Jumat, 10 Mei 2013


TUGAS MAKALAH
ASUHAN KEBIDANAN DENGAN SISTEM EMBOLI AIR KETUBAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatNya penyusun diberi kesehatan sehingga makalah yang berjudul “Asuhan Kebidanan Dengan Sistem Emboli Air Ketuban” dapat selesai dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.

            Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Asuhan  Kebidanan Patologi ( Askeb IV)dimana sumber materi didapat dari buku-buku yang relevan guna menunjang keakuratan materi yang nantinya akan di sampaikan.

            Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.

Akhir kata penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.





Yogyakarta,27 Maret 2013

                                                                                                (TTD)








DAFTAR ISI
1.1.  KATA PENGANTAR................................................................................i
1.2.  DAFTAR ISI..............................................................................................ii
1.3.  BAB I
1.    PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang..................................................................................1
B.  Rumusan Masalah.............................................................................2
C.  Tujuan dan Manfaat..........................................................................3
1.4.BAB II
2.    ISI
A.  Definisi Airan Ketuban....................................................................4
B.  Emboli Air ketuban..........................................................................4
C.  Etiologi.............................................................................................5
D.  Fisiologi............................................................................................6
E.   Patofisiologi.....................................................................................7
F.   Tanda gejala.....................................................................................8
G.  Gambaran klinis...............................................................................8
H.  Penanganan......................................................................................9

1.5.BAB III
3.    PENUTUP
Kesimpulan..........................................................................................10
Saran....................................................................................................10
4.    DAFTAR PUSTAKA..........................................................................iii




BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock.  Sindrom cairan ketuban adalah sebuah gangguan langka dimana sejumlah besar cairan ketuban tiba – tiba memasuki aliran darah. Emboli cairan ketuban adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. yang dapat menghambat pembuluh darah dan mencairkan darah yang mempengaruhi koagulasi. Dua tempat utama masuknya cairan ketuban dalam sirkulasi darah maternal adalah vena yang dapat robek sekalipun pada persalinan normal. Ruptura uteri meningkatkan kemampuan masuknya cairan ketuban. (dr. Irsjad Bustaman, SpOG.2009)
Emboli cairan ketuban dapat terjadi bila ada pembukaan pada dinding pembuluh darah dan dapat terjadi pada  wanita tua/ usia lebih dari 30 tahun, sindrom janin mati, Multiparitas, Janin besar intrauteri, Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi, Menconium dalam cairan ketuban dan kontraksi uterus yang kuat.
Dua puluh lima persen wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam waktu 1 jam. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat. Dalam kenyataannya memang emboli cairan ketuban jarang dijumpai, namun kondisi ini dapat mengakibatkan kematian ibu dengan cepat. Sekalipun mortalitas tinggi, emboli cairan tidak selalu membawa kematian pada tiap kasus. 75% wanita meninggal sebagai akibat langsung emboli. Sisanya meninggal akibat perdarahan yang tidak terkendali.
Meskipun jarang terjadi, tetapi bila edema cairan ketuban terjadi pada wanita, maka akan menyumbat aliran darah ke paru, yang bila meluas akan mengakibatkan penyumbatan dijantung, sehinggaa iskemik dan kematian jantung secara mendadak bisa terjadi. Karena wanita tersebut akan mengalami gangguan penapasan, syok, hipotermi, Dyspnea, Batuk, Hipotensi perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia Cardiac arrest. Koagulopati atau pendarahan parah karena tidak adanya penjelasan lain (DIC terjadi di 83% pasien.). Risiko emboli cairan ketuban tidak bisa diantisipasi jauh-jauh hari karena emboli paling sering terjadi saat persalinan. Dengan kata lain, perjalanan kehamilan dari bulan ke bulan yang lancar-lancar saja, bukan jaminan ibu aman dari ancaman EAK. Sementara bila di persalinan sebelumnya ibu mengalami EAK, belum tentu juga kehamilan selanjutnya akan mengalami kasus serupa. Begitu juga sebaliknya.
B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini :
1.      Mengetahui apa yang dimaksud emboli air ketuban
2.      Mengetahui penyebab timbulnya emboli air ketuban
3.      Mengetahui faktor – faktor resiko dari emboli air ketuban
4.      Mengetahui gejala klinis dari emboli air ketuban
5.      Mengetahui diagnosis sampai penanganan emboli air ketuban
C. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan makalah ini :
1.      Menambah wawasan pengetahuan tentang emboli air ketuban :
a.       Definisi emboli air ketuban
b.      Penyebab timbulnya emboli air ketuban
c.       Faktor-faktor resiko dari emboli air ketuban
d.      Gejala klinis dari emboli air ketuban
e.       Penanganan emboli air ketuban
2.      Memenuhi tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan II Patologi tentang Emboli air Ketuban pada program DIV Kebidanan Politeknik Kesehatan Makassar.
D. Definisi Cairan Ketuban
Merupakan semacam cairan yang memenuhi seluruh rahim dan memiliki berbagai fungsi untuk menjaga janin. Di antaranya, memungkinkan janin dapat bergerak dan tumbuh bebas ke segala arah, melindungi terhadap benturan dari luar, barier terhadap kuman dari luar tubuh ibu, dan menjaga kestabilan suhu tubuh janin. Ia juga membantu proses persalinan dengan membuka jalan lahir saat persalinan berlangsung maupun sebagai alat bantu diagnostik dokter pada pemeriksaan amniosentesis. Air ketuban mulai terbentuk pada usia kehamilan 4 minggu dan berasal dari sel darah ibu. Namun sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkan air seni. Sehingga terhitung sejak pertengahan usia kehamilan, air ketuban sebagian besar terbentuk dari air seni janin.Pada kehamilan normal, saat cukup bulan, air ketuban jumlahnya sekitar 1.000 cc.
E.  Emboli Air ketuban
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock. Dua 25%  wanita yang menderita keadaan ini meninggal dalam waktu 1 jam. Emboli cairan ketuban jarang dijumpai. Kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosis yang dibuat adalah shock obstetrik, perdarahan post partum atau edema pulmoner akut. Cara masuknya cairan ketuban Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical ( yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal ) dan daerah utero plasenta.Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli.
Menurut dr. Irsjad Bustaman, SpOG  Emboli air ketuban (EAK) adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen di sini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban  seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental. Emboli air ketuban atau EAK (Amniotic fluid embolism) merupakan kasus yang sangat jarang terjadi. Kasusnya antara 1 : 8.000 sampai 1 : 80.000 kelahiran. Bahkan hingga tahun 1950, hanya ada 17 kasus yang pernah dilaporkan. Sesudah tahun 1950, jumlah kasus yang dilaporkan sedikit meningkat.
EAK umumnya terjadi pada kasus aborsi, terutama jika dilakukan setelah usia kehamilan 12 minggu. Bisa juga saat amniosentesis (tindakan diagnostik dengan cara mengambil sampel air ketuban melalui dinding perut). Ibu hamil yang mengalami trauma / benturan berat juga berpeluang terancam EAK. Namun, kasus EAK yang paling sering terjadi justru saat persalinan atau beberapa saat setelah ibu melahirkan (postpartum). Baik persalinan normal atau sesar tidak ada yang dijamin 100% aman dari risiko EAK, karena pada saat proses persalinan, banyak vena-vena yg terbuka, yang memungkinkan air ketuban masuk ke sirkulasi darah ibu. Emboli air ketuban merupakan kasus yang berbahaya yang dapat membawa pada kematian. Bagi yang selamat, dapat terjadi efek samping seperti gangguan saraf.
F. Etiologi
Patofisiologi belum jelas diketahui secara pasti. Diduga bahwa terjadi kerusakan penghalang fisiologi antara ibu dan janin sehingga bolus cairan amnion memasuki sirkulasi maternal yang selanjutnya masuk kedalam sirkulasi paru dan menyebabkan :
a.       Kegagalan perfusi secara masif
b.      Bronchospasme
c.       Renjatan
d.      Multiparitas usia lebih dari 30 tahun
Shock yang dalam yang terjadi secara tiba - tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu multipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini (emboli cairan ketuban)
e.. Janin besar intrauteri
Menyebabkan rupture uteri saat persalinan, sehingga cairan ketubanpun dapat masuk melalui pembuluh darah.
f.  Kematian janin intrauteri
Juga akan menyebabkan perdarahan didalam, sehingga kemungkinan besar akan ketuban pecah dan memasuki pembuluh darah ibu, dan akan menyubat aliran darah ibu, sehingga lama kelamaan ibu akan mengalami gangguan pernapasan karena cairan ketuban menyubat aliran ke paru, yang lama kelamaan akan menyumbat aliran darah ke jantung, dengan ini bila tidak tangani dengan segera dapat menyebabkan iskemik bahkan kematian mendadak.
g. Menconium dalam cairan ketuban
h. Kontraksi uterus yang kuat
Kontraksi uterus yang sangat kuat dapat memungkinkan terjadinya laserasi atau rupture uteri, hal ini juga menggambarkan pembukaan vena, dengan pembukaan vena, maka cairan ketuban dengan mudah masuk ke pembuluh darah ibu, yang nantinya akan menyumbat aliran darah, yang mengakibatkan hipoksia, dispue dan akan terjadi gangguan pola pernapasan pada ibu.
j. Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi
Dengan prosedur operasi tidak jauh dari adanya pembukaan pembuluh darah, dan hal ini dapat terjadi ketuban pecah dan masuk ke pembuluh darah ibu.
G. Fisiologi
Ketuban (Amnion) manusia pertama kali dapat diidentifikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-8 perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion, berkembang menjadi sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal mudigah. Karena semakin membesar, amnion secara bertahap menekan mudigah yang sedang tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga amnion.
Cairan ketuban (amnion) pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri.
Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion.Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion.
Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion.Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada janin, seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion

H. Patofisiologi
Studi-studi pada primate dengan menggunakan injeksi cairan amnion homolog, serta study yang dilakukan secara cermat terhadap model kambing, menghasilkan penanaman yang penting tentang kelainan hemodinamik sentral (Adamsons dkk, 1971, Hankins dkk,1993, Stolte dkk, 1976). Setelah suatu fase awal hipertensi paru dan sistemik yang singkat, terjadi penurunan resistensi vaskuler sistemik dan indeks kerja pulsasi ventrikel kiri ( Clark dkk, 1988). Pada fase awal sering dijumpai desaturasi oksigen transient tetapi mencolok sehingga sebagian besar pasien yang selamat mengalami cedera neurologist (Harvey dkk, 1996). Pada wanita yang bertahan hidup melewati fase kolaps kardiovaskuler awal, sering terjadi fase sekunder berupa cedera paru dan koagulopati.
Keterkaitan hipertonisitas uterus dengan kolaps kardiovaskuler tampaknya lebih berupa efek daripada kausa emboli cairan amnion (Clark dkk, 1995). Memang aliran darah uterus berhenti total apabila tekanan intrauterine melebihi 35 sampai 40 mmHg (Towell, 1976). Dengan demikian . kontraksi hipertonik merupakan waktu yang paling kecil kemungkinannya terjadi pertukaran janin-ibu. Demikian juga, tidak terjadi hubungan sebab akibat antara pemakaian oksitosin dengan emboli cairan amnion dan frekuensi pemakaian oksitosin tidak meningkat pada para wanita ini (American College Of Obstetricians and Gynecologists, 1993).
Pathophysiology dari EAK yang kurang dipahami. Berdasarkan deskripsi awal, ia berteori bahwa cairan ketuban dan sel-sel janin memasuki sirkulasi ibu, mungkin memicu reaksi anafilaksis terhadap antigen janin. Namun, bahan janin tidak selalu ditemukan dalam sirkulasi ibu pada pasien dengan EAK, dan materi berasal dari janin yang sering ditemukan pada wanita yang tidak mengembangkan EAK.Perjalanan cairan amnion memasuki sirkulasi ibu tidak jelas, mungkin melalui laserasi pada vena endoservikalis selama diatasi serviks, sinus vena subplasenta, dan laserasi pada segmen uterus bagian bawah Kemungkinan saat persalinan, selaput ketuban pecah dan pembuluh darah ibu (terutama vena) terbuka. Akibat tekanan yang tinggi, antara lain karena rasa mulas yang luar biasa, air ketuban beserta komponennya berkemungkinan masuk ke dalam sirkulasi darah. Walaupun cairan amnion dapat masuk sirkulasi darah tanpa mengakibatkan masalah tapi pada beberapa ibu dapat terjadi respon inflamasi yang mengakibatkan kolaps cepat yang sama dengan syok anafilaksi atau syok sepsis.
Selain itu, jika air ketuban tadi dapat menyumbat pembuluh darah di paru-paru ibu dan sumbatan di paru-paru meluas, lama kelamaan bisa menyumbat aliran darah ke jantung. Akibatnya, timbul dua gangguan sekaligus, yaitu pada jantung dan paru-paru. Pada fase I, akibat dari menumpuknya air ketuban di paru-paru terjadi vasospasme arteri koroner dan arteri pulmonalis. Sehingga menyebabkan aliran darah ke jantung kiri berkurang dan curah jantung menurun akibat iskemia myocardium. Mengakibatkan gagal jantung kiri dan gangguan pernafasan. Perempuan yang selamat dari peristiwa ini mungkin memasuki fase II. Ini adalah fase perdarahan yang ditandai dengan pendarahan besar dengan rahim atony dan Coagulation Intaravakuler Diseminata ( DIC ). Masalah koagulasi sekunder mempengaruhi sekitar 40% ibu yang bertahan hidup dalam kejadian awal. Dalam hal ini masih belum jelas cara cairan amnion mencetuskan pembekuan. Kemungkinan terjadi akibat dari embolisme air ketuban atau kontaminasi dengan mekonium atau sel-sel gepeng menginduksi koagulasi intravaskuler.
I. Tanda gejala
Tanda dan gejala embolisme cairan amnion ( Fahy , 2001 ) antara lain :
        1. Hipotensi ( syok ), terutama disebabkan reaksi anapilactis terhadap adanya bahan – bahan air ketuban dalam darah terutama emboli meconium bersifat lethal.
  2. Gawat janin ( bila janin belum dilahirkan )
         3. Edema paru atau sindrom distress pernafasan dewasa.
          4.Henti kardiopulmoner
          5. Sianosis
6.Koagulopati
         7.Dispnea / sesak nafas yang sekonyong – konyongnya
       8.Kejang , kadang perdarahan akibat KID merupakan tanda awal.
J.Gambaran klinis
Shock yang dalam yang terjadi secara tiba – tiba tanpa diduga pada wanita yang proses persalinanya sulit atau baru saja menyelesaikan persalinan yang sulit . Khususnya kalau wanita itu mulipara berusia lanjut dengan janin yang amat besar , mungkin sudah meningal dengan meconium dalam cairan ketuban, harus menimbulkan kecurigaan, pada kemungkinan ini ( emboli cairan ketuban) .Jika sesak juga didahului dengan gejala mengigil yang diikuti dyspnea , vomitus , gelisah , dll disertai penurunan tekanan darah yang cepat serta denyut nadi yang lemah dan cepat .Maka gambaran tersebut menjadi lebih lengkap lagi . Jika sekarang dengan cepat timbul edema pulmoner padahal sebelumnya tidak terdapat penyakit jantung , diagnosa emboli cairan ketuban jelas sudah dapat dipastikan.
Pada uraian ini tidak ada lagi yang ditambahkan kecuali hasil pemeriksaan selanjutnya menunjukkan bahwa gambaran tersebut biasanya disertai kegagalan koagulasi darah pasien dan adanya perdarahan dari tempat plasenta.H. Pemeriksaan Diagnostik
1.  Gas darah arteri : pO2 biasanya menurun.
2.  Tekanan vena sentralis dapat meningkat, normal, atau subnormal tergantung pada kuantitas hilangnya darah. Darah vena sentralis dapat mengandung debris selular cairan amninon.
3. Gambaran koagulasi ( fibrinogen, hitung jumlah trombosit, massa protrombin, produk pecahan fibrin. Dan massa trombo[lastin parsial ) biasanya abnormal , menunjukkan DIC.
4.  EKG dapat memperlihatkan regangan jantung kanan akut.
5. Keluaran urin dapat menurun, menunjukkan perfusi ginjal yang tidak adekuat.
6.  Foto toraks biasanya tidak diagnostic tapi dapat menunjukkan infiltrate. Scan paru dapat memperlihatkan defek perfusi yang sesuai dengan proses emboli paru.
K. Penanganan
a. Penatalaksanaan primer bersifat suportif dan diberikan secara agresif.
1. Terapi krusnal , meliputi : resusitasi , ventilasi , bantuan sirkulasi , koreksi defek yang khusus ( atonia uteri , defek koagulasi )
2.  Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk mengkoreksi hipovolemia & perdarahan .
3. Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu penanganan atonia uteri.
4. Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea dan ancietas .
5.  Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskular dengan menghambat proses perbekuan
6.  Amniofilin ( 250 – 500 mg ) melalui IV mungkin berguna bila ada bronkospasme .
7. Isoproternol di berikan perlahan – lahan melalui Iv untuk menyokong tekanan darah sistolik kira – kira 100 mmHg
8. Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat .
9. 0ksigen selalu merupakan indikasi intubasi dan tekan akhir ekspirasi positif (PEEP) mungkin diperlukan .
10. Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma beku segar dan sedian trombosit.
b. Bila anak belum lahir, lakukan Sectio Caesar dengan catatan dilakukan setelah keadaan umum ibu stabil
c.. X ray torak memperlihatkan adanya edema paru dan bertambahnya ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan.
d. Laboratorium : asidosis metabolik ( penurunan PaO2 dan PaCO2)









BAB II
KASUS
Seorang ibu Y G1P0A0 Ah0 umur kehamilan 40  minggu, datang ke BPS Fitri pada tanggal 18-03-2012 mengeluh mulas pada perut seperti mau BAB dan ibu mengatakan sudah mengeluarkan bercak darah sejak tanggal 17-03-2013 pukul 14.00 WIB.













ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
NY. “Yessi” UMUR 24 TAHUN G1 P0 A0 AH0 UK 40 MINGGU
DI BPM Fitri, Amd.Keb
MUNDU SAREN,SLEMAN,YOGYAKARTA
No. Register                : 123/11/2012
Tanggal/Jam Masuk    : 18-03-2013/ 15.00 WIB
Tempat                        : Ruang Periksa
I. PENGKAJIAN DATA  Tanggal/Jam:18-03-2013/15.00 WIB  Oleh:Bidan       
A.DATA SUBYEKTIF
1.      Identitas
Ibu                                       Suami
            Nama               : Ny. “Y”                                 Tn. “S”
            Umur               : 24 tahun                                25 tahun
            Agama             : Islam                                      Islam
            Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia                      Jawa/Indonesia
            Pendidikan      : DIII                                       S1
            Pekerjaan        : IRT                                        Karyawan Swasta
            Alamat             : Mundu Saren,Sleman            Mundu Saren,Sleman
            No. Telp          : 085266017550                      085266017550
2.      Alasan Kunjungan
Ibu mengatakan ingin BAB
3.      Keluhan Utama
Ibu mengatakan mengeluh mulas dan ibu mengatakan sudah mengeluarkan bercak darah sejak tanggal 17-03-2013 pukul 14.00 WIB.
4.      Riwayat Menstruasi
Menarche    : 14 tahun                                Siklus  : 28 hari
Lama           : 5-6 hari                                  Teratur :  Teratur 
Sifat Darah : Cair (khas menstruasi)           Keluhan : Tidak ada
5.      Riwayat Perkawinan
Status pernikahan   : Menikah                    Menikah ke     : Pertama
Lama                       : 1 tahun                      Usia menikah pertama kali : 23 tahun
6.      Riwayat Obstetrik : G1 P0 A0
Hamil ke
Persalinan
Nifas
Tanggal
Umur kehamilan
Jenis persalinan
Penolong
komplikasi
JK
BB lahir
Laktasi
Komplikasi
Hamil ini






















7.      Riwayat kontrasepsi yang digunakan
No
Jenis
kontrasepsi
Pasang
Lepas
Tanggal
oleh
tempat
Keluhan
tanggal
oleh
Tempat
keluhan
Ibu mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi apapun.





















8.      Riwayat Kehamilan sekarang
a.       HPHT   : 11-06-2012                                        HPL     : 18-03-2013
b.      ANC pertama umur kehamilan             : 6 minggu
c.       Kunjungan ANC                                              UK      :40 minggu
Trimester I :      Frekuensi         : 3 x
Tempat            : BPS  
Oleh               : Bidan
Keluhan         : Mual
Terapi            : B6, Calk
Trimester II :     Frekuensi         : 5 x
Tempat            : BPS  
Oleh               : Bidan
Keluhan         : Tidak ada
Terapi            : Fe, Calk
Trimester III :    Frekuensi         : 3 x
Tempat            : BPS  
Oleh               : Bidan
Keluhan         : Tidak ada
Terapi            : Fe, kalk, vit C
d.      Imunisasi TT
TT 1 : Usia kehamilan 16 minggu
TT 2 : Usia kehamilan 21 minggu
e.       Pergerakan Janin dalam 12 jam (dalam sehari)
Ibu mengatakan merasakan gerakan janin lebih dari 10 kali dalam 24 jam.
9.      Riwayat Kesehatan
a.       Penyakit yang pernah/sedang diderita (menular, menurun, dan menahun)
Ibu mengatakan tidak pernah/sedang menderita penyakit menular (Hepatitis,HIV/AIDS,TBC), menurun (DM, Kanker, Hipertensi), Menahun (Jantung, Hati, Ginjal).
b.      Penyakit yang pernah/sedang diderita keluarga (menular,menurun, dan menahun)
Ibu mengatakan dari pihak keluarga ibu maupun keluarga suami
tidak pernah/sedang menderita penyakit menular (Hepatitis,HIV/AIDS,TBC), menurun (DM, Kanker, Hipertensi), Menahun (Jantung, Hati, Ginjal).
c.       Riwayat keturunan kembar
Ibu mengatakan tidak mempunyai keturunan kembar baik dari pihak keluarga ibu maupun keluarga suami.
d.      Riwayat Operasi
Ibu mengatakan tidak pernah operasi apapun
e.       Riwayat Alergi Obat
Ibu mengatakan tidak mempunyai alergi obat apapun
10.  Pola Pemenuhan Kebutuhan sehari-hari
Sebelum Hamil                      Setelah Hamil
a.       Pola Nutrisi
-          Makan
Frekuensi    : 3  x/hari                                 4-5  x/hari
Porsi           : 1 piring                                  1 piring
Jenis            : Nasi, sayur, lauk                    Nasi, sayur, lauk
Pantangan   : Tidak ada                              Tidak ada
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
-          Minum
Frekuensi    : 5 - 7 x/hari                             8 - 9 x/hari
Porsi           : 1 gelas                                   1 gelas
Jenis            : Air putih, teh                         Air putih, susu
Pantangan   : Tidak ada                              Tidak ada
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
b.      Pola Eliminasi
-          BAB
Frekuensi    : 1 x/hari                                  1 x/hari
Konsistensi : Lunak                                    Lunak
Warna         : Kuning                                  Kuning
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
-          BAK
Frekuensi    : 6 -7 x/hari                              7 - 8 x/hari
Konsistensi : Cair                                       Cair
Warna         : Kuning jernih                        Kuning jernih
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
c.       Pola Istirahat
-          Tidur siang
Lama           : 1  jam/hari                             1  jam/hari
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
-          Tidur malam
Lama           : 6-7 jam/hari                           7-8 jam/hari
Keluhan      : Tidak ada                              Tidak ada
d.      Personal hygiene
Mandi               : 2 x/hari                                  2  x/hari
Ganti pakaian   : 2 x/hari                                  2 x/hari
Gosok gigi        : 2 x/hari                                  2 x/hari
Keramas           : 3 x/minggu                            3 x/minggu
e.       Pola seksualitas
Frekuensi          : 3 x/minggu                            1  x/minggu
Keluhan            : Tidak ada                              Tidak ada
f.        Pola aktifitas ( terkait kegiatan fisik, olah raga )
Ibu mengatakan tidak beraktifitas di luar rumah, kecuali mengikuti arisan dan mengerjakan pekerjaan rumah tangganya
g.      Pola pemenuhan kebutuhan terakhir
Makan, tanggal 18-03-2013, pukul 13:00 WIB, jenis nasi,sayur, dan lauk
Minum, tanggal 18-03-2013, pukul 14:00 WIB, jenis: air putih
BAK, tanggal 18-03-2013, pukul 14:30 WIB
BAB, tanggal 18-03-2013, pukul 14:45 WIB
Istirahat/tidur, tanggal 18-03-2013, lama 4 jam                                   
11.  Kebiasaan yang mengganggu kesehatan (merokok, minum jamu, minuman beralkohol)
Ibu mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan seperti merokok,minum jamu,minuman beralkohol.

12.  Psikososiospiritual (penerimaan ibu/suami/keluarga terhadap kehamilan, dukungan sosial, perencanaan persalinan, pemberian ASI, perawatan bayi, kegiatan ibadah, kegiatan sosial, dan persiapan keuangan ibu dan keluarga)
-          Ibu, suami, dan keluarga sangat senang dengan kehamilannya.
-          Ibu beragama islam dan rajin beribadah
-          Ibu mengatakan hubungan dengan suamu, keluarga, dan tetangga terjalin dengan baik.
-          Ibu mengatakan ingin melahirkan diBPS dibantu oleh bidan.
-          Ibu berencana merawat bayinya sendiri dan akan memberikan ASI eksklusif.
-          Ibu dan suami sudah mempersiapkan biaya untuk persiapan persalinan.
13.  Pengetahuan ibu (tentang kehamilan, persalinan, dan laktasi)
Ibu mengatakan belum terlalu mengetahui tentang kehamilan, persalinan, dan laktasi karena baru pertama kali hamil.
14.  Lingkungan yang berpengaruh (sekitar rumah dan hewan peliharaan)
Ibu mengatakan lingkungan di sekitar ruah bersih, dan ibu tidak mempunyai hewan peliharaan apapun.
B. DATA OBYEKTIF
1.           Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum     : Baik              
Kesadaran               : Composmentis          
Status Emosional    : Stabil
Vital Sign
       Tekanan Darah : 110/70  mmHg                     Nadi    :81x/menit
       Pernafasan       : 21      x/menit                       Suhu    : 37,2 °C
       Berat badan     : 53     kg                                Tinggi badan   :158cm
2. Pemeriksaan Fisik
1). Kepala     :Mesocephal,tidak ada Massa/benjolan, tidak ada nyeri tekan,          Warna kulit Putih bersih.
2). Rambut  : Lurus, rambut tidak berbau, warna rambut hitam                
3).  Muka     : Oval, tidak ada oedem, tidak ada cloasma gravidarum
4). Mata        :Simetris, konjungtiva merah muda, sklera tidak ikterik, bersih,tidak ada sekret
5). Hidung   :tidak ada polip, tidak ada infeksi, idak ada serumen
6). Mulut     :keadaan bibir  lembab, tidak ada caries, gusi tidak ada perdarahan dan tidak ada pembengkakan, lidah bersih.
7). Telinga     :simetris, lubang telinga ada, tidak ada tanda infeksi, ada gendang telinga, terdapat sedikit serumen, pendengaran baik.
8). Leher        :tidak ada Pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada Pembesaran kelenjar limfe, tidak ada Pembesaran kelenjar parotis, tidak ada Pembesaran vena jugularis.
9). Dada        : simetris, tidak ada mengi, tidak ada retraksi dinding dada
10). Payudara:Simetris, ada hiperpigmentasi, tidak ada massa, ada pembesaran, puting susu menonjol.          
10). Abdomen:tidak ada bekas luka, Linea nigra tidak ada, striae gravidarum ada.                       
a. Palpasi Leopold
-          Leopold I
Pada bagian fundus teraba bulat, lunak yaitu bokong janin
-          Leopold II
Bagian kanan ibu teraba panjang, datar, memanjang seperti papan, keras yaitu punggung janin
Bagian kiri ibu teraba kecil-kecil, yaitu ekstremitas janin.
-          Leopold III
Bagian terendah teraba bulat, keras, susah digerakkan, yaitu kepala janin.
-          Leopold IV
Tangan pemeriksa tidak bertemu (Divergen) bagian terendah janin sudah masuk panggul.
a.       Osborn test                                                : Tidak dilakukan
b.      TFU menurut Mc. Donald             : 31 cm,
TBJ                                                : (31-11)x155=3100 gram
c.       Auskultasi DJJ                               : 148 x/menit, irama teratur kuat
11). Ekstremitas atas
Simetris, jumlah jari lengkap, gerakan aktif, tidak sianosis,tidak odema, LILA = 27cm
Ekstremitas bawah
Simetris, jumlah jari lengkap, gerakan aktif, tidak sianosis, tidak odema, reflek patella (+)
12). Genetalia
Tidak ada odema, tidak ada pembesaran kelenjar bartolini, tidak ada tanda-tanda infeksi.
13). Anus                : Tidak ada haemorroid
14). Pemeriksaan panggul (bila perlu)        : Tidak dilakukan
15). Pemeriksaan dalam      Tanggal:                      ,Pukul: WIB
            Indikasi:keluar air ketuban dan kencang-kencang teratur
            Tujuan:untuk mengetahui ibu sudah masuk persalinan atau belum
            Hasil:Vulva uretra tenan, didnding vagina licin,porsio tipis, pembukaan 7 cm, selaput ketuban (-), air ketuban jernih, persentasi kepala, UUK jam 10:00,
3. Pemeriksaan Penunjang      Tanggal :                     , Jam :              WIB
Tidak dilakukan
4.      Data Penunjang
Tidak ada
II. INTERPRETASI DATA
A.    Diagnosa Kebidanan
Seorang ibu Ny.”R” G1P0A0Ah0 umur 24 tahun UK 40 minggu janin tunggal, hidup, intra uteri dengan persalinan kala I.
DS      : Ibu mengatakan berusia 23 tahun
Ibu mengatakan ini kehamilan pertama
Ibu mengatakan HPHT tanggal 11-06-2012
Ibu mengatakan keluar darah segar dari kemaluannya saat beraktivitas dan ibu tidak merasakan nyeri.
DO    : KU                : baik
  Kesadaran     : composmentis
Vital sign       :TD      : 110/70 mmHg           N         : 81 x/menit
S          : 37,2 °C                     RR       : 21 x/menit
Px. Leopold       : Leopold I       : TFU 3 jari bawah px, teraba bokong
Leopold II      : PUKA
Leopold III     : Kepala
Leopold IV    : Divergen
DJJ                  : 148X/menit, irama teratur, kuat
Kontraksi         :3x dalam 10 menit selama 30 detik
TFU mc Donald: 31 cm          TBJ : 3100 gram
VT      :Vulva uretra tenan, didnding vagina licin,porsio tipis,  pembukaan 7 cm, selaput ketuban (-), air ketuban jernih, persentasi kepala, UUK jam 10:00,

B.     Masalah :
Ibu cemas menghadapi persalinan.
Data Subjektif :
Ibu mengatakan takut menghadapi persalinan.
Data Objektif :
Ibu terlihat kesakitan.
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL
            Tidak ada
IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
A.        Mandiri
Melakukan pemasangan infus
B.     Kolaborasi
Tidak ada
B.         Merujuk
Melakukan rujukan
V. PERENCANAAN           Tanggal : 18-03-2013  Jam:15.00WIB   Oleh:Bidan
1.    Beritahu ibu dan keluarga seluruh hasil pemeriksaan
2.    Beritahu ibu dan keluarga tentang diagnosa penatalaksanaan
3.    Ajukan informed consent
4.    Jelaskan kepada ibu tentang proses persalinan dan apa yang akan terjadi pada proses persalinan.
5.    Siapkan alat-alat persalinanan, obat esensial, APD, perlengkapan ibu dan bayi.
6.    Ajarkan ibu tentang teknik relaksasi dan meneran
7.    Hadirkan suami atau keluarga untuk mendampingi ibu selma proses persalinan untuk memotivasi Ibu.
8.    Berikan ibu nutrisi dan cairan
9.    Dokumentasi seluruh hasil tindakan dan hasil pemeriksaan

VI. PELAKSANAAN          Tanggal : 18-03-2013  Jam:15.00WIB   Oleh:Bidan
1.         Memberitahukan ibu dan keluarga seluruh hasil pemeriksaan bahwa ibu dan bayi dalam keadaan baik,bagian terendah janin sudah masuk PAP 2 per 5 bagian, pembukaan 9 cm, lendir bercampur darah sudah keluar dati vagina.
2.         Memberitahukan ibu dan keluarga bahwa ibu sudah memasuki proses persalinan.
3.         Mengajukan informed consent pada suami untuk ditandatangani sebagai bukti bahwa keluarga menyetujui tindakan yang akan dilakukan.
4.         Menjelaskan kepada ibu tentang proses persalinan dimana dalam proses ini bagian yana pertama lahir adalah kepala, diikuti badan, tangan, dan kaki. Proses ini dibutuhkan tenaga untuk mengedan dari ibu karena itu, anjurkan suami untuk menemani ibu untuk dukungan psikologis ibu.
5.         Menyiapkan dan mendekatkan alat-alat persalinan, obat esensial, APD, perlengkapan ibu dan bayi serta tempat persalinan.
6.         Mengajarkan ibu teknik relaksasi yaitu mengurangi rasa sakit dengan cara tarik napas panjang lalu dikeluarkan melalui mulut. Mengajarkan ibu teknik meneran yaitu kedua tangan dimasukkan diantara kedua lipatan paha, masina-masing kiri dan kanan hingga lipatan siku dan anjurkan ibu untuk meneran jika ada his dengan kedua rahang bertemu dan mata terbuka serta berikan ibu pilihan posisi yang nyaman.
7.         Menghadirkan suami/keluarga untuk mendampingi ibu dan memberikan ibu dukungan serta semanagt serta memberikan nutrisi apda saat relaksasi.
8.         Anjurkan suami/keluarga menyiapkam asupan nutrisi dan caiaran. Berikan pada ibu untuk mempertahankan energi yang cukup selama proses persalinan berlangsung
9.         Mendokumentasikan seluruh hasil pemeriksaan dan tindakan
VII. EVALUASI       Tanggal : 18-03-2013,             Jam:16.30 WIB,   Oleh:Bidan
1.         Ibu sudah mengerti seluruh hasil tindakan dan ibu dapat menerimanya
2.         Ibu dan keluarga sudah mengert penjelasan Bidan
3.         Ibu bersedia melakukan teknik rileksasi dan meneran yang baik
4.         Informed consent sudah ditanda tangani oleh suami
5.         Semua persiapan peralatan telah disediakan
6.         Suami bersedia mendampingi ibu selam proses persalinan
7.         Ibu termotivasi mengkonsumsi nutrisi dan cairan yang cukup
8.         Seluruh hasil pemeriksaan dan tindakan telah didokumentasikan.
9.         Sudah dilakukan dokumentasi.


PERKEMBANGAN
KALA II
A.      DATA SUBJEKTIF      Tanggal :18-03-2013,            Pukul :16:30 WIB
Ibu mengatakan mules makin bertambah dan semakin kuat.
Ibu merasa dan mengatakan bahwa dia merasa adanya tekanan pada anus.
Ibu mengatakan adanya dorongan untuk meneran
B.       DATA OBJEKTF         Tanggal :18-03-2013,            Pukul :16:30 WIB
Keadaan Umum   : Baik
Kesadaran                        : Composmentis
·         Vital sign
TD: 110/70 mmHg                       S: 36,5°C
R: 21 x/menit                                N: 80x/menit
·         Inspeksi
Tekanan pada anus, perinium menonjol, vulva membuka.
·         Auskultasi
DJJ : 144 x/menit dengan irama teratur.
·         Palpasi
His : 5x/10 menit lamanya 45 detik, kuat dan teratur
·         Pemeriksaan Dalam
Indikasi     :keluar air ketuban dan kencang-kencang teratur
Tujuan      :untuk mengetahui ibu sudah masuk persalinan atau belum
Hasil         :Vulva uretra tenan, didnding vagina licin,porsio tidak teraba, pembukaan 10 cm, selaput ketuban (-), air ketuban jernih, persentasi kepala, penueunan kepala hodge III, UUK jam 12:00,
C.      ASESSMENT    Tanggal :18-03-2013,                        Pukul :16:30 WIB
1.      Diagnosa Kebidanan
Seorang ibu Ny.”R” G1P0A0Ah0 umur 23 tahun UK 39+5 minggu dalam persalinan kala II.
Data Subjektif:
            Ibu mengatakan berumur 23 tahun
            Ibu mengatakan ini kehamilan pertama
            Ibu mengatakan tidak pernah kekuguguran
            Ibu mengatakan HPHT tanggal 11-06-2012
Data Objektif:
·         Inspeksi
Tekanan pada anus, perinium menonjol, vulva membuka.
·         Auskultasi
DJJ : 144 x/menit dengan irama teratur.
·         Palpasi
His : 5x/10 menit lamanya 45 detik, kuat dan teratur
·         Pemeriksaan Dalam
Indikasi     :keluar air ketuban dan kencang-kencang teratur
Tujuan      :untuk mengetahui ibu sudah masuk persalinan atau belum
Hasil         :Vulva uretra tenan, didnding vagina licin,porsio tidak teraba, pembukaan 10 cm, selaput ketuban (-), air ketuban jernih, persentasi kepala, penueunan kepala hodge III, UUK jam 12:00,
2.      Diagnosa Masalah
Tidak ada
D. PENATALAKSANAAN            Tanggal :18-03-2013,            Pukul :16:30 WIB
1.        Memberitahu kepada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan yaitu ibu akan segera melahirkan, pembukaan sudah lengkap (10 cm) dan ibu sudah masuk masa persalinan. Ibu sudah menetahui hasil pemeriksaan bahwa ibu sudah masuk masa persalinan.
2.        Menjaga privasi Ibu, memperbolehkan keluarga untuk mendampingi saat proses persalinan.
3.        Mengatur posisi ibu setengah duduk dan ibu sudah memilih posisi setengah duduk.
4.        Mendekatkan peralatan, mengenakan APD
5.        Memberikan ibu cairan, teh manis hangat untuk menambah tenaga ibu.
6.        Memimpin ibu untuk meneran saat ada his dengan cara tarik napas panjang lewat hidung dan keluarkan lewat mulut pada saat meneran dan kepala ibu mendekati ke dagu, mata ke arah perut serta kedua gigi dikatup seperti ingin BAB.
7.        Menolong persalinan sesuai 58 langkah APN
8.        Tanda gejala kala II: dorongan ingin meneran, tekanan pada anus, perinium menonjol, vulva membuka.
9.        Meminta keluarga untuk membantu proses meneran.
10.    Membimbing ibu untuk meneran.
11.    Persiapan pertolongan kelahiran bayi.
12.    Pasang handuk diatas perut ibu.
13.    Pakai sarung tangan
14.    Pasang kain 1/3 pada bokong ibu.
15.    Lindungi perinium ibu.
16.    Mengecek apakah ada lilitan tali pusat.
17.    Menunggu bayi melakukan putaran paksi luar.
18.    Tangan biparietal untuk melahirkan bahu.
19.    Sangga bahu bayi
20.    Susuri badan bayi sampai ketungkai
21.    Menilai sepintas bayi lalu letakkan diatas perut ibu.
22.    Mengeringkan dan menghangatkan bayi, meletakkan bayi di atas perut ibu lalu memotong tali pusat.
23.    Melakukan Inisiai Menyusu Dini.




PERKEMBANGAN
KALA III
A.      DATA SUBJEKTIF,     Tanggal:21-11-2012, Pukul:17:00 WIB
 Ibu mengeluh masih mules-mules
Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayi
B.     DATA OBJEKTIF,       Tangggal:21-11-2012,                       Pukul:17:00 WIB
Bayi lahir spontan, jenis kelamin laki-laki, menangis kuat, kulit kemerahan, plasenta pelum lahir, uterus teraba bulat dan keras, TFU setinggi pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong.
ku: baik, kesadaran: compos mentis, keadaan emosional: stabil
TD: 110/70 mmhg, N: 80 x/menit, Rr: 21 x/menit, S: 36, 7 oc
Adanya tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu adanya semburan darah tiba-tiba, tali pusat semakin memanjang, bentuk uterus globuler. Bayi IMD.
C.    ASESSMENT                Tangggal:21-11-2012,           Pukul:17:00 WIB
1.         Diagnosa Kebidanan
Seorang ibu Ny.”R” P1A0Ah1 dalam inpartu kala III.
Data Subjektif:
Ibu mengatakan merasa lega karena bayinya telah lahir dan ibu mengatakan perutnya masih terasa mules.
Data Objektif:
Bayi lahir spontan, , jenis kelamin laki-laki, menangis kuat, kulit kemerahan, plasenta pelum lahir, uterus teraba bulat dan keras, TFU setinggi pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong.
2.         Diagnosa Masalah
Tidak ada
D. PENATALAKSANAAN                        Tanggal:21-11-2012  Pukul:17:00 WIB
1.      Mengecek tinggi fundus uteri untuk memastikan janin tunggal. Memberitahu ibu bahwa ibu akan disuntik oksitosin untuk membantu kontraksi. Menyuntikan oksitosin 10 IU secara IM di 1/3 atas paha kanan bagian luar
f.        mengosongkan kadung kemih dengan kateter.
g.      memindahkan klem dekat dengan vulva, melakukan penegangan tali pusat terkendali dengan tangan kanan dan tangan kiri melakukan penekanan uterus secara hati-hati kearah dorso cranial. à Plasenta tampak di vulva lalu melahirkan plasenta sesuai sumbu jalan lahir, menangkap plasenta lalu diputar dengan lembut searah jarum jam hingga selaput ketuban terpilin jadi satu.
h.      Plasenta lahir Spontan. Kotiledon lengkap dan selaput ketuban bisa disatukan.
i.        Masase fundus. Kontraksi bagus dan teraba keras TFU 1 jari di bawah pusatà
j.        Memeriksa laserasià laserasi di vagina dan perineum rupture derajat 2.
k.      Menyiapkan heating set dan mengganti underpad
l.        Evaluasi KU: lemah, CM. Lama kala III 10 menit. Perdarahan ±60 cc


PERKEMBANGAN
KALA IV
A.      DATA SUBJEKTIF      Tanggal: 21-11-2012,           Pukul: 17.15 WIB
Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayinya
Ibu mengatakan perutnya masih mules dan lemah
Ibu merasa kotor dan basah.
B.       DATA OBJEKTIF        Tanggal: 21-11-2012,            Pukul: 17.15 WIB
KU                                   : baik,                        
kesadaran                         : compos mentis
keadaan emosional           : stabil                          R: 22x/menit, S: 36,7oC
TD                                    : 100/70 mmhg,           N                     : 82x/menit,
TFU 2 jari bawah pusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan (+), robekan perineum derajat 2 (Robekan mengenai mukosa vagina, jaringan ikat, dan otot dibawahnya tetapi tidak menenai spingter ani)
C.      ASESSMENT    Tanggal: 21-11-2012,            Pukul: 17.15 WIB
1.      Diagnosa Kebidanan
Seorang ibu Ny.”R” umur 23 tahun P1 A0 Ah1 dalam persalinan kala IV dengan robekan Perineum terajat 2.
Data Subjektif:
Ibu mengatakan lemas dan perunya masih terasa mulas.
Data Objektif:
Kontraksi baik (keras), TFU 2 jari di bawah pusat, perdarahan 150 cc
2.      Diagnosa Masalah
Tidak ada
D.   PENATALAKSANAAN          Tanggal: 21-11-2012 Pukul: 17.15 WIB
1.      rujuk  dengan pemberian oksigen dan  infus dengan jarum besar (16-18) RL atau NS. Infuskan 1 L dalam 15 sampai 20 menit, jika mungkin infuskan 2 liter dalam 1 jam











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah sejumlah cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba terjadi gangguan pernafasan yang akut dan shock. Cara masuknya cairan ketuban Dua tempat utama masuknya cairan ketuban kedalam sirkulasi darah maternal adalalah vena endocervical (yang dapat terobek sekalipun pada persalinan normal) dan daerah utero plasenta.Ruputra uteri meningkat kemungkinan masuknya cairan ketuban. Abruption plasenta merupakan peristiwa yang sering di jumpai, kejadian ini mendahului atau bersamaan dengan episode emboli. Etiologinya Kematian janin intrauteri, Janin besar intrauteri, Multiparitas dan  Usia lebih dari 30 tahun. Insidensi yang tinggi kelahiran dengan operasi, Menconium dalam cairan ketuban, Kontraksi uterus yang kuat.
Ketika emboli cairan ketuban terjadi, maka akan terjadi penyumbatan aliran darah ibu, lama-kelamaan akan mengalami penumbatan diparu, bila meluas akan terjadi penyumbatan aliran darah ke jantung, hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan di jantung, dan dapat menyebabkan kematian, terutama pada wanita yang sudah tua.Perdarahan juga bisa terjadi, akibat emboli cairan ketuban, sehingga pasien akan mengalami kekurangan volume cairan akibat perdarahan, jika tidak diatasi segera, pasien dapat mengalami syok.
Saran
Dengan makalah ini penulis berharap, mahasiswa dapat memahami konsep teori beserta asuhan kebidanan emboli cairan ketuban, meskipun emboli cairan ketuban jarang ditemukan, namun sebagai tim medis harus tetap waspada akan terjadinya emboli cairan ketuban, sehingga secara tidak langsung dapat mengurango mortalitas ibu dan bayi.

DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arief dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta : Media Ascula Plus.
Prof. Dr.dr.Gulardi, Hanifa.Winkjosastro, SPOG. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
BambangWidjanarko,2009.emboli-air-ketuban http://reproduksiumj.blogspot.com
Midwiferyeducator,2010.Emboli-Cairan-Amnion-Eca http://Midwiferyeducator.Wordpress.Com
Aini, 2011. emboli-cairan-ketuban. http://ainicahayamata.wordpress.com
Emir Fakhrudin, 2009. fisiologi-dan-patologi-cairan-amnionhttp://www.emir-fakhrudin.com