negara maju, pemeriksaan immunoglobulin spesifik CMV (IgG) dilakukan 2 kali, pada kehamilan bulan ke 2 dan ke 4. Hasil pemeriksaan IgG CMV dapat dipakai sebagai sarana diagnosis walaupun reaksi silang dengan keluarga herpes lainnya mungkin terjadi ( HSV1, HSV2, Varicella-zoster virus dan Epstein-Barr virus). Pada ibu hamil yang keadaan serologisnya tidak diketahui sebelumnya , maka diagnosis CMV menjadi kompleks. Dinegara maju pemeriksaan serologis dan virologis sering dilakukan, malahan tes serologis termasuk tes rutin antenatal.

Manifestasi klinik infeksi kongenital CMV:
Gejala klinik infeksi CMV pada bayi baru lahir jarang ditemukan. Dari hasil pemeriksaan virologis, CMV hanya didapat 5-10% dari seluruh kasus infeksi kongenital CMV. Kasus infeksi kongenital CMV hanya 30-40% saja yang disertai persalinan prematur. Dari semua yang prematur setengahnya disertai Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT). 10% dari janin yang menunjukkan tanda-tanda infeksi kongenital mati dalam dua minggu pertama.

Diagnosis infeksi kongenital CMV :
Infeksi kongenital CMV ditegakkan bila didapat virus dari hasil isolasi cairan atau jaringan yang diperiksa. Waktu pemeriksaan virologi ini tidak lebih dari 3 minggu pertama kelahiran (kultur urine atau saliva). Pemeriksaan serologis (IgG atau IgM) kurang sensitif dan tidak dipakai untuk menegakkan diagnosis.

Pengelolaan kelainan kongenital/neonatal infeksi CMV :
Belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi CMV.
Penyakit infeksi virus CMV, seperti juga penyakit virus lainnya adalah penyakit ”self limited disease”. Pengobatan ditujukan kepada perbaikan nutrisi, respirasi dan hemostasis. Pengobatan anti virus masih belum jelas hasilnya. Dicoba cara pemberian zat immunoglobulin in utero. Bagi ibu yang mengalami gangguan imunitas dikembangkan obat; ganciclovir, cidofovir, formivirsen, foscarnet (virustatic). Pemberian vaksin merupakan harapan dimasa datang.

Pemberian Ganciclovir pada dewasa: dosis induksi 5 mg/kg dua kali sehari, intra vena selama 2 minggu, dipertahankan dengan dosis 5 mg/kg/hari. Pemberian oral untuk mempertahankan dosis dalam sirkulasi darah adalah 1 gram 3 kali sehari, perlu diperhatikan efek samping yaitu gangguaan fungsi ginjal. Pemberian Ganciclovir 12mg/kg/hr pada bayi dapat mengurangi progresivitas ketulian dalam 2 tahun pertama kehidupannya.

Pencegahan :
Belum didapatkan obat yang baik untuk mencegah terjadinya infeksi CMV pada ibu dan janin yang dikandungnya.

Dapat diusahakan :
1. Memberikan penerangan cara hidup yang higienis, menjauhi kontak dengan cairan yang dikeluarkan oleh penderita CMV : urine, saliva, semen dlsb.
2. Bagi ibu, terutama yang melahirkan bayi prematur untuk berhati-hati dalam memberikan ASI. Bayi prematur imunitasnya masih rendah. ASI yang mengandung virus CMV, didinginkan sampai –20oC selama beberapa hari dapat menghilangkan virus. Cara lain pasteurisasi cepat.
3. Hati-hati pada transfusi, darah harus dari donor sero-negatif.
4. Vaksinasi mempunyai harapan dimasa datang

Bagaimana di Indonesia ?
Masalah diagnosis infeksi CMV pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya masih kontroversial menunggu hasil penelitian lebih lanjut. Diagnosis serologis untuk infeksi kongenital CMV belum dipakai sebagai sarana pemeriksaan antenatal rutin. Walaupun di negara maju dilaporkan bahwa angka kejadian, 3 dari 1000 bayi baru lahir terkontak CMV.

Adapun alasan yang umum adalah :
1. Biaya pemeriksaan yang relatif mahal
2. Pemeriksaan laboratorium serologis rutin masih belum sempurna, ada kemungkinan positif palsu dan belum dapat memastikan adanya infeksi vertikal.
3. Pengobatan belum memuaskan, masih dalam penelitian-penelitian awal.

Kesimpulan
Infeksi cytomegalovirus pada ibu hamil merupakan bahaya cukup besar untuk terjadinya kelainan kongenital pada janin dan bayi baru lahir.
Kemampuan diagnosis ditekankan kepada pemeriksaan serologis dan kemungkinan dilakukan pemeriksaan virologis. Pengelolaan masih dalam awal penelitian dengan obat-obatan virostatik. Penerangan untuk pencegahan akan terjadinya penularan agaknya lebih penting daripada pengobatan bila telah terjadi infeksi.

Vaksinasi merupakan harapan dimasa datang dalam mencegah terjadinya infeksi pada ibu hamil.
Pemeriksaan laboratorium serologis CMV secara rutin hanyalah menambah masalah daripada menyelesaikan masalah.

Prof. Dr. dr. Firman F. Wirakusumah, SpOG(K). Infeksi Cytomegalovirus (CMV) kongenital dan permasalahannya. Diunduh tgl 03 april 2010; tersedia dari http://fmrshs.com/

Daftar Pustaka
1. Landini MP, Lazzaroto T. Prenatal Diagnosis of Congenital Cytomegalovirus Infection: Light and Shade. HERPES 1999; 6(2):45-8 2. The Cleveland Clinic. Cytomegalovirus (CMV) Infection. Cleveland Clinic General Internal Medicine. 2003. 3. Diagnostic Product Corporation. Cytomegalovirus, an important opportunistiv pathogen. 2002. 4. Arav-Boger R, Pass RF. Diagnosis and management of cytomegalovirus infection in the newborn. Pediatric Annals. 2002: 719 5. Fowler KB, Stagno S, Pass RF. Maternal immunity and pevention of congenital cytomegalovirus infection. .JAMA. 2003: 1008 6. Rivera LB, Boppana S, Fowler KB, Britt WJ. Predictor of hearing loss in children with symptomatic congenital cytomecalovirus infection. Pediatrics 2002: 762 7. Bryant P, Morley C, Garland S, Curtis N. Cytomegalovirus transmission from breast milk in premature babies. Archives of Disease in Childhood. F75 2002. 8. Revello MG, Zavattoni M, Furione M, Lilleri D. Diagnosis and outcome of preconceptional primary human cytomegalovirus infections. J infectious Disease. 2002: 553-7 9. Sharland M, Khare M, Bedford-Russell A. Prevention of postnatal cytomegalovirus infection in preterm infants. Archives of Disease in Childhood. F140, 2002. 10. Hagay ZJ, Brian G, Ornoy A, Reece EA. Congenital cytomegalovirus infection. Am J Obstet Gynecol, 1996; 174: 241-5