Minggu, 12 Mei 2013

MATERI MANAJEMEN KEUANGAN


NILAI UANG TERKAIT DENGAN WAKTU
(Time Value Of Money)

1. Pengertian

Dunia bisnis adalah aktivitas uang sebagai. Kapital akhir periode (K2) harus lebih besar dari pada kapital awal periode (K1), itu artinya bisnis memperoleh laba, atau dapat dikatakan bahwa K1 adalah nilai uang sekarang (present value) & K2 adalah nilai uang di masa mendatang (future value).

Jembatan yg menghubungkan K1 & K2 adalah tingkat bunga. Dengan demikian, time value of money berhubungan erat dengan perhitungan bunga, hasil investasi di masa mendatang, & nilai tunai hasil investasi. Ia menjadi alat penting dalam berbagai keputusan keuangan terutama dalam menilai :
1.       arus kas, pertumbuhan, & nilai perusahaan
2.       nilai akan datang (future value)
3.       periode ganda ( multiple periode)


2. Nilai Uang Masa Mendatang

Nilai uang di masa mendatang (future value) ditentukan oleh tingkat suku bunga tertentu yang berlaku di pasar keuangan. Misalnya suku bunga di pasar keuangan adalah 10% per tahun. Nilai uang masa mendatang dapat dihitung sbb pada table 2.1


Table 2.1
Perhitungan nilai uang masa mendatang berdasarkan
Tingkat bunga 10% per tahun
(Perhitungan dalam Rupiah)

Tahun
(1)
Jumlah nilai tunai
Pada awal tahun
(2)
Bunga yang diperoleh
(1) x (0.10)
(3)
Jumlah nilai masa mendatang pada akhir tahun
(1) x (1+ 0,10)
FVr,n
1
2
3
4
5
1.000,00
1.100,00
1.210,00
1.331,00
1.464,00
100,00
110,00
121,00
133,10
146,41
1.100,00
1.210,00
1.331,00
1.464,10
1.610,51

Keterangan : FV = Future Value (nilai masa mendatang); r = Tigkat bunga; n = tahun(periode waktu)







Table 2.2
Faktor Bunga untuk Nilai Masa Mendatang
Periode
(n)
FVIFr,n = (1 + r )n
0 %
5 %
10 %
15 %
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0000
1.0500
1.1025
1.1576
1.2155
1.2763
1.3401
1.4071
1.4775
1.5513
1.6289
1.1000
1.2100
1.3310
1.4641
1.6105
1.7716
1.9487
2.1436
2.3579
2.5937
1.1500
1.3225
1.5209
1.7490
1.0114
2.3131
2.6600
3.0590
3.5179
4.0456

Keterangan : FV = Future Value (nilai masa mendatang); r = Tigkat bunga; n = tahun(periode waktu)

Tingkat Bunga 5%
Rp 1 pada awal tahun akan menjadi Rp 1,0500 pada akhir tahun ke 1 dan menjadi Rp 1,6289 pada akhir tahun ke 10

Tingkat Bunga 10%
Rp 1 pada awal tahun akan menjadi Rp 1,1000 pada akhir tahun ke 1 dan menjadi Rp 2,5937 pada akhir tahun ke 10
Tingkat Bunga 15%
Rp 1 pada awal tahun akan menjadi Rp 1,1500 pada akhir tahun ke 1 dan menjadi Rp 4,0456 pada akhir tahun ke 10

Makin tinggi tingkat bunga, makin tinggi nilai uang dimasa mendatang. Oleh sebab itu, kaum pemilik uang (kaum Kapitalis) pola pikir dan perilakunya bertumpu pada tingkat suku bunga. Jika tingkat bunga tinggi, ia akan membungakan uangnya atau mendepositokan uangnya, dan jika suku bunga rendah, ia akan meminjam uang untuk aktivitas bisnis.


3. Nilai Sekarang (Present Value)

Nilai sekarang ialah nilai saat ini pada proyeksi uang kas masuk bersih (net cash flow) di masa mendatang. Uang kas masuk bersih di masa mendatang adalah proyeksi hasil investasi. Rumusnya yaitu :
1.       Laba bersih ( Earning After Tax) + (Penyusutan Aktiva Tetap) + [Bunga X (1-Tax)] atau disingkat EAT + Depreciation + Interest(1-T)
2.       Laba Oprasi (Earning before Interest & Tax Atau EBIT) X (1-Tax) + Penyusutan aktiva Tetap, atau disingkat EBIT (1-T) + Depreciation.
3.       Laba sebelum penyusutan,Bunga, dan pajak (atau Earning before depreciation, Interest, and Tax atau EBIT atau EBITDA) X (1-Tax) + ( Tax X Depreciation) atau disingkat EBIT atau EBITDA (1-T) + T(Dep.)1

Suatu investasi dapat diterima hanya jika investasi itu menghasilkan paling tidak sama dengan tingkat hasil investasi di pasar (atau Rm) yang jharus lebih besar dari pada tingkat bunga deposito (tingkat hasil tanpa resiko (atau Rf). Misalnya tingkat hasil pasar 20 %, itu lazim disebut “ Tingkat Diskonto” artinya alat untuk mengitung nilai tunai dari suatu hasil investasi di masa mendatang.

Misal, investasi pada awal tahun Rp 1000, pada akhir tahun nilainya harus sebesar Rp 1200 pada tingkat diskonto 20%. Inilah yang disebut nilai masa mendatang (future Value). Sebaliknya, jika di masa mendatang akan menerima Rp 1200 pada tingkat diskonto 20% maka nilai sekarangnya adalah sebesar Rp 1000.
Table 2.3
Nilai sekarang dari factor bunga

PVIFr,n =      1                    = {(1 / 1 + r)}n
                      (1 + r)n


 Periode    
    (n)
Rate
0%
5%
10%
15%
     1
     2
     3
     4
     5
     6
     7
     8
     9
    10
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
1,000
0,9524
0,9070
0,8638
0,8227
0,7835
0,7462
0,7107
0,6768
0,6446
0,6139
0,9091
0,8264
0,7513
0,6830
0,6209
0,5645
0,5132
0,4665
0,4241
0,3855
0,8696
0,7561
0,6575
0,5718
0,4972
0,4323
0,3759
0,3269
0,2843
0,2472

Keterangan tabel 2.3
1)       PVIF = Present Value of Interest Factor (Nilai Sekarang dari Faktor Bunga)
2)       Nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke 1) = Rp 1, nilai tunainya pada awal tahun ke 1 = Rp 0,9524, sedangkan  nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke 10) = Rp 1, nilai tunainya saat ini pada awal tahun ke 1 = Rp 0,6139, pada tingkat suku bunga 5% per tahun.
3)       Nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke 1) = Rp 1, nilai tunainya pada awal tahun ke 1 = Rp 0,9091, sedangkan nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke 10) = Rp 1, nilai tunainya saat ini pada awal tahun ke 1 = Rp 0,3855, pada tingkat suku bunga 10% per  tahun.
4)       Nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke1) = Rp 1, nilai tunainya pada awal tahun ke 1 = Rp 0,8696, sedangkan nilai uang masa mendatang (akhir tahun ke 10) = Rp 1, nilai tunainya saat ini pada awal tahun ke 1 =Rp 0,2472, pada tingkat suku bunga 15% per tahun.
5)       Makin tinggi tingkat suku bunga, makin kecil nilai uang sekarang pada rencana penerimaan uang di masa depan.


4. ANUITAS

Anuitas adalah serangkaian pembayaran atau penerimaan uang dalam jumlah yang sama besarnya sepanjang periode tertentu. Pembayaran atau penerimaan dapat terjadi pada awal tahun atau pada akhir tahun.


4.1 Nilai yang Akan Datang dari Suatu Anuitas

Nilai yang Akan Datang dari Anuitas Biasa (Pembayaran atau penerimaan dilakukan pada akhir tahun).
Tabel 2.4
Nilai yang akan datang anuitas biasa, @ 10%

                                Terima/Bayar                Anuitas                        Nilai
    Tahun                        (Rp)                          @ 10%                        (Rp)
Awal tahun       
Akhir tahun 1                 1.000            a(1+r)2 = 1.000(1+0,10)n-1        1.210
Akhir tahun 2                 1.000            a(1+r)1 = 1.000(1+0,10)n-2        1.100
Akhir tahun 3                 1.000            a(1+r)0 = 1.000(1+0,10)n-3        1.000
Nilai yang Akan Datang Anuitas @ 10% atas Rp 1.000                      3.310

4.2 Nilai yang Akan Datang dari Jatuh Tempo Anuitas
Pembayaran atau penerimaan dilakukan pada awal tahun (Annuity Due)

Tabel 2.5
Nilai yang akan datang anuitas jatuh tempo, @ 10%

                                Terima/Bayar                Anuitas                        Nilai
   Tahun                        (Rp)                           @ 10%                        (Rp)         
Awal tahun                   1.000              a(1+r)3 = 1.000(1+0,10)n          1.331
Akhir tahun 1               1.000              a(1+r)2 = 1.000(1+0,10)n-1        1.210
Akhir tahun 2               1.000              a(1+r)1 = 1.000(1+0,10)n-2        1.100
Akhir tahun 3
Nilai yang Akan Datang Anuitas @ 10% atas Rp 1.000                      3.641

4.3 Nilai Sekarang dari Suatu Anuitas

Nilai Sekarang Anuitas Biasa @ 10%

Tabel 2.6
Nilai sekarang anuitas biasa, @ 10%

                              Terima/Bayar                  Anuitas                         Nilai
   Tahun                       (Rp)                            @ 10%                         (Rp) 
 Awal tahun                        0                     
Akhir tahun 1              1.000                         a[1/(1+r)]1                    909,09
Akhir tahun 2              1.000                         a[1/(1+r)]2                              826,45
Akhir tahun 3              1.000                         a[1/(1+r)]3                              751,31
Nilai Sekarang Anuitas @ 10%                                                      2.486,85


Tabel 2.7
Nilai sekarang anuitas jatuh tempo, @ 10%

                              Terima/Bayar               Anuitas                           Nilai
 Tahun                        (Rp)                         @ 10%                             (Rp)         
Awal tahun                 1.000                                    a                    1.000,00
Akhir tahun 1             1.000                       a[1/(1+r)]1                     909,09
Akhir tahun 2             1.000                       a[1/(1+r)]2                               826,45
Akhir tahun 3
Nilai Sekarang Anuitas @ 10%                                                    2.735,54


5.Arus Kas Masuk yangTidak Sama Jumlahnya

Pada umumnya arus kas suatu investasi tidak sama jumlah di masa mendatang. Hal itu disebabkan karena pengaruh pendapatan, beban, penyusutan, pajak, inflasi, dsb. Nilai tunai arus kas masuk yang tidak sama jumlah dapat disajikan berikut ini.

Tabel 2.8
Nilai Tunai Arus Kas Masuk yang Tidak Sama Besar, @10%
               
Periode
Arus Kas Masuk
(Rp)
PVIF 10 % n
Nilai Tunai Setiap
Arus Kas Masuk (Rp)
1
2
3
4
5
6
7

100
200
300
500
400
600
200
0,9091
0,8264
0,7513
0,6830
0,6209
0,5645
0,5132
90,91
165,28
225,39
341,50
248,36
338,70
102,64
1.512,72

Tabel 9
Skedul Amortisasi Pinjaman (Rp. 100 @ 12%) 3 Tahun
Diamortisasi secara Tahunan
(Perhitungan Dalam Rupiah )

Tahun



(1)
Pembayaran
(2)
Bunga
(0,12) x (4)]
(3)
Pembayaran
Pokok Pinjaman
(1) – (2)]
(4)
Sisa Saldo pada Akhir Tahun
0
1
2
3

-
41,64
41,64
41,64
124,92
-
12,00
8,45
4,47
24,90
-
29,64
33,19
37,17
100,00
100,00
70,36
37,17
= 0

Tabel 2.10
Amortisasi Bulanan Pinjaman Rumah ( Rp 100 @ 12%)
Selama 3 Tahun (360 Bulan)
(Perhitungan Dalam Rupiah)

1Bulan
Pembayaran
Bunga
(0,01) x (4)]
Pembayaran
Pokok Pinjaman
Sisa Saldo
pada Akhir Tahun
0
1
2
3
4
0
1
2
3
-
-
-
359
360

-
1.028,61
1.028,61
1.028,61
-
-
-
1.028,61
1.028,61
370.299,60
-
1.000,00
999,71
999,42
-
-
-
-
10,81
270.299,60
-
28,61
28,90
29,19
-
-
-
-
1.018,43
100.000,00
-
100.000,00
99.971,39
99.924,49
99.913,30
-
-
-
1.028,43
0
Sumber: Weston dan Copeland (1995:70), Edisi Bahasa Indonesia
Keterangan: 0,01 atau 1% = (12% / 12), atau bunga bulanan
Tabel 2.11
Perhitungan Bunga Majemuk 10% per Tahun
Dengan Pemajemukan Setengah – Tahun
(Perhitungan Dalam Rupiah)

Periode
Periode Jumlah
Awal (Po)
(1+r)
Jumlah Akhir (FVr,n)
1
2
1.000,00
1.050,00
1,05
1,05
1.050,00
1.102,50

Sumber: Weston dan Copeland (1995:72), Edisi Bahasa Indonesia
Keterangan: 0,5 = (10% / 2); FV = Future Value (Nilai masa mendatang); n = waktu atau periode

Tabel 2.12
Pemajemukan Ganda (Multiple Compounding) Selama Satu Tahun

Keterangan
Tingkat Bunga
Nilai
Tahunan       FVr,1
Setengah-tahunan
Kwartalan
Bulanan
Harian
Po(1+r)
Po[1+(r/2)]²
Po[1+(r/4)]
Po[1+(r/12)]
Po[1+(r/365)]
1.1200.(p=1)
1.1236.(p=2)
1.1255.(p=4)
1.1268.(p=12)
1.1275.(p=365)

Sumber: Weston dan Copeland (1995:73), Edisi Bahasa Indonesia
Keterangan: P = 2 artinya pangkat dua; Po artinya pengeluaran (investasi) pd awal tahun; r = suku bunga

Soal 2.1: PT ABC

Perusahaan memiliki tiga anak perusahaan, masing-masing memiliki masalah dlm menentukan nilai uang terkait dg waktu. Data masing-masing anak perusahaan adalah sbb:

PT ABC-1
Perusahaan memiliki dua jenis investasi yaitu proyek A senilai Rp 1.000 diperkirakan menghasilkan 8% per tahun, umur proyek 3 tahun. Proyek B investasi bernilai Rp 1.000, diperkirakan menghasilkan 1% untuk tahun pertama dan kedua, dan 22% untuk tahun ketiga. Saudara sbg ahli keuangan diminta menghitung:
1.Berapa rata-rata tingkat bunga selama tiga tahun kedua investasi tsb?
2.Investasi mana yg lebih menguntungkan?
3.Berapa return setiap proyek












PASAR MODAL

A.     SISTEM KEUANGAN

Uang sebagai subyek dan sekaligus obyek itu dapat membentuk system yang disebut system keuangan, yaitu perpindahan dari pihak yang memiliki kelebihan uang ke pihak yang membutuhkan uang yang menciptakan harta keuangan dan kewajiban keuangan, atau dapat dikatakan perpindahan dana dari pihak yang memiliki surplus tabungan ke pihak yang mengalami defisit tabungan.

Pihak yang memiliki surplus tabungan menciptakan harta keuangan (financial assets) dan pihak yang mengalami defisit tabungan mencipta kewajiban keuangan (financial liability). Perpindahan uang itu dilakukan dalam suatu pasar yang disebut pasar keuangan dan pasar modal (pasar bursa).

Pasar Keuangan (Financial Markets)

Pasar keuangan adalah tempat transaksi keuangan yang menimbulkan harta keuangan dan kewajiban keuangan (financial intermediary).

B.     PERANAN PEMERINTAH

Peranan pemerintah dalam sector keuangan terdiri dari kebijakan moneter (Bank Sentral) dan kebijakan fiskal (perpajakan). Kebijakan bank sentral menyangkut mengenai tingkat suku   Bunga. Jika jumlah uang beredar dalam masyarakat banyak,maka bank sentral akan menaikkan suku bunga agar uang tersebut masuk ke dunia perbankan. Hal itu di lakukan untuk mengendalikan inflasi.

Di samping itu, pemerintah melaksanakan kebijakan fiskal, yaitu tingkat pajak yang di kenakan kepada perusahaan atau badan usaha. Jika negara membutuhkan uang untuk membiayai administrasi pemerintah, maka tingkat pajak tinggi. Dampaknya adalah rumah tangga keluarga dan rumah tangga perusahaan sisa pendapatan atau sisa laba kecil. Dengan sisa laba kecil, perusahaan tidak mampu mengadakan ekspansi dan kesempatan kerja sempit.

Jika persediaan uang di bank banyak, bank sentral akan menurunkan suku bunga, supaya para pengusaha meminjam uang untuk investasi. Makin rendah suku bunga makin tinggi investasi, makin luas kesempatan kerja, makin tinggi pendapatan masyarakat. Kesempatan kerja juga dapat di tentukan oleh tingkat pajak perseroan. Jika tingkat pajak rendah, maka laba perusahaan besar dan perusahaan dapat mengadakan ekspansi yang dapat membuka lapangan kerja baru dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan Demikian, untuk menyediakan kesempatan kerja, pemerintah dapat memainkan instrumen bank sentral dan departemen keuangan, bank sentral mempunyai wewenang mengatur tingkat suku bunga, dan departemen keuangan mempunyai wewenang mengatur tingkat pajak.

Dalam pandangan ekonomi kapitalisme, makin rendah tingkat bunga dan makin rendah tingkat pajak, makin tinggi keuntungan perusahaan, makin luas ekspansi perusahaan,makin luas kesempatan kerja, dan makin tinggi pendapatan masyarakat.




C.     JENIS – JENIS INSTRUMEN KEUANGAN


  Klasifikasi dasar instrumen keuangan meliputi tiga kategori utama :
1.       Mata Uang
2.       Utang (obligasi)
3.       Kepemilikan  (saham)
 

D.     LEMBAGA PASAR KEUANGAN

1.       Pasar Pertama ( Pasar Perdana )

Pasra primer ( primary market ),dimana saham dan obligasi pertama kali di jual di pasar bursa.

2.       Pasar Kedua

a.       Pasar Sekunder (secondary market),dimana saham dan obligasi tersebut kemudian dipedagangkan seperti : komoditi di pasar,  harganya tergantung permintaan dan penawaran.
b.       Perdagangan saham di pasar sekunder ini merupakan “ judi “  Bagi kaum kapitalis untuk memperoleh keuntungan. Barang siapa yang tidak ahli “ bermain “ atau “ judi “ saham jangan melibatkan diri dalam jual-beli saham di pasar sekunder.
c.        Pasar Ketiga
d.       (1)  Pasar Bebas Surat berharga (Over-the-Counter = OTC                 (2)  Pasar Bebas (OTC) surat berharga adalah istilah yang digunakan untuk semua kegiatan penjualan dan pembelian Surat berharga yang tidak terjadi di bursa saham,dimana penjual dan pembeli langsung berhubungan, atau menggunakan mediator di luar pasar bursa.
1.       Pasar Keempat
Pasar Keempat (fourth market) merupakan transfer langsung blok Saham antar lembaga – lembaga investasi tanpa melalui perantara.

3.       Surat Utang Internasional

Pasar utang internasional terdiri dari tiga unsur utama :
(1)     Obligasi luar negeri,yaitu surat utang yang di terbitkan di sebuah negara di luar negeri dan di beri nilai dalam mata uang negara tersebut,biasanya untuk investasi bagi pembelinya.
(2)     Eurobond, yaitu surat utang jangka panjang yang di terbitkan oleh negara – negara Uni Eropa, biasanya untuk investasi bagi pembelinya.
(3)     Surat Niaga Eropa (Euro – commercial paper), yaitu surat utang jangka pendek model yang di terbitkan oleh negara – negara uni eropa, biasanya untuk modal kerja untuk penerbitnya.

4.       Keputusan Mendaftar Atau Tidak Mendaftar Saham

Perusahaan yang akan Go – Public harus mendaftarkan terlebih dahulu di pasar buras. Untuk mendaftarkan sahamnya, perusahaan harus memenuhi syarat – syarat bursa yang menyangkut besarnya perusahaan, lamanya bisnis yang telah dilakukan, catatan tentang laba, jumlah saham yang beredar dan nilai pasarnya.


5.       Perdagangan Saham

Dalam dunia bisnis surat berharga lazim di kenal Perdagangan Marjin (marjin trading) dan penjualan cepat (Short Selling). Kedua jenis perdagangan tersebut melalui broker saham, dan mungkin pihak pedagang tidak memiliki saham, namun bisa pinjam saham dari broker.

Perdagangan Marjin (Margin Trading)
Membeli saham saat ini karena diperkirakan harganya akan naik dimasa mendatang . Misal tuan A ingin memberi saham 10 lembar,haraga per lembar Rp 1.000 Dalam waktu satu tahun harganya naik menjadi Rp 1.200 per lembar,komisi broker 5 %,maka laba tuan A: 

Pembelian saham 10 saham x Rp 1000                                            = Rp 10000
Komisi broken 5% x Rp 10.000                                                            = Rp     500
Jumlah Investasi                                                                                      = Rp 10.500
Penjualan saham 10 saham x Rp 1.200                            = Rp 12.000
Komisi broken 5% x Rp 12.000                                            = Rp      600
Pendapatan                                                                              = Rp 11.400
Pengeluaran Investasi                                                                           = Rp 10.500
Retur on Investment atau ROI                                                              = Rp      900
Presentase ROI = ( Rp900/Rp 10.000)x100%                                  = 8,57%

6.       Penjualan Cepat (Short Selling)

Menujal saham saat ini karena diperkirakan harganya akan turun di masa mendatang. Misal tuan A ingin menjual saham 10 lembar, haraga per lembar Rp 1000. dalam waktu satu tahu harganya turun menjadi Rp 800 per lembar, komisi broken 5, maka laba Tuan A:

Pembelian saham 10 saham x Rp 1000                                            = Rp 10000
Komisi broken 5% x Rp 10.000                                                            = Rp     500
Jumlah Penerimaan                                                                               = Rp   9.500
Penjualan saham 10 saham x Rp 800                                                = Rp   8.000
Komisi broken 5% x Rp 800                                                 = Rp      400
Jumlah Pengeluaran                                                                              = Rp   8.400
Jumlah Penerimaan                                                                               = Rp   9.500
Retur on Investment atau ROI                                                              = Rp    1.100
Presentase ROI = ( Rp1.100/Rp 9.500)x100%                 = 11,58%

7.       Manfaat Pasar Bursa

1)           Pasar burasa surat berharga dapat memperlancar proses investasi dengan biaya yang murah dan efisien.
2)          Pasar bursa mampu menguji nilai dari surat berharga dengan mengadakan transaksi jual beli kontiniu.
3)          Pasar Bursa dapat membantu mensatbilkan harga surat berharga.
4)         Pasar bursa surat berharga membantu dan memperlancar proses penjualan saham baru.

8.       Peranan Manager Keuangan

Suatau perusahaan siklus uangnya diatur oleh Manajer Keuangan. Ia melakukan pilihan-pilihan memperoleh dana ekstarn, dan mengendalikan dana yang diperoleh bagar penggunaannya efektif, melalui berbagai pasar keuangan untuk memenuhi kebutuhan modal perusahaan.
Pada gambar 4.1 menunjukan bahwa manajer keuangan menghubungkan pembiayaan perusahaan dengan sumber-sumber keuangan melalui pasar keuangan.

Gambar 4.1
Hubungan Pasar Keuangan dengan Manajer Keuangan Perusahaan
 





















* Keterangan (Gambar 4.1)
Dalam Proes Bisnis, dana (kasa) dikeluarkan untuk ;
1.       Biaya Organisasi (pendiri,izin,dan sebagainya), sebagai Intanginable assets yang akan diamortisasi
2.       Pembelian Peralatan Bisnis sebagai Fixed Asstes  yang akan didepresiasi
3.       Pembelian Material (bahan Baku) yang akan diolah menjadi komoditi
4.       Pembayaran upah buruh (tenaga kerja langsung)
5.       Pembayaran biaya tak langsung (faktory overhaead)
6.       Pembayaran biaya p[emasaran
7.       Pembayaran biaya umum dan administrasi

10. Efisiensi pasar

Efisiensi dalam pasar saham menunjukan secra tidak langsung bahwa seluruh informasi relevan yang tersedia tentang suatu saham langsung tercermin dalam harganya.









MANAJEMEN KAS


Kas merupakan awal dari investasi dan operasi dari suatu perusahaan. Kas terdiri dari mata uang (currency), giro, dan rekening koran di bank (bank deposits). Perusahaan atau perseorangan menyimpan uang tunai (kas) untuk motif transaksi, motif pencegahan, dan motif spekulatif. Suatu perusahaan harus memiliki uang kas yang cukup dengan alasan untuk : (1) memperoleh potongan harga pada saat membeli bahan baku atau peralatan, (2) menjaga rasio cair (acid test ratio) agar tetap memperoleh kepercayaan dari kreditur (3) menangkap peluang bisnis sewaktu-waktu (4) mengantisipasi keadaan darurat seperti pemogokan, persaingan, dan sebagainya.

Suatu perusahaan harus memiliki anggaran kas untuk menjaga posisi likuiditas dan untuk mengetahui defisit atau surplus kas. Anggaran kas ialah estimasi posisi kas periode tertentu dimasa mendatang tentang penerimaan kas dan tentang pengeluaran kas. Penerimaan kas itu pada umumnya dari modal pemilik, utang, penjualan tunai, penerimaan piutang, penjualan aktiva tetap, dan lain-lain. Sedangkan pengeluaran kas itu pada umumnya untuk pembelian aktiva tetap, pembelian bahan baku, pembayaran upah tenaga kerja langsung, pembayaran biaya tidak langsung pabrik, pembayaran biaya pemasaran, pembayaran biaya umum, dan administrasi, pembayaran bunga, pembayaran deviden, pembayaran jasa produksi, pembayaran premi asuransi, pembayaran pajak, dan pengeluaran lain-lain.

Perusahaan yang memiliki kelebihan kas dapat dibelikan surat-surat berharga(efek atau marketable securities atau temporary investment) yaitu obligasi, saham biasa,dan saham preferen. Pemberian efek dilakukan untuk tujuan menjaga likuiditas (karena hakikatnya efek tersebut adalah uang tunai, artinya mudah dijual di pasar bursa) dan untuk tujuan investasi sementara untuk memperoleh keuntungan atas dasar pembedaan harga jual dan harga beli. Investasi pada efek yang jangka panjang yang semata-mata bertujuan untuk memperoleh keuntungan disebut “permanent investment” atau “investment” yang dikelompokkan dalam harga tetap.

Dalam usaha meluaskan pasar, pada umumnya perusahaan menjual hasil produksinya secara kredit yang melahirkan piutang. Kemudian diadakan penagihan untuk kembali menjadi uang tunai. Siklus kas perusahaan adalah :

Kas                        persediaan                          piutang                    kas     

Pengeluaran kas untuk persediaan itu meliputi persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Makin tinggi ketiga nilai persediaan berarti makin besar kas tertanam kepadanya. Besarnya investasi dalam piutang ditentukan oleh : (1) voleme penjualan kredit, (2) syarat pembayaran kredit, (3) ketentuaan tentang pembatasan kredit, (4) kebijakan pengumpulan piutang, (5) kebiasaan dan karakter pelanggan. Pertimbangan pemberian kredit didasarkan pada : (1) character, yaitu karakter para manajemen, (2) cavacity yitu kemampuan atau kesanggupan membayar, (3) capital, yaitu kondisi posisi keuangan, (4) collateral yaitu besarnya harta pelanggan, dan (5) condition, yaitu kondisi ekonomi, sosial, politik, dan bisnis.
Pemberian kredit kepada pelanggan ditentukan oleh hasil penelitian dan analisis kondisi likuiditas, rentabilitas, dan soliditas pelanggan (soliditas moral, komersial, finansial). Ketiga unsur tersebut yang terpenting adalah unsur soliditas atau kepercayaan. Untuk menjaga kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan, manajer keuangan harus membuat anggaran kas.

A.     ALIRAN KAS

Kas suatu perusahaan harus dikelola dengan baik. Sebab, ia merupakan jantung yang menggerakkan semua kegiatan, khususnya kegiatan operasi rutin. Suatu perusahaan yang kekurangan kas akan kehilangan kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan. Pihak luar akan tidak percaya bila tagihannya tidak dibayar tepat waktu, dan pihak dalam terutama buruh akan tidak percaya bila upahnya tidak dibayar tepat waktu.

Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari buruhnya dan pemasoknya (krediturnya) perusahaan tersebut lambat laun akan bangkrut. Buruh mulai tidak loyal dan tidak produktif; pemasok dan kreditur mulai tidak mengadakan transaksi bisnis dengan baik. Akibatnya, produk berkualitas renadh dan sulit masuk pasar. Kebangkrutan menunggunya. Oleh sebab itu, kas harus dikelola dengan baik, jujur, hati-hati, dan profesional.

Gambar 10.1:Pola Arus Kas
 
















B.     KEUNTUNGAN MEMILIKI KAS YANG CUKUP

Perusahaan yang memilki kas yang cukup adalah perusahaan yang memilki reputasi bisnis yang baik, karena semua transaksi dan utang-utangnya dapat dibayar tepat pada waktunya. Disamping itu, perusahaantersebut dapat memperoleh keuntungan dari pembelian bahan baku atau barang dagangannya karena dapat melakukan pembelian tunai dengan memperoleh diskon. Misal, term of trade 2/10, net 30, jika debitur membayar dalam waktu 30 hari, maka ia tidak memperoleh diskon, dan jika debitur membayar 10 hari dari tanggal pembelian, maka ia akan memperoleh diskon 2%. Berdasar data itu dapat dihitung besarnya biaya modal jika perusahaan tidak mengambil diskon adalah sebagai berikut:

Biaya             =              Persen diskon              x                                 365                                            
                           100 dikurangi persen diskon      perluasan terakhir dikurangi persen diskon

Biaya             =                 2               x                    365             
                            100 dikurangi 2                  30 dikurangi 10

= 0,0204 x 18,25
 = 0,3723
 = 37,23%
                                       

Itu meenunjukkan bahwa sesungguhnya besarnya bunga tahunan sebesar 37%. Jika perusahaan tidak mengambil potongan tunai atau cash discount, ia ia kehilangan ia menanggung bunga 37,23% per tahun. Manajemen keuangan yang profesional dapat dipastikan ia akan mengambil potongan tunai. Jika kasnya tidak cukup, ia dapat mengambil kredit dari bank untuk membeli tunai. Jika besarnya bunga kredit dibawah 37,23%, ia akan mengambil kredit, dan jika besarnya bunga kredit diatas 37,23%, ia bersedia kehilangan potongan tunai, artinya ia akan membayar utang dagangnya dalam waktu 30 hari dari tanggal pembelian.

Misalnya dalam satu tahun jumlah pembelian Rp 1.000 bunga kredit bank 20% per tahun. Perusahaan akan mengambil potongan tunai atas pembeliannya, dan ia akan memperoleh keuntungan walaupun pembeliannya itu dibayar dengan kredit dari bank. Teknik perhitungannya :

Potongan pembelian 37,23% x Rp 1.000                              = Rp 373,20
Pembayaran bunga bank 20% x Rp 1.000                            = Rp 200,00
Keuntungan atas pembelian tunai                                           = Rp 173,20

Perusahaan yang memilki posisi kas kuat, ia memiliki kekuatan tawar tinggi kepada pemasok; ia dapat tawar menawar besarnya potongan tunai; ia dapat memilih pemasok yang baik. Disamping itu, ia memiliki reputasi terhormat karena dapat memenuhi semua kewajibannya tepat waktunya.


C.     ANGGARAN KAS

Anggaran kas adalah perhitungan arus kas masuk dan arus kas keluar dalam periode yang ditentukan oleh penjualan tunai, piutang, pinjaman, pembelian bahan, upah buruh, baiaya overhead pabrik, biaya pemasaran, biaya umum dan adminitrasi, beban bunga dan anggsuran pinjaman, pajak perseroan, dan pembayaran dividen.

Arus kas mulai dari sumbernya sampai dengan penggunaannya dapat disajikan sebagai berikut ini.  Transaksi bisnis PT Bandung Indah periode tahun pertama : modal disetor oleh pemilik  (terdiri dari 100 saham) Rp. 5.000, dibayar biaya pendirian perusahaan (diamortisasi lima tahun beban biaya administrasi) Rp. 2.000, dibeli gedung pabrik dan peralatan Rp. 2.000, dibeli gedung pabrik dan peralatan Rp. 1.650, dibayar tunai Rp. 650, sisanya dibayar oleh BBD sebagai utang, disamping itu dipinjam dari BBD tunai Rp. 2.000, untuk modal kerja, bunga 20% pertahun, penyusutan harta tetap itu dengan model sum of year digidt method, umur 10 tahun, beban penyusutan pada biaya overhead pabrik tanpa nilai sisa ; dibeli gudang dan peralatan divisi pemasaran Rp. 1.000, penyusutan method straight line method, umur 10 tahun, beban penyusutan pada marketing expenses); tanpa nilai sisa ; dibeli gedung dan peralatan divisi umum dan administrasi Rp. 1.200, penyusutan model straight line method, umur 10 tahun, beban penyusutan pada administrative expenses, tanpa nilai sisa; dibeli material Rp. 1.400, (dibayar tunai Rp. 400, sisanya utang dagang), material dipakai dalam proses produksi Rp. 1.300; dibayar tunai upah buruh (beban proses produksi) Rp. 900; diperhitungkan harga pokok barang jadi 1.000 unit, nilainya Rp. 3.000; dijual produk jadi 900 unit @ Rp. 8 (diterima tunai Rp. 2.400, sisanya piutang dagang); dibayar baiaya pemasaran, tunai Rp. 800; dibayar biaya umum dan administrasi, tunai Rp. 1.000; pada akhir periode dibayar bunga BBD dan pajak perseroan 30%.rapat umum pemengang saham memutuskan devidennd payout atio 50%, dan dibayar tunai. Di maan ditemukan bahwa saldo kas minimum  sebesar Rp. 1.000. apabila terjadi kekurangan kas,perusahaan akan meminjamkan kepda bank BBD. Karena bunga, pajak dan dividen dibayar  tunai,maka terlebih dahulu harus disusun  perhitungan laba rugi seperti disajikan berikut ini.






Pendapatan penjualan                                                                                              7.200
Harga pokok penjualan                                                                                             2.700
Laba kotor atas penjualan                                                                                         4.500
Beban pemasaran                                                                                                          900
Beban umum dan adminitrasi                                                                                    1.520
Laba operasi ( earning before interest & tax=EBIT)                                             2.080
Beban bunga ,20% X Rp. Rp.3.000                                                                            600
Laba sebelum pakjak (earning before interest & tax=EBIT)                                               1.480
Beban pajak  30%                                                                                                          444
Laba bersih (earning before interest & tax=EAT)                                                 1.036
Dividend payout ration% (1.036)                                                                                 518
Laba ditahan ( retained aarning = RE)                                                                       518


Tabel 10.1

Anggaran kas PT. Bandung indah

No
Keterangan
Penerimaan
pengeluaran
1
Setoran moral pemilik
5.000

2
Biaya pendirian perusahaan

2000
3
Harta tetap divisi pabrik

650
3
Pinjaman dari BBD
2.000

4
Harta tetap divisi marketing

1.000
5
Harta tetap divisi administrasi

1.200
6
Pembelian bahan baku ( material )

400




7
Dibayar upah tenaga kerja langsung (buruh)

1.000
8
Dibayar biaya oveehead pabrik

900
10
Penjualan tunai
2400

12
Dibayar biaya pemasaran

800
13
Dibayar biaya administrasi

1.000
14
Dibayar bunga pinjaman 20% XRp.3.000

600
15
Dibayar pajak perseroan

444
16
Dibayar dividen 50% X Rp.1

518
17
Pinjam ke BBD untuk menutup kekurangan kas
2.112

18     Saldo kas minuman

1.000

Jumlah

11.512
11.512


D.     Anggaran Kas Bulanan

Perusahaan merencanakan  membuat anggaran kas selama empat bulan yaitu januari,februari,maret dan april.saldo kas minimum ditentukan besarnya Rp.1000. jika terjadi kekurangan kas harus segera meminjam bank untuk mencukupinya; bungan bank perbulan 1.5 % saldo kas awal januari Rp.1.100. data yang tersedia pada tabel 10.2.

Keterangan
Jan
Feb
Maret
April
Penerimaan :




Penjualan tunai
2.000
2.500
3.000
4.000
Penerimaan piutang
2.000
35.00
3.500
1.000
Lain-lain
600
800
300
400


Pengeluaran :
Pembelian tunai bahan baku
2.000
2.200
1.800
1.000
Upah buruh
1.000
1.800
1.200
1.000
Biaya overhead pabrik
600
700
800
800
Biaya pemasaran
1.400
1.300
1.000
1.000
Biaya umum dan administrasi
700
725
750
725
Bunga hutang jangka panjang
300
275
250
275
Pajak perseroan
160
18
46
74





Barang dagangan
4.270
4.830
4.060
3.290
Biaya operasional
1.450
2.050
1.650
1.450
Pembelian gedung kantor
300
0
0
0
Angsuran hutang jangka panjang
100
100
100
100
Bunga hutang jangka panjang
40
38
36
34


Berdasarkan data di atas dapat disusun anggaran kas mulai bulan januari sampai dengan april sebagai berikut.

Tabel 10.3
Anggaran Kas ( Januari s/d April)

Keterangan
Jan
Feb
Maret
April
Saldo awal
1.100
1.017
1.072
1.099
Penerimaan
4.600
6.800
6.800
5.400
Total kas tersedia
5.700
7.817
7.872
6.499





Total pengeluaran
6.160
7.018
5.846
4.874
Saldo kas minimum
1.000
1.000
1.000
1.000
Kebutuhan kas
7.160
8.018
6.846
5.874
Lebih ( kurang )
(1.460)
(201)
1.026
625





Utang
1.500
300


Pembayaran utang jk.pdk
0
0
900
600
Bungan 18% tahun
23
27
27
14
Saaldo akhir kas
1.017
1.072
1.099
1.011


Soal 10. 1 : Perusahaan Manufaktur : PT Makmur Abadi

Neraca 1 Januari …….
(Dalam Ribuan Rupaih)

Kas
5.000
Utang dagang
2.000
Piutang
4.000
Utang bunga
1.800
Persediaan
4.475
Utang pajak
1.200
Harta tetap bersih
6.525
Uatang jangka panjang
5.000


Modal sendiri
10.000
Jumlah harta
20.000
Jumlah hutang dan modal
20.000

Catatan : Bunga utang jangka panjang 20% per tahun.  Nilai persediaan : Rp.4.475.00,
Terdiri dari : (Bahan baku Rp. 547.000 + barang jadi Rp. 3.928.000)

PT. ABC : Perhitungan Rugi Laba 1 Januari ….
(Dalam Ribuan rupiah)

Keterangan
Jumlah
%
Penjualan
18.000
100,00
Harga pokok penjualan
10.800
60,00
Laba kotor
7.200
40,00
Biaya pemasaran
1.800
10,00
Biaya administrasi
900
5,00
Laba operasi
4.500
25,00
Bungan 20% X Rp. 5.000
1.000
5,56
Laba sebelum pajak
3.500
19,44
Pajak 50%
1.750
9,72
Laba bersih
1.750
9,72
Dividen 80% X Rp. 1.750
1.400
7,78
Laba ditahan
350
1,94

Rencana penjualan : Produk X 60.000 unit @ Rp. 200, Y 40.000 unit @ Rp. 250. Proyeksi Persediaan: Awal:X 20.000 unit, Y 8.000 unit Akhir : X 25.000 unit, Y 9.000 unit. Penjualan dibayar tunai 70% dan sisanya kredit.  Data yang tersedia antara lain sebagai berikut :

Keterangan
Bahan baku
Bahan baku
Bahan baku

A
B
C
Produk X
4
2
0
Produk Y
5
3
1
Persediaan awal (unit)
32.000
29.000
6.000
Persediaan akhir (unit)
36.000
32.000
7.000
Harga per unit (Rp)
12
5
3

Keterangan :
satu unit produk X digunakan bahan baku A 4 unit, B 2 unit dan C 0 unit, Upah Buruh : untuk membuat satu unit produk X membutuhkan waktu 2 jam, tarif Rp. 12 dan Y 3 jam tarif Rp. 16.  baiay Overhead Pabrik : Tarif berdasar jam tenaga kerja langsung, tarif variabel Rp. 8 per jam, tarif tetap Rp. 12 per jam, dari tarif tetap sebesar Rp. 20% adalah beban penyusutan aktiva tetap pabrik.

Baiaya pemasaran : Produk X Rp. 680.000 termasuk beban penyusutan aktiva tetap divisi pemasaran Rp. 180.000, dan untuk produk Y Rp. 560.000 termasuk biaya penyusutan aktiva tetap divisi pemasaran Rp. 160.000. Biaya administrasi : Produk X Rp. 1.000.000 termasuk beban penyusutan aktiva tetap divisi administrasi Rp. 200.000 dan untuk produk Y Rp. 500.000 termasuk beban penyusutan aktiva tetap divisi administrasi Rp. 100.000. pajak perseroan 50%.

Asumsi : Pembelian material dibayar tunai 50%, sisanya kredit, biaya pemasaran dan adminitrasi 60% dibayar tunai, sisanya utang biaya.  Tahun ini seluruh utang dagang, utang pajak dan uatang bunga dan pajak tahun inji dibayar 59%, sisanya terutang.  Dividen terutang, semua taguhan tahun lalu dibayar tunai tahun ini.  Penjualan aktiva tatap yang rusak Rp. 600.000 dan dibeli aktiva tetap baru Rp. 2.000.000 tunai, angsuran utang jangka panjang Rp. 1.000.000. diminta menyusun anggaran kas.




Soal 10.2: Perusahaan Dagang : PT Makmur Jaya


Neraca per 31 Desember 2000x

Keterangan
Jumlah (Rp)
Kas
1.100
Piutang dagang 40% X penjualan Desember 2000x Rp. 4.000
1.600
Persediaan barang dagangan
4.800
(2.000+(0,8 X 0,7 X Penjualan Januari Rp. 5.000

Biaya yang dibayar lebih dulu (asuransi)
200
Jumlah harta lancar (a)
7.600
Aktiva tetap
3.500
Akumulasi penyusutan
1.100
Harta tetap bersih (b)
2.400
Total harta (a+b)
10.100


Hutang dagang 50% X pembelian Des. Rp. 3.360
1.680
Hutang jangka panjanmg, bunga 20% per tahun
2.000
Modal saham
5.000
Laba ditahan
1.420
Total hutang dan modal
10.100

Data Yang Tersedia Untuk Membuat Anggaran Adalah Sebagai Berikut :
1.             Catatan : penjualan bulan Desember 2000x Rp. 4.000. rencana penjualan tahun 2000xy : bulan Januari Rp. 5.000, Februari Rp. 8.000, Maret Rp. 6.000, April Rp. 5.000, dan Mei aRp. 4.000. penjualan kredit 40% sisanya tunai. Seluruh piutang ditagih pada bulan berikutnya sesudah terjadinya penjualan
2.             Pada setiap akhir bulan manajemen menghendaki safety stock barang dagangan Rp. 2.000 ditambah 80% dari harga pokok barang yang akan dijual pada bulan berikutnya. Rasio harga pokok penjualan terhadap penjualan adalah 70%
3.             Pembelian barang dagangan dengan syarat 50% tunai, sisanya kredit dibayar bulan berikutnya
4.             Gaji dan komisi dibayar setelah pekerjaan dilaksanakan dan akhir bulan. Gaji tetap Rp. 250 per bulan, komisi 15% dari nilai penjualan.
5.             Bulan April membeli gedung kantor secara tunai Rp 300, biaya lain-lain 5% dari penjualan dan sewa gudang Rp. 200, masing-masing dibayar pada waktunya. Diperhitungkan beban amortisasi asuransi Rp. 20 setiap bulan, dan penyusutan harta tetap termasuk gedung kantor Rp. 50 per bulan
6.             Safety cash ditetapkan Rp. 1.000 pada akhir bulan.  Pinjaman untuk menutupi kekurangan kas dengan bunga 18% pertahun. Dengan kelipatan Rp 100.  bunga diperhitungkan berdasarkan pokok pinjaman dikurangi angsuran pinjaman. Asumsi pinjaman dilakukan awal bulan dan angsuran dilakukan pada akhir bulan.
7.             Top eksekutif ingin melihat anggaran kas, mulai Januari sampai April 2000y, angsuran utang jangka panjang per bulan Rp. 100, bungan dibayar tunai pada setiap akhir bulan, pajak perseroan 50% terutang.







MANAJEMEN PIUTANG


Pada umumnya perusahaan menjual hasil produksinya secara kredit, kemudian melahirkan piutang dagang; penagihan piutang melahirkan kas. Hubungan antara piutang dengan kas adalah sebagai berikut:

 Kas                     Persediaan Barang Jadi                               Piutang                          Kas


Besarnya investasi dalam piutang ditentukan oleh: (1)volume penjualan kredit, (2)syarat pembayaran kredit, makin longgar atau makin lunak syarat kredit makin besar piutang dagang, (3)kemampuan mengumpulakan atau menagih piutang, (4)karakter pengutang atau debitur.

Pertimbangan pemberian kredit didasarkan pada: (1)character, yaitu karakter para manajemen perusahaan pengutang, (2)capacity, yaitu kemampuannya atau kesanggupan membayar perusahaan pengutang, (3)capital, yaitu kondisi posisi keuangan perusahaan pengutang,(4)collateral, yaitu harta perusahaan pengutang yang dijadikan jaminan,(5)condition, yaitu kondisi ekonomi, sosial, politik, dan bisnis. Tetapi sebenarnya pemberian kredit dalam dunia bisnis adalah kepercayaan. Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari partner bisnisnya, ia kehilangna kesempatan berbisnis.

1.       Perputaran Piutang (Receivable Turnover)

Piutang sebagai unsure modal kerja dalam kondisi berputar, yaitu dari kas, proses komoditi, penjualan, piutang, kembali ke kas. Makin cepat perputaran piutang makin baik kondisi keuangan perusahaan. Perputaran piutang (receivable turnover) dapat disajikan dengan perhitungan: penjualan bersih secara kredit dibagi rata-rata piutang. Kemudian 360 hari dibagi perputaran piutang menghasilkan hari rata-rata pengumpulan piutang (average collection period of accounts receivable). Pernyataan itu dapat disajikan dalam bentuk rumus sebagai berikut:

                                            Penjualan Bersih
Perputaran piutang  =                                                =  .…. X
                                       Rata-Rata Piutang
      
                                                                    360 hari
Rata-Rata Pengumpulan Piutang  =                                                        =  …… hari
                                                   Perputaran Piutang

Misalnya PT ABC memiliki informasi mengenai penjualan tahun 2000 sebesar Rp 200 dan tahun 2001 sebesar Rp 180; piutang awal tahun 2001 Rp 40 dan akhir tahun Rp 60, sedangkan piutang awal tahun 2001 Rp 50 dan akhir tahun Rp 30. Perputaran piutang dan rata-rata pengumpulan piutang dapat disajikan dalam tabel 11.1.









Tabel 10.1.
Perputaran Piutang dan Rata-Rata Pengumpulan Piutang

Keterangan
Tahun 2000
Tahun 2001
Penjualan Bersih
Piutang Awal Tahun
Piutang Akhir Tahun
Rata-rata Piutang (Average Receivable)
(Rp 40 + Rp 60) / 2
(Rp 50 + Rp 30) / 2
Perputaran Piutang (Receivable Turnover)
(Rp 200 / Rp 50)
(Rp 180 / Rp 40)
Rata-rata Pengumpulan Piutang
(Average Collection Period)
(Rp 200 / 4)
(Rp 180 / 6)
Rp  200
Rp    40
Rp    60

Rp    50


   4 kali



 50 hari
Rp  180
Rp    50
Rp    30

Rp    40


   6 kali



 30 hari

Hari Rata-rata pengumpulan piutang adalah sangat penting, makin lama makin buruk bagi kas perusahaan, dan sebaliknya. Perputaran piutang yang tinggi sangat baik bagi perusahaan, karena investasi dalam piutang rendah dan sebaliknya.

Cara lain untuk menentukan perputaran piutang dan rata-rata pengumpulan piutang dapat disajikan dengan ilustrasi berikut ini. PT ABC memiliki nilai penjualan per tahun Rp 180, seluruhnya dijual kredit 30 hari, dengan ketentuan, jika pembayaran dilakukan dalam waktu 10 sejak tanggal penjualan, diberikan potongan tunai 2 %, model ini lazim  disebut 2/10, net 30. Dari jumlah tersebut, 60 % dibayar dalam waktu 10 hari, dan sisanya  dalam waktu 30 hari. Berdasarkan informasi tersebut dapat dihitung:
1)       Jangka Waktu Penagihan (Day Sales Oustanding atau DSO) atau Periode Penagihan Rata-rata (Average Collection Period atau ACP) adalah: 0,60(10) + 0,40(30) = 18 hari.  
2)       Penjualan Harian Rata-rata (Average Daily Sales atau ADS), dengan asumsi satu tahun 360 hari kerja: (Rp 180 / 360) = Rp 0,50
3)       Piutang PT ABC sepanjang tahun setiap saat sebesar: (Jangka Waktu Penagihan X Penjualan Harian Rata-rata) = (18 hari X Rp 0,50) = Rp 9.
4)       Perputaran Piutang  = (Penjualan / Piutang) = (Rp 180 / Rp 9) = 20X
5)       Periode Penagihan Rata-rata = (360 hari / Perputaran Piutang) = (360 hari / 20) = 18 hari.
6)       Periode Penagihan Rata-rata atau Jangka Waktu Penagihan dapat dihitung dengan rumus:

                 Piutang Usaha                                                 Rp 9
                                                                             =                                                       = 18 hari
                  (Penjualan / 360 hari)                            (Rp 180 / 360 hari)

Manajer keuangan harus mengetahui penjualan per hari secara kredit dan jumlah rata-rata piutang sepanjang tahun di setiap saat. Dengan mengetahui kedua unsur tersebut, ia dapat mengatur arus kas masuk dari tagihan piutang.

2.      Pengendalian Piutang

Perputaran piutang harus dikendalikan dengan menyusun tabel umur piutang (aging schedule of receivables), di mana dalam tabel tersebut dapat diketahui jumlah piutang yang segera dapat ditagih dan yang lambat ditagih, dan dapat diketahui pengutang atau debitur yang baik dan yang buruk.

Mengelola arus kas masuk dan keluar adalah salah satu tugas pokok bagian keuangan karena semua transaksi bisnis bermuara ke dalam kas. Manajer keuangan pada umumnya mengharapkan penjualan dapat dilakukan dengan tunai, atau kredit dengan waktu yang sesingkat-singkatnya, agar supaya arus kas masuk cepat. Untuk mengelola keuangan perusahaan yang baik, manajer keuangan harus menyusun anggaran pengumpulan piutang yang akan digunakan untuk mengendalikan piutang. Makin panjang umur piutangnya, makin buruk kondisi perusahaan karena makin lama piutang tersebut menjadi uang tunai (kas).

Contoh skedul umur piutang dapat disajikan dalam tabel 11.2, yang terdiri PT ABC dan PT ABK. Syarat kredit kedua perusahaan tersebut adalah 2/10/net 30.

Tabel 01.2
Skedul Umur Piutang (Agimg Schedule of Receivable)

Umur Piutang
PT ABC
PT ABK
Nilai
Piutang
% Dari Total
Nilai Piutang
Nilai
Piutang
% Dari Total
Nilai Piutang
0-10
11-30
31-45
46-60
di atas 60
Total

640
160
0
0
0
800
80%
20%



100%
400
160
120
80
40
800
50%
20%
15%
10%
5%
   100%

PT ABC lebih baik daripada PT ABK, karena semua pelanggan membayar tepat waktu 80% pada hari ke 10, dan sisanya 20% membayar pada hari ke 30. Sedangkan PT ABK pelanggannya tidak tepat membayar sesuai dengan perjanjian kredit, 30% yaitu (15% + 10% + 5%) pelanggannya membayar lewat 30 hari dari jatuh tempo. Perusahaan yang baik seyogianya mengikuti manajemen piutang PT ABC seperti ilustrasi di atas.

Manajer keuangan harus kontrol ketat jangka waktu penagihan dan skedul umur piutang. Kedua unsur itu harus dihubungkan dengan syarat kredit dan kedua unsur itu untuk mengetahui efektifitas bagian penagihan menjalankan tugasnya. Jika jangka waktu penagihan makin panjang dan rasio umur piutang yang melewati jatuh tempo makin besar, maka harus diadakan peninjauan kembali kebijakan penjualan kredit.

3.      Anggaran Pengumpulan Piutang

Pada umumnya perusahaan besar mempunyai banyak pelanggan dengan kredit. Kondisi yang demikian mempengaruhi arus kas perusahaan. Misal, PT ABC mempunyai penjualan bulan Januari Rp 100, Februari Rp 200, dan Maret Rp 300. Syarat pembayaran ditetapkan 3/20/net 30, 70% pelanggan membayar 20 hari setelah bulan penjualan, 20% pelanggan membayar 10 hari terakhir bulan kesatu sesudah bulan penjualan, dan 10% pelanggan membayar bulan kedua setelah bulan penjualan. Berdasarkan informasi tersebut aggaran pengumpulan piutang dapat disajikan pada tbel 11.3. Rincian perhitungan piutang bulan Februari, Maret, April,adalah sebagai berikut:



Bulan Februari:
o   Pengumpulan piutang bulan Februari 70% X Rp 100 = Rp 70 dikurangi potongan tunai 3% X Rp 70 = Rp 2,10 = Rp 67,90.
o   20% terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 100 = Rp 20.
o   Jadi dalam bulan Februari, piutang terkumpul = Rp 67,90 + Rp  20 = Rp 87,90

Bulan Maret:
o   Piutang atas penjualan bulan Januari 10% X Rp 100 = Rp 10
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 70% X  Rp 200 = Rp 140, dikurangi 3% X Rp 140 = Rp 4,20 = Rp 135,80
o   Terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 200 = Rp 40
o   Jadi dalam bulan Maret, piutang terkumpul = Rp 10 + Rp 135,80 + Rp 40 = Rp 185,80

Bulan April:
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 10% X Rp 200 = Rp 20
o   Piutang atas penjualan bulan Februari 70% X Rp 300 = Rp 210, dikurangi 3% X Rp 210 = Rp 6,30 = Rp 203,70
o   Terkumpul dalam waktu 10 hari terakhir, 20% X Rp 300 = Rp 60
o   Jadi dalam bulan Maret, piutang terkumpul = Rp 20 + Rp 203,70 + Rp 60 = Rp 283,70

4.      Kebijakan Kredit (Credit Policy)

Keberhasilan perusahaan ditentukan oleh banyak faktor antara lain kualitas produk, harga yang kompetitif, distribusi yang cepat, promosi, pelayanan purna jual, kebijakan kredit, dan lain-lain. Berikut ini disajikan contoh kasus:

Kasus PT Lesmana: kebijkan lama: potongan tunai 3% untuk pembayaran sampai dengan 7 hari (3/7).Rata-rata Pengumpulan piutang 30 hari, pembeli yang memanfaatkan potongan tunai 15%, piutang tak tertagih (bad debt) 2% dari penjualan kredit (credit sales). Penjualan selama satu tahun 1.500 @ Rp 5, VC Rp 2,3, biaya modal diperhitungkan 22% per tahun.

Kebijakan baru: perjanjian kredit penjualan (term of sales) adalah 4/15, potongan tunai 4% bagi yang melakukan pembayaran sampai dengan 15 hari. Rata-rata pengumpulan piutang 40 hari. Yang memanfaatkan potongan tunai bertambah menjadi 25% dan penjualan meningkat 20%, tambahan tenaga penjual 3 orang dengan gaji per bulan Rp1,7 per bulan per orang, piutang tak tertagih (bad debt) 3%. Apakah perusahaan mempertahankan kebijakan lama atau baru? Solusi kasus PT Lesmana tersebut dapat disajikan dalam tabel 11.4.

Keterangan tabel 11.4:
o   *Marjin kontribusi = [1 – (2,3 / 5)] = 54%
o   Perhitungan Laba (rugi) atas kebijakan baru:
o   Tambahan marjin kontribusi = (Rp 4.860 – Rp 4.050)        = Rp 810,00
o   Tambahan biaya modal = (Rp 75,9 – Rp 53,7625)                              = (Rp 22,14)
o   Tambahan piutang tak tertagih = (Rp 202,5 – Rp 127,5)    = (Rp 75,00)
o   Tambahan potongan tunai  = (Rp 90 – Rp 33,75)                                = (Rp 56,25)
o   Gaji tenaga penjual                                                    = (Rp 61,20)
o   Tambahan Laba                                                          = Rp 595,41

Kesimpulan: Kebijakan baru adalah layak dijalankan karena ada tambahan laba sebesar Rp 595,41.

Tabel 10.3
Solusi Kasus PT Lesmana

Keterangan
Kebijakan Lama
Kebijakan Baru
Penjualan
Piutang

Tunai
Perputaran (Turnover)
Rata-rata Piutang

Investasi pada
piutang
Biaya Modal

Piutang Tak Tertagih
(bad debt)
Potongan Tunai
(cash discount)
Marjin Kontribusi*

Gaji tenaga penjual
Rp 7.500
85% X 7.500 =
Rp 6.375
Rp 1.125
360/30 = 12X
Rp 6.375/12 =
Rp 531,25
46% X Rp 531,25 =
Rp 244,375
22% X Rp 244,375 =
Rp 53,7625
2% X Rp 6.375 =
Rp 127,5
3% X Rp 1.125 =
Rp 33,75
54% X Rp 7.500 =
Rp 4.050
(1+20%)(7.500) = Rp 9.000
75% X 9.000 = Rp 6.750

Rp 2.250
360/40  = 9X
Rp 6.750/9 = Rp 750

46% X Rp 750 = Rp 345

22% X Rp 345 = Rp 75,9

3% X Rp 6.750 = Rp 202,5

4% X Rp 2.250 = Rp 90

54% X Rp 9.000 =Rp 4.860

3 X 12 X Rp 1,7 = Rp 61,2
























MANAJEMEN PERSEDIAAN

Kegiatan bisnis yang memerlukan manajemen persediaan adalah bidang industri manufaktur dan perdagangan. Dalam industri manufaktur, persediaan terdiri dari: (1)persediaan bahan baku, (2)persediaan barang dalam proses, (3)persediaan barang jadi, dan  (4)persediaan bahan pembantu. Sedangkan dalam perusahaan dagang yang dimaksud persediaan adalah persediaan barang dagangan.

Dalam perusahaan industri manufaktur, bahan baku diproses menjadi barang jadi, kemudian dijual. Proses ini memerlukan waktu panjang sehingga modal yang diinvestasikan dalam persediaan cukup besar dan perputarannya relatif lambat. Kondisi yang demikian manajemen persediaan harus mendapatkan perhatian manajemen yang sangat serius. Kelebihan persediaan akan mengakibatkan pemborosan penggunaan modal, sedangkan kekurangan persediaan proses produksi bisa terganggu. Mengelola persediaan dalam perusahaan industri manufaktur relatif lebih sulit dibanding dengan mengelola persediaan dalam perusahaan dagang. Dalam perusahaan dagang, persediaan barang dagangan dibeli untuk dijual; waktu yang dibutuhkan relatif pendek, sehingga modal yang digunakan berputar relatif cepat.

Manajemen persediaan dalam perusahaan industri manufaktur dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu model Economic Order Quantity atau EOQ dan Tepat Waktu atau Just in Time (JIT). Penggunaan model tersebut tergantung pada kebijakan manajemen terhadap pemasok. Jika pemasok diperlukan sebagai pesaing, yaitu mencari pemasok yang paling murah dapat menyediakan bahan baku, maka model EOQ lazim digunakan. Tetapi jika pemasok diperlakukan sebagai partner bisnis yang setia dan dinyatakan satu kesatuan dalam proses produksi, maka model JIT lazim digunakan.

1.      Model Economic Order Quantity (EOQ)

Pada umumnya perusahaan menggunakan cara tradisional dalam mengelola persediaan, yaitu dengan cara memiliki persediaan minimal untuk mendukung kelancaran proses produksi. Di samping itu, perusahaan juga memperhitungkan biaya persediaan yang paling ekonomis yang dikenal dengan istilah Economic Order Quantity atau EOQ. EOQ akan menjawab pertanyaan berapa banyak kualitas bahan baku yang harus dipesan dan berapa biayanya yang paling murah atau paling ekonomis.

Perusahaan manufaktur pada umumnya memperhitungkan empat macam persediaan, yaitu persediaan bahan baku, persediaan bahan pembantu, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Pada umumnya persediaan bahan pembantu jumlahnya relatif kecil, maka tidak dibahas dalam kajian ini.

Persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan persediaan barang jadi harus dihitung tingkat perputarannya (turn overnya) tujuannya adalah untuk pengendalian. Teknik perhitungan perputaran bahan sebagai berikut:
                              
                                  Bahan Baku digunakan dalam proses produksi
Perputaran Persediaan   =
Bahan Baku                                       Rata-rata persediaan bahan baku
                                                            Harga Pokok Produksi
Perputaran Persediaan   =
Barang dalam Proses          Rata-rata persediaan barang dalam proses
 
                                             
Harga pokok penjualan atau penjualan
Perputaran Persediaan   =
Barang Jadi                              Rata-rata persediaan barang jadi

                                             Harga Pokok penjualan atau Penjualan
Perputaran Persediaan   =
Barang Dagangan                Rata-rata persediaan barang dagangan


Dalam kegiatan manufaktur, pengelolaan bahan baku merupakan unsur penting manajemen yang harus dikelola secara profesional. Besar kecilnya persediaan bahan baku berhubungan langsung dengan modal yang diinvestasikan ke dalamnya; makin besar persediaan bahan baku, makin besar investasi dan makin besar beban biaya modal, dan sebaliknya. Besar kecilnya nilai persediaan bahan baku dipengaruhi oleh:
1)       Estimasi dan perencanaan volume penjualan
2)       Estimasi dan perencanaan volume produksi
3)       Estimasi dan perencanaan kebutuhan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi
4)       Biaya order pembelian
5)       Biaya penyimpanan
6)       Harga bahan baku

Dalam mengelola bahan baku dibutuhkan dua unsur biaya variabel utama, yaitu biaya pesanan (procurement cost atau set up cost) dan biaya penyimpanan (storage cost atau carrying cost).

Yang termasuk biaya pesanan antara lain adalah:
1)       Biaya proses pemesanan bahan baku
2)       Biaya pengiriman pesanan
3)       Biaya penerimaan bahan baku yang dipesan
4)       Biaya untuk memproses pembayaran bahan baku yang dibeli

Biaya-biaya tersebut makin besar jika jumlah tiap-tiap pesanan kecil, atau makin kecil jumlah bahan baku tiap-tiap pesanan, makin besar jumlah biaya pesanan dalam suatu periode tertentu, misalnya dalam satu tahun. Sedangkan yang termasuk biaya penyimpanan (penggudangan) adalah:
1)       Biaya untuk mengelola bahan baku (biaya menimbang dan menghitung)
2)       Biaya sewa gudang atau penyusutan gudang
3)       Biaya pemeliharaan dan penyelamatan bahan baku
4)       Biaya asuransi
5)       Biaya pajak
6)       Biaya modal

Manajemen harus menghitung biaya yang paling ekonomis pada setiap jumlah barang yang dibeli (dipesan). Biaya tersebut adalah saling hubungan antara harga bahan baku, biaya penyimpanan yang umumnya dihitung berdasar persentase tertentu dari nilai persediaan rata-rata, jumlah bahan baku yang dibutuhkan dalam satu periode misalnya dalam satu tahun, dan biaya pesanan. Teknik perhitungan ini lazim disebut Economic Order Quantity atau EOQ dengan rumus:

EOQ =  √2XRXS
                   P X I



Di mana:
R  =  Requirement of raw material, atau jumlah bahan baku yang dibutuhkan selama  satu tahun periode, misalnya 1.200 unit
S  =  Set up cost, atau biaya pesanan setiap kali pemesanan, misalnya Rp 15
P  = Price, atau harga bahan baku per satuan, misalnya Rp 1 per unit
I  = Inventory, atau biaya memiliki persediaan yang terdiri dari: biaya keuangan 10%, biaya penyusutan fisik 10%, biaya modal atau biaya bunga pinjaman 10%, biaya penanganan bahan 2%, biaya pajak kekayaan 2%, biaya asuransi 2%, dan biaya penggudangan 3%, biaya lain-lain 1% (atau total biaya memiliki persediaan 40% dan biaya diperhitungkan dari nilai persediaan rata-rata).

EOQ               = √2 X 1.200 X 15   
=  √ 36.000 
 = √ 90.000 
 = 300 unit
=  0,40 X 1
=  0,40

Dengan diketahui angka 300 unit setiap pesanan, berarti dalam satu tahun dapat dilakukan 4 kali pesanan. Dalam 4 kali pesanan itu biaya persediaan bahan baku adalah yang paling rendah atau paling ekonomis. Rincian perhitungan biaya persediaan dapat disajikan dalam tabel 12.1

Tabel 11.1
Perhitungan Biaya Persediaan yang paling Ekonomis

Frekwensi pemesanan bahan baku
3X
4X
5X
Jumlah bahan baku yang dipesan
Rata-rata persediaan dalam unit
Nilai persediaan rata-rata

Biaya pesanan
Biaya penyimpanan
Jumlah Biaya persediaan
400 unit
#200
*Rp 200

**Rp   45
***Rp   80
Rp 125
300 unit
150
Rp 150
Rp   60
Rp   60
Rp 120
240 unit
120
Rp 120
Rp   75
Rp   48   
Rp 123      




Keterangan:
Teknik perhitungan 3X pesan
#200 unit = (400unit / 2)
* Rp 200 = 200 unit x Rp 1
** Rp 45 = 3 kali pesan @ Rp 15 per sekali pesan
*** Rp 80 = 40% X Rp Rp 200 nilai persediaan rata – rata
Teknik perhitungan untuk 4X pesan dan 5X pesan seperti pada 3X pesan.

Jika biaya penyimpanan dinyatakan dalam Rupiah per unit (missal Rp 0,4), maka EOQ dapat dihitung sebagai berikut.

=      √2 X 1.200 X 15  
=      √ 36.000  
=      300 unit
=      0,4         

Dalam satu tahun mengadakan pesanan 4X yaitu kebutuhan satu tahun 1.200 unit dibagi 300 unit, atau besarnya penggunaan bahan per bulan sebesar 100 unit atau setiap minggu sebesar 25 unit. Dengan demikian, pesanan dilakukan setiap12 minggu atau 3 bulan sekali. Jika EOQ 300 unit dan kebutuhan bahan baku selama satu periode (satu tahun) 1.200 unit, maka jumlah pesanan adalah 4X pesanan. Pada 4X pesanan biaya persediaan yang paling ekonomis dapat disajikan dalam tabel 12.1


Berdasarkan perhitungan dalam tabel 12.1 tersebut, maka biaya persediaan yang paling ekonomis adalah Rp 120, yaitu pada tingkat pesanan 400 unit sekali pesan, dan perusahaan hanya memesan 4X. Pada 3X kali pesanan biaya persediaan sebesar Rp 125, dan pada 5X pesanan, biaya persediaan sebesar Rp 123.

2.      Titik Pemesanan Kembali (Recorder Point)

Dalam pengelolaan persediaan bahan baku, perusahaan harus mempunyai persediaan besi (safety stock), yaitu suatu jumlah persediaan bahan baku yang harus selalu ada dalam gudang untuk menjaga kemungkinan terlambatnya bahan baku yang di pesan. Di samping itu, perusahaan juga harus memperhitungkan penggunaan bahan baku selama waktu menunggu datangnya bahan baku yang di pesan (lead time).

Titik pemesanan kembali adalah titik dimana pesanan bahan baku harus dilakukan. Hal ini merupakan fungsi dari EOQ, waktu tunggu pesanan dating atau tenggang waktu, dan persediaan besi atau persediaan pengaman (safety stock). Ketiga unsure tersebut dapat di sajikan rumus sebagai berikut:

Rumus titik pemesanan kembali:
(Tingkat penggunaan bahan selama tenggang waktu + besi)

Misalnya lead time 6 minggu, dan kebutuhan bahan baku tiap minggu 25 unit, dan safety stock ditentukan 40% dari kebutuhan selama lead time, re-order point adalah sebagai berikut:

        Re-order point (ROP) = (6 X 25) + 40%(6 X 25) = 150 + 60 = 210 unit

Safety stock juga dapat ditentukan berdasr kebutuhan bahan baku dalam beberapa minggu, misalnya dalam 5 minggu, kebutuhan bahan baku tiap minggu 25 unit, maka:
        Re-order point (ROP) = (6 X 25) + (5 X25) = 150 + 125 = 275 unit

Yang berhak menentukan besarnya safety stock dan lead time adalah manajer pabrik berdasar pengalaman dari waktu ke waktu dan pengetrapan teori dalam praktik produksi. Pada hakikatnya praktik produksi menentukan teori produksi. Oleh sebab itu, walau jenis produksinya sama, praktiknya belum tentu sama, dan teori untuk memecahkan masalah juga tiadak sama.

Secara grafis, penentuan jumlah pesanan dengan biaya yang paling ekonomis pada tabel 12.1 dapat disajikan dalam gambar 12.1.









Gambar 11.1
Jumlah pesanan yang paling ekonomis
 
   


















Keterangan:
°         Makin sering melakukan pesanan makin besar biaya pemesanan
°         Makin sering melakukan pemesanan, makin kecil biaya penyimpanan

Titik pemesanan kembali (reorder point), jika safety stock dinyatakan 5 minggu kali kebutuhan per minggu atau sebesar 125 unit, dan tenggang waktu pemesanan diterima 6 minggu kali kebutuhan per minggu sebesar 150 minggu, maka titik pemesanan kembali sebesar 275 unit. Jumlah pesanan yang paling ekonomis adalah sebesar 725 unit yaitu dari perhitungan EOQ 600 unit ditambah 125 persediaan besi (safety stock). Hubungan titik pemesanan kembali, persediaan besi dan persediaan maksimum dapat disajikan dalam gambar 12.2.


Gambar 11.2
Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)
 


















3.      Biaya Kehabisan Persediaan

Perusahaan takut bila terjadi kehabisan persediaan,. Bila perusahaan kehabisan persediaan maka akan melibatkan analisis empat faktor yaitu: (1) siklus persediaan per tahun, (2) unit kehabisan persediaan, (3) kemungkinan kehabisan persediaan, dan (4) biaya kehabisan persediaan per unit. Multiplier dari keempat faktor tersebut disebut biaya kehabisan persediaan. Dengan demikian, biaya kehabisan persediaan dapat disajikan dengan perhitungan:
Ø  Biaya kehabisan = (siklus persediaan per tahun x unit kehabisan persediaan x kemungkinan kehabisan persediaan x biaya kehabisan persediaan per unit)
Ø  Siklus persediaan per tahun = (kebutuhan bahan baku per tahun / EOQ)
Ø  Unit kehabisan persediaan = (pemakaian bahan baku harian atau mingguan – unit bahan baku tenggang waktu atau  lead time)
Ø  Kemungkinan kehabisan persediaan adalah probabilitas atas pemakain bahan baku harian
Ø  Biaya kehabisan persediaan ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan manajer pembelian
Ø  Pada tabel ilustrasi diatas menunjukkan bahwa kebutuhan bahan selama satu tahun 1.200 unit, EOQ 300 unit, selama satu tahun dilakukan pesanan 4X atau setiap 3 bulan atau 12 minggu; kebutuhan bahan per minggu (300 unit / 12 minggu) = 25 unit. Waktu tunggu datangnya pesanan 6 minggu atau (6 x 25 unit) = 150 unit, dan penggunaan maksimum per minggu 30 unit atau (6 x 30 unit) = 180 unit, maka kehabisan persediaan dalam unit adalah 180 unit dikurangi 150 unit sama dengan 30 unit. Jika diketahui bahwa kemungkinan distribusi pemakaian mingguan adalah:

Pemakaian
Mingguan                Kemungkinan                     
     30                               0,2              
     25                               0,5
     20                               0,2
     10                               0,1


Manajer produksi menetapkan kemungkinan pemakaian harian 0,2 dan biaya kehabisan persediaan per unit Rp 2,083. Berdasarkan informasi yang tersedia itu dapat dihitung biaya kehabisan persediaan:
(4 x 30 x 0,2 x Rp2,083) = Rp 50.

Kemudian dapat dihitung besarnya persediaan pengaman dalam unit dengan rumus: (biaya kehabisan persediaan = biaya memiliki persediaan-persediaan pengaman). Biaya memiliki persediaan pengaman adalah biaya penyimpangan (carrying costs) kali harga bahan kali unit persediaan pengaman: (40% x Rp 1 x X) = Rp 0,4X. Besarnya unit persediaan pengaman: (Rp 50 = Rp 0,4X), jadi X atau unit persediaan pengaman = 125 unit.

Keunggulan Model EOQ:

1)       Dapat dijadikan dasar penukaran (trade off) antara biaya penyimpanan dengan biaya persiapan atau biaya pemesanan (setup cost).
2)       Dapat mengatasi ketidakpastian penggunaan persediaan pengaman atau persediaan besi (safety stock).
3)       Mudah diaplikasikan pada proses produksi yang outputnya telah memiliki standar tertentu dan diproduksi secara massal.
4)       Lazim digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat. Jika ada pasien yang sakit mendadak dan perlu obat segera, apotek rumah sakit dapat melayani dengan cepat.

Kelemahan Model EOQ:

Hakikatnya model EOQ adalah model yang menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan pada mereka, sehingga penggunaan model ini terjadi berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi.

4.      Pengawasan Persediaan

Hakikat dari pengawasan persediaan barang adalah mulai bahan baku dipesan sampai produk jadi digunakan oleh konsumen, yang terdiri dari pengawasan fisik, nilai, dan biaya. Pengawasan barang meliputi pengawasan bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan pengawasan barang jadi. Pengawasan bahan baku dan bahan pembantu dimulai dari bahan dipesan sampai dengan permintaan pemakaian bahan dalam proses produksi; pengawasan itu meliputi fisik (jumlah unit, kerusakan, keuangan, kehilangan, dan tingkat perputaran), biayanya, dan nilainya dala bentuk satuan uang.

Pengawasan barang dalam proses meliputi produk cacat, produk rusak, produk hilang dalam proses produksi. Sedangkan pengawasan barang jadi meliputi rencana penjualan, jadwal pengiriman, dan pelayanan purna jual. Keempat jenis barang itu (bahan baku, bahan pembantu, barang dalam proses, dan barang jadi) jumlah persediaannya secara fisik harus dikendalikan, agar tidak terjadi kekurangan dan kelebihan. Kekurangan persediaan bahan baku dan bahan pemabantu dapat mengakibatkan proses produksi terganggu, dan kekurangan persediaan barang jadi akan mengakibatkan kesulitan memenuhi permintaan konsumen. Sebaliknya jika terjadi kelebihan persediaan, dapat mengakibatkan modal yang ditanamkan dalam persediaan tersebut besar, dan biaya modalnya besar.

5.      Model Tepat Pada Waktu (Just In Time Atau JIT)

Model JIT adalah model yang menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sejati; mereka dididik, dibina, dan diperlakukan sebagai bagian dari perusahaan yang dipasok bahan bakunya. Pengertian JIT adalah persediaan dengan nilai nol atau mendekati nol, artinya perusahaan tidak menanggung biaya persediaan. Bahan baku akan tepat datang pada saat dibutuhakan. Model yang demikian tentu saja pemasoknya adalah pemasok yang setia dan profesional. Dengan model ini terjadi efisiensi biaya persediaan bahan baku.
Dalam hubungannya dengan barang jadi (finished goods) model JIT juga diterapkan, dimana perusahaan hanya memproduksi sesuai dengan pesanan sehingga ia tidak mempnyai persediaan barang jadi. Dampaknya adalah penghematan biaya persediaan barang jadi. Model ini dapat diterapkan jika semua pihak yang terlibat dalam proses produk mulai dari pemasok sampai ke pelanggan memiliki motivasi kuat dalam pengendalian dan peningkatan kualitas berkelanjutan.

JIT bertujuan mengubah budaya perusahaan, yaitu usaha menjadi organisasi terbaik dari atas ke bawah; setiap orang adalah pakar bagi pekerjaannya sendiri dengan mengendalikan berpikir kolektif dan kreatif. Hakikatnya, JIT adalah peningkatan proses untuk menghindari masalah kronis, yaitu masalah yang ditimbulkan dari pemasok bahan baku yang mengakibatkan kerugian; masalah ini sulit diidentifikasi dan umunya dibiarkan, maka menjadi penyakit kronis yang sulit diobati. Hubungan kerja sama jangka panjang dengan pemasok harus dibina, pemasok tidak boleh dieksploitir demi keuntungan sesaat.

Prinsip dasar JIT adalah bahwa perusahaan tidak memiliki persediaan besi (safety stock). Dengan tidak memiliki safety stock, perusahaan dapat menghemat biaya persediaan. Dalam model ini pemasok menjadi mitra sejati yang loyal dan profesional karena setiap saat bahan baku diperlukan untuk proses produksi, pada saat itu pula bahan baku harus sudah ada di tempat proses produksi.

Motivasi semua pihak yang demikian itu hanya bisa terjadi bila mereka berpikir kritis dialektik, artinya setiap akibat harus dicari sebabnya, dan setiap obyek dicari saling hubungannya dengan obyek yang lainnya. Ishikawa menemukan teori untuk menelusuri sebab yang dapat menggunakan “Ishikawa Tulang Ikan”. Ia menjelaskan bahwa setiap kegagalan pasti ada sebabnya, dan penyebab itu dapat ditelusuri dari tujuh aspek yaitu aspek:
Ø  Tenaga manusia, kurang latihan, kurang pengetahuan, dan ketrampilan sehingga produktifitas rendah dan kualitas output rendah.
Ø  Metode kerja, tanpa petunjuk kerja yang jelas sehingga pekerja (buruh) bekerja tidak mengikuti aturan.
Ø  Peralatan, kurang perawatan, aus, dan teknologi sudah usang.
Ø  Material, salah menentukan spesifikasi: kualitas dan jenis
Ø  Lingkungan, kondisi kerja yang kurang menyenangkan atau kondisi kerja yang buruk yang mengakibatkan pekerja (buruh) tidak memiliki motivasi kerja.
Ø  Pengukuran, kurang tepat mengadakan pengukuran hasil kerja.
Ø  Kepemimpinan, gaya yang otokratik sehingga pekerja (buruh) tidak menghargai pemimpinnya (manajernya).

Jika salah satu dari tujuh aspek rusak, maka outputnya rusak, apalagi ketujuh aspek tersebut rusak semua. Setiap kesalahan atau kegagalan harus diperbaikki secara terus menerus agar produktifitas kerja dapat ditingkatkan, mutu dapat ditingkatkan, dan nilai persediaan dapat dikurangi. Di samping itu, perbaikan secara terus menerus juga dapat meningkatkan rancangan produk, perbaikan proses produksi, perbaikan distribusi, perbaikan promosi, perbaikan harga, dan perbaikan layanan purna jual. Hubungan input dengan output berdasarkan gambar Ishikawa Tulang Ikan disajikan dalam gambar 12.3.

Gambar 12.3.
Ishikawa Tulang Ikan (dilengkapi)
 







 

            

Keunggulan JIT
Keunggulan JIT antara lain adalah:

Ø  Menghilangkan pemborosan dengan cara memproduksi suatu produk hanya dalam kuantitas yang diminta pelanggan.
Ø  Dampak persediaan, persediaan kecil, mungkin nol.
Ø  Tata letak pabrik, dikelompokkan satu macam produk, atau sistem sel.
Ø  Pengelompokkan karyawan, dalam satu jenis produk.
Ø  Pemberdayaan karyawan, dilatih dan dididik terus menerus menyesuaikan dengan perubahan alat kerja dan metode kerja.
Ø  Pengendalian mutu total, semua orang bertanggung jawab terhadap mutu produk.


Kritik terhadap JIT

Kritik terhadap JIT anatara lain:
ü  Sulit suatu perusahaan yang memproduksi secara massal hanya melayani pesanan pelanggan saja, misalnya pabrik gula, kopi, sabun dan sebagainya, dan hanya memproduksi satu jenis produk.
ü  Dalam industri sulit sekali suatu tidak memiliki persediaan, khususnya yang bahan bakunya impor.
ü  Sulit dilakukan oleh pabrik-pabrik pada umumnya yang hanya memproduksi satu macam komoditi dengan teknologi khusus.
ü  Menempatkan karyawan pada keahlian khusus pada satu jenis produk tidak mudah, dan mungkin biayanya mahal.
ü  Pada umumnya perusahaan disibukkan oleh kegiatan rutin memproduksi komoditi terus menerus tanpa menghiraukan peningkatan ketrampilan dan pengetahuan karyawan; mereka lebih suka membajak karyawan lain yang sudah ahli sehingga tidak perlu mendidik dan melatih; teknologi dan metode kerja tidak begitu mudah diganti.
ü  Karyawan pada umumnya bekerja atas dasar upah; mereka bekerja bukan ingin merealisasikan bakat dan pengetahuannya tetapi mencari upah, jadi mereka pada umumnya kurang peduli terhadap mutu produk.


Item
Agustus
Desember
Biaya Tahunan
Bagian pembelian
Bagian administrasi
Bagian gudang
5.000
4.000
3.000
4.500
3.000
2.500
56.000
37.000 
33.000
Jumlah
12.000
10.000
126.000
    

Yang termasuk biaya bagian pembelian adalah gaji manajer dan pegawai, biaya order, dan biaya peralatan kantor. Yang termasuk biaya bagian administrasi pembelian adalah gaji manajer dan pegawai dan biaya peralatan kantor, dan yang termasuk biaya gudang adalah gaji manajer, pengawas, pegawai penerima, pegawai pengirim, biaya angkutan, biaya peralatan. Bagian pembelian bertanggung jawab semua pemesanan barang, bagian administrasi bertanggung jawab atas pembayaran utang dagan, dan bagian gudang bertanggung jawab kelancaran penerimaan dan pengiriman barang. Kantor dan gudang disewa dengan harga Rp 20.000 per tahun, biaya asuransi Rp 2.000 per tahun, dan pajak bumi dan bangunan Rp 3.000 per tahun. Pajak perseroan 50% per tahun, bunga jangka pendek 18% per tahun, dan bunga jangka panjang 16% per tahun. Data mengenai persediaan dalam tahun yang bersangkutan adalah: persediaan awal per 1 Januari Rp 50.000, persediaan akhir per 31 Desember Rp 30.000, saldo persediaan tertinggi bulan Agustus Rp 60.000, dan saldo terendah bulan Desember Rp 40.000, Persediaan rata-rata setiap bulan Rp 55.000, Saudara diminta untuk:
1)       Menghitung biaya per pesanan, biaya penyimpangan dan pemeliharaan, dan apa rekomendasi Anda?
2)       Jika perusahaan menjualkan 300 unit per bulannya, dengan harga Rp 45 per unit, dan rata-rata persediaan 60 unit, biaya pesanan sekali pesan Rp 15, hari kerja dinyatakan 360 hari per tahun, biaya mengelola persediaan Rp 432 per tahun berapa hari setiap pesanan dilakukan dan berapa besarnya biaya penyimpanan dan pemeliharaan persediaan?


MANAJEMEN MODAL KERJA

Modal kerja adalah investasi dalam harta jangka pendek atau investasi dalam harta lancar (current assets). Modal kerja dapat dikategorikan menjadi dua yaitu modal kerja kotor (gross working capital) dan modal kerja bersih (net working capital). Modal kerja kotor adalah jumlah harta lancar, dan modal kerja bersih adalah jumlah harta lancar dikurangi jumlah utang lancar (current liabilities). Manajemen modal kerja mengelola harta lancar dan utang lancar agar harta lancar selalu lebih besar daripada utang lancar.

Salah satu tugas manajer keuangan adalah mengelola harta lancar untuk membiayai kegiatan bisnis dan untuk membayar utang yang jatuh tempo. Oleh sebab itu, harta lancar itu harus dibiayai dengan utang jangka pendek atau utang jangka panjang. Di Negara-negara maju, bunga utang jangka pendek lebih murah daripada bunga utang jangka panjang. Hal itu disebabkan resiko pengembalian utang jangka pendek lebih kecil daripada utang jangka panjang , dan penawaran modal cukup besar; manajer keuangan pada umumnya cenderung memilih membiayai harta lancar dengan utang jangka pendek. Tetapi di Negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, bunga utang jangka pendek lebih mahal daripada utang jangka panjang, karena penawaran modal relatif kecil dan untuk memperoleh modal secara cepat sulit dipenuhi, oleh sebab itu manajer keuangan pada umunya cenderung memilih membiayai harta lancar dengan utang jangka panjang.

Modal kerja dalam hal ini adalah modal kerja bersih, berubah mengikuti transaksi bisnis, khususnya tingkat penjualan. Manajemen pada umumnya mengambil kebijakan modal kerja agresif, moderat, konservatif, tergantung keberaniannya mengamnbil resiko bisnis. Kesalahan dalam mengelola modal kerja mengakibatkan hilangnya kepercayaan internal dan eksternal. Kepercayaan internal adalah kepercayaan dari pegawai dan buruh, yang disebabkan karena gaji dan upah tidak dibayar tepat waktu. Sedangkan kepercayaan eksternal adalah kepercayaan dari partner bisnis khususnya kreditur, yang disebabkan karena utang yang jatuh tempo tidak dibayar tepat waktu. Jika suatu perusahaan kehilangan dua kepercayaan tersebut dapat dipastikan akan bangkrut.

1.      Pengertian Modal Kerja

Weston dan Copeland (1997:239) menjelaskan modal kerja ialah analisis saling hubungan antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Modal kerja juga disebut manajemen keuangan jangka pendek. Dalam perspektif yang luas, manajemen keuangan jangka pendek merupakan upaya perusahaan untuk mengadakan penyesuaian keuangan terhadap perubahan jangka pendek; perusahaan harus memberi tanggapan yang cepat dan efektif. Bidang keputusan ini sangat penting karena sebagian besar waktu manajer keuanagn digunakan untuk menganalisis setiap perubahan aktiva lancar dan utang lancar.

Gifman (1994:643) menjelaskan bahwa modal kerja adalah jumlah harta lancar yang merupakan bagian dari investasi yang bersirkulasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam suatu kegiatan bisnis. Weston dan Brigham (1981:245) menjelaskan bahwa manjemen modal kerja adalah investasi perusahaan dalam jangka pendek; kas, surat-surat berharga (efek), piutang,, persediaan. Petty, Keown, Scott, dan Martin (1993:532) menjelaskan bahwa secara tradisional modal kerja dapat didefinisikan sebagai investasi perusahaan dalam harta lancar.

Manajemen modal kerja meliputi administrasi harta lancar dan utang lancar, mempunyai fungsi utama yaitu; (1) menyesuaikna tingkat volume penjualan dan penjualan musiman; di mana silklus volume penjualan jangka pendek ini merupakan syarat untuk prospek jangka panjang yang menguntungkan, (2) membantu perusahaan memaksimumkan nilainya dengan cara menurunkan biaya modal dan menaikkan laba.
Modal keja sangat penting bagi perusahaan karena; (1) sebagian besar pekerjaan manajer keuangan dicurahkan pada kegiatan operasi perusahaan sehari-hari yang memerlukan modal keja, (2) pada umumnya nilai harta lancar suatu perusahaan kira-kira lebih dari 50% dari jumlah harta, hal ini perlu pengelolaan yang serius, (3) khususnya bagi perusahaan kecil, manajemen modal kerja sangat penting karena mereka sulit memperoleh sumber pembiayaan dari pasar modal, (4) perkembangan pertumbuhan penjualan berkaitan erat dengan kebutuhan modal kerja (Brigham dan Weston, 1981:245-246).

Modal kerja adalah investasi perusahaan dalam jangka pendek: kas, surat-surat berharga (efek), piutang, dan persediaan. Modal kerja dapat diklasifikasi menjadi empat pengertian, yaitu:
1)       Modal kerja kotor (gross working capital) adalah jumlah harta lancar perusahaan. Modal kerja ini merupakan kekuatan “semu” karena sebagian diperoleh dari utang jangka pendek, maka ia dapat dikatakan sebagai modal kerja tradisional atau modal kerja kuantitatif.
2)       Modal kerja bersih (net working capital) adalah harta lancar dikurangi utang lancar. Modal kerja ini merupakan kekuatan intern untuk menggerakan kegiatan bisnis, yaitu untuk membiayai kegiatan operasi rutin dan untuk membayar semua utang yang jatuh tempo. Ia dapat dikatakan sebagai modal kerja kualitatif.
3)       Modal kerja fungsioal yaitu fungsinya harta lancar dalam menghasilkan pendapatan saat ini (current income) yang terdiri dari kas persediaan, piutang sebesar harga pokok penjualan dan penyusunan.
4)       Modal kerja potensial yang terdiri dari efek (surat berharga yaitu saham dan obligasi yang mudah dipasarkan) dan besarnya keuntungan yang termasuk dalam jumlah piutang.

Keempat pengertian modal kerja tersebut dapat disajikan dari angka-angka neraca yaitu disajikan dalam tabel 13.1. Jumlah modal kerja dapat dihitung sebagai berikut:
1)       Modal kerja bruto (Gross Working Capital) atau Modal Kerja Kuantitatif sebesar jumlah harta lancar yaitu sebesar Rp 1.400.
2)       Modal kerja netto (Net Working Capital) atau Modal Kerja Kualitatif sebesar harta lancar dikurangi utang lancar yaitu Rp 1.400 – Rp 560 = Rp 840. Modal kerja ini lazim disebut Modal Kerja Permanen karena adanya dalam perusahaan lebih dari satu tahun atau secara permanen. Makin tinggi jumlah modal kerja permanen makin tinggi tingkat likuiditas perusahaan.
3)       Modal kerja fungsional (Functional Working Capital); kas + persediaan + (75% X piutang) + penyusutan aktiva tetap. Jumlah modal kerja fungsional = Rp 200 + Rp 840 + Rp 120 +Rp 500 = Rp 1.660. Unsur-unsur tersebut secar nyata berfungsi menggerakkan kegiatan perusahaan.
4)       Modal kerja potensial (Potensial Working Capital); keuntungan dari piutang + efek, (25% X Rp 160) + Rp 200 = Rp 240. Keuntungan atau laba dari piutang, di mana piutang asalmya dari penjualan merupakan kemampuan manajemen menggali sumber dana dari bisnis yang dapat digunakan untuk modal kerja dan perluasan usaha. Sedangkan efek atau surat berharga yang mudah dipasarkan (marketable security) merupakan kelebihan kas yang ditanam dalam surat-surat berharaga untuk tujuan mendapatkan keuntungan.










Tabel 12.1
Neraca PT Bola Dunia: 31 Desember 2004
(Perhitungan Dalam Rupiah)

Kas                                                200
Efek (Sekuritas)                            200
Piutang                                          160
Persediaan                                     840
Total harta lancar (a)              1.400
Tanah                                            100
Mesin                                            700
Penyusutan Mesin                      (100)
Gedung                                      1.000
Penyusutan Gedung                   (200)
Total harta tetap (b)               1.500
Intangible assets (c)                     100
Hutang Dagang
Hutang Wesel
Hutang Pajak
Hutang Biaya
Total hutang lancar (d)
Hutang Obligasi 5% (e)
Modal Saham
Agio Saham
Laba ditahan
Total modal sendiri (f)


300
100
160
60
560 
600 
1.200
200
440
1.840


Total harta (a+b+c)                3.000
Total klaim (d+e+f)
3.000

Tabel 12.2
Laba-Rugi PT Bola Dunia: 31 Desember 2004
(Prhitungan Dalam Rupiah)

Keterangan
(Rp)
Rasio                        
Penjualan Bersih
Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor atas penjualan
Biaya Pemasaran (penjualan)
Biaya administrasi
Laba opersai (EBIT)
Bunga obligasi 5% X 600
Laba sebelum pajak (EBT)
Pajak Perseroan 40% X 400
Laba bersih (EAT)
4.000
3.000
1.000
300
270
430
30
400
160
240
100,00%
75,00%
25,00%
7,50%
6,75%
10,75% 
0,75%
10,00%
4,00%    
6,00%

Keterangan:
1)       Laba kotor 25%, berarti besarnya harga pokok penjulan 75%, dan ini berarti bahwa nilai piutang secara fungsional sebesar 75% X Rp 160 = Rp 120.
2)       Besarnya penyusutan Rp 500 yang terkandung dalam harga pokok penjualan, biaya pemasaran dan biaya administrasi. Karena ketiga unsur tersebut masing-masing memiliki aktiva tetap yang disusut.

Manajemen modal kerja meliputi administrasi harta lancar dan utang lancar, mempunyai fungsi utama yakni:
1)       Menyesuaikan perubahan tingkat volume produksi dan penjualan; jumlah modal kerja sangat tergantung pada volume kegiatan bisnis, makin tinggi kegiatan bisnis, makin besar modal kerja dibutuhkan untuk membiayai kegitan tersebut.
2)       Membantu memaksimumkan nilai perusahaan, yaitu dengan cara memperkecil biaya modal untuk meningkatkan hasil (return). Makin besar modal kerja diperoleh dari pinjaman jangka pendek tanpa bunga, misalnya dari para pemasok, maka makin kecil dari sumber modal permanen, dan dengan demikian akan menurunkan biaya modal.

Hakikatnya, modal kerja adalah jumlah harta lancar yang merupakan bagian dari investasi yang bersirkulasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain dalam suatu kegiatan bisnis, yaitu dari kas berputar ke biaya material, upah buruh, biaya overhead pabrik biaya pemasaran, biaya umum, persediaan, penjualan, piutang, dan akhirnya kembali ke kas. Perputaran tersebut harus cepat agar supaya dapat meningkatkan pendapatan atas penjualan dan laba.

2.      Perkembangan Modal Kerja

Dunia bisnis dimulai dari zaman agraris atau zaman feodalisme, di mana bidang pertanian merupakan unsur pokok penunjang kegiatan bisnis. Bidang pertanian merupakan pemasok bahan baku industri, oleh sebab itu hubungan antara industri dengan pertanian sangat erat sekali. Hubungan itu dijembatani dengan tersedianya modal kerja untuk membeli produk pertanian yang ditentukan oleh faktor musim, kemudian mengolahnya menjadi komoditi manufaktur dan menjualnya; siklusnya dalam kurun waktu satu tahun. Oleh sebab itu, kebutuhan modal kerja pada umumnya dipenuhi dengan utang jangka pendek. Gambar 13.1 menggambarkan hubungan harta tetap dengan modal kerja (harta lancar).

Gambar 12.1
Hubungan antara Harta Tetap dengan Modal Kerja (Harta Lancar)
 














Gambar 13.1 menunjukkan bahwa pada hakikatnya modal kerja tidak akan sampai ke titik nol. Itu berarti bahwa sebagian modal kerja dibiayai oleh utang jangka panjang yang akan digunakan untuk membiayai administrasi bisnis sehari-hari, misalnya untuk membayar gaji dan upah; biya telpon, air, listrik; biaya kantor, dan lain-lain.

Perkembangan modal kerja selanjutnya dapat dilihat pada gambar 13.2. Modal kerja dapat dikategorikan menjadi modal kerja permanen dan modal kerja musiman, di mana modal kerja musiman dibiayai oleh utang jangka pendek.

Gambar 13.2
Perkembangan Modal Kerja di Era Industri





 








3.      Pentingnya Modal Kerja

Modal kerja sangat penting bagi perusahaan. Perusahaan yang tidak memiliki kecukupan modal kerja akan sulit untuk menjalankan kegiatannya, atau akan macet operasinya. Tanpa modal kerja yang cukup, suatu perusahaan akan kehilangan kesempatan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Jika hal itu terjadi, ia akan ditinggalkan pelanggannya, dan menderita kerugian. Oleh sebab itu, sebagian besar pekerjaan manajer keuangan dicurahkan pada kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Besarnya modal kerja tergantung pada jenis bisnis, tetapi pada umumnya nilai modal kerja suatu perusahaan kira-kira lebih dari 50% dari jumlah harta, maka perlu pengelolaan yang serius.

Khususnya bagi perusahaan kecil, manajemen modal kerja sangat penting karena mereka sulit memperoleh sumber pembiayaan dari pasar modal dan pasar uang. Ia harus membiayai kegiatan bisnis dari modal sendiri karena belum memperoleh kepercayaan dari pihak lain atau sulitnya masuk ke pasar modal. Perusahaan kecil sulit akan lambat berkembang karena ia hanya didukung oleh modal sendiri, khususnya dari laba ditahan.

Perkembangan pertumbuhan penjualan berkaitan erat dengan kebutuhan modal kerja. Perusahaan yang sedang tumbuh ia banyak melakukan kegiatan terutama kegiatan produksi dan pemasaran. Kedua jenis kegiatan ini memerlukan modal kerja yang cukup. Perusahaan yang tumbuh berkembang tanpa didukung oleh modal kerja yang kuat, ia akan kembali layu dan akhirnya mati. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa modal kerja adalah “ruh” atau energi internal yang menggerakkan seluruh kegiatan perusahaan. Hampir semua perusahaan dalam berbagai bidang kegiatan bisnis, mengelola modal kerja meliputi tiga aspek yaitu:
1)       Kebijakan modal kerja
2)       Manajemen harta lancar
3)       Sumber pembiayaan jangka pendek

4.      Kebijakan Modal Kerja

Kebijakan modal kerja dihubungkan dengan jangka waktu pinjaman dan tingkat bunga, makin panjang umur pinjaman makin tinggi tingkat bunganya. Pinjaman jangka panjang untuk modal kerja, pihak yang meminjam harus membayar bunga yang lebih besar daripada pinjaman jangka pendek. Karena masa mendatang adalah penuh ketidakpastian sehingga pihak yang memberi pinjaman memperhitungkan risiko ketidakpastian tersebut. Modal kerja yang dipenuhi dengan pinjaman jangka panjang memiliki tingkat likuiditas tinggi, risiko kegagalan memenuhi kewajiban-kewajiban yang jatuh tempo kecil. Pada umumnya perusahaan menggunakan pinjaman jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan modal kerjanya, dan perusahaan yang demikian disebut menganut kebijakan modal kerja yang konservatif.

Kebijakan modal kerja yang lainnya adalah bahwa modal kerja harus dihubungkan dengan harta. Harta lancar sebaiknya dibiayai dengan utang lancar, harta tetap sebauiknya dibiayai dengan utang jangka panjang dan modal sendiri. Perusahaan yang mampu melaksanakan kegiatan bisnis dengan kebijakan modal kerja yang demikian melakukan kebijakan modal kerja yang agresif; risikonya besar karena semua kewajiban yang jatuh tempo harus dapat dipenuhi oleh tersedianya harta lancar. Perusahaan yang melakukan kebijakan model ini lebih banyak gagalnya, karena struktur harta lancar itu ada yang sulit dicairkan menjdai uang tunai yaitu persediaan, khususnya persediaan barang setengah jadi atau persediaan barang dalam proses. Perusahaan pada umumnya memiliki tiga jenis kebijakan modal kerja, yaitu:
1)       Kebijakan yang agresif, yaitu modal kerja dipenuhi dengan seluruhnya dengan utang jangka pendek
2)       Kebijakan yang moderat, yaitu modal kerja dipenuhi 50% dengan utang jangka pendek dan 50% dipenuhi dengan utang jangka panjang
3)       Kebijakan yang konservatif, yaitu seluruh modal kerja dipenuhi dengan utang jangka panjang

Berikut ini disajikan dalam tabel 13.3 contoh ketiga kebijakan modal kerja dan dampaknya terhadap tigkat pengembalian modal sendiri (Retun on Equity atau ROE).

Tabel 12.3
Kebijakan Modal Kerja

Items                                                 Agresif               Moderat           Konservatif 
Harta lancar                                             150                        200                      300
Harta tetap                                               200                        200                      200 
Total harta                                               350                        400                      500

Hutang jangka pendek, 12%                   200                        100                        50
Hutang jangka panjang, 10%                     0                         100                      200  
Total utang                                              200                        200                      250
Modal sendiri                                          150                        200                      250
Total utang dan Modal                            350                        400                      500
              
Rasio lancar                                         0,75:1                        2:1                       6:1
Bunga                                                        24                         22                        26
                                                      12% x 200       (12% x 100) +       (12% x 50) +        
                                                                                 (10% x 100)         (10% x 200)
Biaya tetap                                               200                       270                      385
Biaya variabel                                  0,7 sales              0,65 sales             0,60 sales       

Penjualan:
Ekonomi kuat                                       1.200                     1.200                  1.200  
Ekonomi normal                                     900                      1.000                  1.150
Ekonomi kritis                                        700                         900                  1.050

Keterangan: Pajak perseroan 40%

Tabel 12. 4
Kebijakan Modal Kerja: Kondisi Ekonomi Kuat

Keterangan                                 Agresif            Moderat         Konservatif         
Penjualan                                        1.200                 1.200                     1.200
Biaya variabel (0,7;0,65;0,6)             840                   780                        720
Marjin kontribusi                               360                   420                        480
Biaya tetap                                         200                   270                        385  
Laba operasi (Earning
Before Interest, Tax, EBIT)                 160                   150                         95 
Bunga                                                   24                     22                         26
Laba sebelum pajak                            136                   128                         69
Pajak perseroan 40%                            54                     51                         28   
Laba bersih (Earning After
Tax, EAT)                                            82                     77                          41  
ROI = EBIT / Total Assets                46%                  38%                      19% 
ROE = EAT / Equity                         54%                  38%                      17%

    

Tabel 12. 5
Kebijakan Modal Kerja: Kondisi Ekonomi Normal

Keterangan                                 Agresif            Moderat         Konservatif         
Penjualan                                           900                 1.000                     1.150
Biaya variabel (0,7;0,65;0,6)             630                   650                        690
Marjin kontribusi                               270                   350                        460
Biaya tetap                                         200                   270                        385  
Laba operasi (Earning
Before Interest, Tax, EBIT)                 70                     80                          75
Bunga                                                   24                     22                          26
Laba sebelum pajak                              46                     58                         49
Pajak perseroan 40%                            18                     23                         20   
Laba bersih (Earning After
Tax, EAT)                                            28                      35                          29  
ROI = EBIT / Total Assets                20%                  20%                      15% 
ROE = EAT / Equity                         18%                  17%                      12%  
     
Tabel 13. 6
Kebijakan Modal Kerja: Kondisi Ekonomi Kritis

Keterangan                                 Agresif            Moderat         Konservatif         
Penjualan                                           700                   800                     1.050
Biaya variabel (0,7;0,65;0,6)             490                   520                        630
Marjin kontribusi                               210                   280                        420
Biaya tetap                                         200                   270                        385  
Laba operasi (Earning
Before Interest, Tax, EBIT)                 10                     10                          35
Bunga                                                   24                     22                          26
Laba sebelum pajak                            (14)                  (12)                           9
Pajak perseroan 40%                             6                       5                             4
Laba bersih (Earning After
Tax, EAT)                                            (8)                    (7)                            5   
ROI = EBIT / Total Assets                  3%                    3%                         7% 
ROE = EAT / Equity                         (6%)                  (4%)                        2%  

Keterangan:
1)       Dalam kondisi ekonomi kritis, modal kerja harus dipenuhi dengan utang jangka panjang agar kegiatan bisnis lancar. Jika kebutuhan modal kerja dipenuhi dengan utang jangka pendek baik model agresif maupun model moderat, perusahaan akan kesulitan menjalankan kegiatan bisnisnya, sehingaa volume penjualan menurun.
2)       Akibatnya, perusahaan menderita kerugian. Modal kerja mempunyai dampak langsung terhadap volume kegiatan bisnis atau volume produksi dan penjualan. Perusahaan yang tidak memiliki modal kerja permanen, sulit untuk menjalankan bisnisnya dalam kondisi krisis ekonomi.

5.      Kebutuhan Modal Kerja

Suatu perusahaan dapat berjalan lancar jika didukung oleh modal kerja yang memadai. Manajer keuangan harus menyediakan modal kerja sesuai dengan kebutuhan operasi, yaitu untuk: pembelian bahan baku, pembayaran upah buruh, pembayaran biaya overhead pabrik, pembayaran biaya pemasaran, pembayaran biaya administrasi, pembayaran pajak, pembayaran dividend, pembayaran jasa produksi, pembayaran angsuran utang dan bunga, dan lain-lain kegiatan rutin perusahaan. Berikut ini disajikan teknik perhitungan kebutuhan modal kerja. PT ABC memproduksi 100 unit produk ABC setiap harinya. Untuk memproduksinya dibutuhkan biaya-biaya sebagai berikut:
1)       Uang muka untuk pembelian bahan baku jenis A adalah 10 hari, harga per unit bahan baku Rp 30, dibeli 100 unit.
2)       Uang muka untuk pembelian bahan baku jenis B adalah 5 hari, harga per unit bahan baku Rp 20, dibeli 100 unit.
3)       Tanpa uang muka untuk pembelian bahan baku jenis C, harga per unit bahan baku Rp 10, dibeli 100 unit.
4)       Upah buruh Rp 10 unit output.
5)       Biaya overhead pabrik Rp 9 per unit output.
6)       Proses produksi 5 hari.
7)       Barang jadi disimpan di gudang semua jenis produk 5 hari.
8)       Rata-rata penagihan piutang untuk produk rata-rata 30 hari.
9)       Biaya pemasaran Rp 50.000 dan biaya administrasi Rp 75.000 per bulan.
10)   Kas besi Rp 50.000
11)   Hari kerja 25 hari per bulan.

Keterangan:
1)       Dana yang terikat pada bahan baku A = uang muka 10 hari + proses produksi 5 hari + gudang barang jadi 5 hari + penagihan piutang 30 hari = 50 hari.
2)       Dana yang terikat pada bahan baku B = uang muka 5 hari + proses produksi 5 hari + gudang barang jadi 5 hari + penagihan piutang 30 hari = 45 hari.
3)       Dana yang terikat pada bahan baku C = uang muka 0 hari + proses produksi 5 hari + gudang barang jadi 5 hari + penagihan piutang 30 hari = 40 hari.

Tabel 12.7
Kebutuhan Modal kerja

Berdasarkan data diatas dapat disusun kebutuhan kas sebagai berikut:

Keterangan
Jumlah (Rp)
Bahan baku A, 100 unit x Rp 30 x 50 hari
Bahan baku B, 100 unit x Rp 20 x 45 hari
Bahan baku C, 100 unit x Rp 10 x 40 hari
Upah buruh, 100 unit x Rp 10 x 40 hari
Biaya overhead pabrik, 100 unit x Rp 9 x 40 hari
Biaya pemasaran, (Rp50.000 / (100 x 25)) x 100 unit x 40
Biaya administrasi, (Rp 75.000 / (100 x 25)) x 100 unit x 40
Persediaan kas minimum atau safety cash
150.000
90.000
40.000  
40.000
36.000   
80.000
120.000    
50.000  
Jumlah modal kerja yang dibutuhkan
606.000

Keterangan:
1)       Jika perusahaan tidak memiliki kecukupan modal kerja, maka kegiatan operasinya akan terganggu dan kepercayaan dari pihak ketiga akan berkurang.
2)       Perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang memiliki modal kerja kualitatif atau modal kerja permanen yang sesuai dengan kebutuhannya.
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar