Selasa, 30 April 2013

Makalah Pertama ku


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
              Perkembangan anak adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari pematangan. Di sini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem yang berkembang sedemikian rupa perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
              Biasanya perkembangan anak diikuti pertumbuhan sehingga lebih optimal dan tergantung pada potensi biologik seseorang. Potensi tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetik, lingkungan bio – fisiko – psiko – social dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri tersendiri pada setiap anak.
              Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Karena pada masa ini pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Pada masa ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas, kesadaran sosial, kesadaran emosional dan inteligensia berjalan sangat cepat. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara anak dengan orang tuanya. Perkembangan anak akan optimal bila interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap perkembangan.
              Anak usia pra sekolah merupakan periode penting mendapatkan pengalaman dari aktivitas dan rasa ingin tahu, sehingga membutuhkan perhatian orang tua yang besar.



B.       RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumusan masalah adalah sebagai berikut : “Bagaimana proses pertumbuhan dan perkembangan anak?”

C.      TUJUAN
1.      Untuk mengetahui pengertian tumbuh kembang anak
2.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
3.      Untuk mengetahui ciri-ciri tumbuh kembang anak
4.      Untuk mengetahui tahap tumbuh kembang anak
5.      Untuk mengetahui deteksi dini tumbuh kembang anak
6.      Untuk mengetahui masalah yang terjadi pada tumbuh kembang anak
7.      Untuk mengetahui gizi yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Pengertian Tumbuh Kembang
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Sedangkan pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan per definisi adalah sebagai berikut :
1.         Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun induvidu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang (cm, meter).
2.         Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur sebagai hasil dari proses pematangan. Menyangkut perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Meskipun pertumbuhan dan perkembangan mempunyai arti yang berbeda, namun keduanya saling mempengaruhi dan berjalan secara bersamaan. Pertambahan ukuran fisik akan disertai dengan pertambahan kemampuan anak

B.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Pola tumbuh kembang secara normal antara anak yang satu dengan yang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh interaksi banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.


1.    Faktor Dalam (Internal)
a.    Genetika
Faktor genetik akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan dan kematangan tulang, alat seksual, serta saraf, sehingga merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang, yaitu :
1)   Perbedaan ras, etnis, atau bangsa
2)   Keluarga
3)   Umur
4)   Jenis Kelamin
5)   Kelainan Kromosom
b.    Pengaruh hormon
Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu saat janin berumur 4 bulan. Pada saat itu, terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon yang berpengaruh terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary. Selain itu, kelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin yang berguna untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
2.    Faktor Eksternal (lingkungan)
Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi tiga yaitu pranatal, kelahiran, dan pascanatal.
a.    Faktor Pranatal (selama kehamilan), meliputi :
1)   Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama selama trimester akhir kehamilan.
2)   Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat menyebabkan kelainan congenital misalnya club foot.
3)   Toksin/zat kimia, radiasi
4)   Kelainan endokrin
5)   Infeksi TORCH atau penyakit menular seksual
6)   Kelainan imunologi
7)   Psikologis ibu

b.   Faktor Kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forcep dapat menyebabkan trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya kerusakan jaringan otak.
c.    Faktor Pascanatal
Seperti halnya pada masa pranatal, faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak adalah gizi, penyakit kronis/kelainan kongenital, lingkungan fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosioekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi, dan obat-obatan.

C.      Ciri-Ciri Tumbuh Kembang Anak
1.    Ciri-ciri pertumbuhan, antara lain :
a.    Perubahan ukuran
Perubahan ini terlihat jelas pada pertumbuhan fisik yang dengan bertambahnya umur anak terjadi pula penambahan berat badan,tinggi badan, lingkar kepala , dll.
b.    Perubahan proporsi
Selain bertambahnya ukuran-ukuran, tubuh juga memperlihatkan  perubahan proporsi. Tubuh anak  memperlihatkan  perbedaan proporsi bila dibandingkan dengan tubuh orang dewasa. Pada bayi baru lahir titik pusat terdapat kurang lebih setinggi umbilikus, sedangakan pada orang dewasa titik pusat tubuh terdapat  kurang lebih setinggi simpisis pubis.Perubahan proporsi tubuh mulai usia kehamilan dua bulan sampai dewasa.
c.    Hilangnya ciri-ciri lama
Selama proses pertumbuhan  terdapat hal-hal yang terjadi perlahan –lahan, seperti menghilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu dengan hilangnya refleks  primitif.
d.    Timbulnya ciri-ciri baru
Timbulnya ciri-ciri baru ini adalah akibat pematangan fungsi-fungsi organ. Perubahan fisik yang penting selama pertumbuhan adalah munculnya gigi tetap dan munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti rambut pubis dan aksila, tumbuhnya buah dada pada wanita dll.

2.    Ciri-ciri perkembangan, antara lain :
a.    Perkembangan melibatkan perubahan
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan  disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan sistim reproduksi misalnya, disertai dengan perubahan pada organ kelamin. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh secara umum, perubahan proporsi tubuh, berubahnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-ciri baru sebagai tanda pematangan.
b.    Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya
Seseorang tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Misalnya, seseorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia berdiri. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya .
c.    Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut  dua hukum yang tetap, yaitu:
1)   Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah kaudal. Pola ini disebut pola sefalokaudal.
2)   Perkembangan  memiliki terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerakan kasar) lalu berkembang di daerah distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan dalam gerakan halus. Pola ini disebut proksimoldistal.
d.    Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur berurutan, tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, berdiri sebelum berjalan dll.
e.     Perkembangan mempunyai kacepatan yang berbeda
Perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda –beda. Kaki dan tangan berkembang pesat pada awal masa remaja. Sedangkan bagian tubuh yang lain mungkin berkembang pesat pada masa lainnya.
f.     Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat perkembanganpun demikian, terjadi peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi dan lain-lain.

D.      Tahap-Tahap Tumbuh Kembang Anak
Pada dasarnya manusia dalam kehidupannya mengalami berbagai tahapan tumbuh kembang dan setiap tahap mempunyai ciri tertentu. Tahapan tumbuh kembang yang paling memerlukan perhatianadalah pada masa anak-anak.
Ada beberapa tahapan tumbuh kembang pada masa anak-anak. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :
1.    Masa Pranatal
Kehidupan bayi pada masa prenatal dikelompokkan menjadi dua periode yaitu :
a.     Masa embrio yang dimulai sejak konsepsi sampai kehamilan 8 minggu. Ovum yang telah dibuahi akan datang dengan cepat menjadi suatu organisme yang berdeferensiasi secara pesat untuk membentuk berbagai sistem organ tubuh.
b.    Masa fetus yang dimulai sejak kehamilan 9 minggu sampai masa kelahiran. Masa fetus terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah masa fetus dini (usia 9 minggu sampai trimester dua), dimana terjadi percepatan pertumbuhan dan pembentukan manusia sempurna serta alat tubuh mulai berfungsi. Yang kedua adalah masa fetus lanjut (trimester akhir) yang ditandai dengan pertumbuhan tetap yang berlangsung cepat disertai dengan perkembangan fungsi-fungsi.
2.    Masa Neonatal
            Masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ tubuh. Saat lahir, berat badan normal dari bayi yang sehat berkisar antara 2500-4000 gram, panjang badan berkisar 50 cm dan berat otak sekitar 350 gram. Selama 10 hari pertama biasanya terdapat penurunan berat badan sekitar 10% dari berat badan lahir, kemudian berat badan bayi akan berangsur-angsur mengalami kenaikan.
            Masa neonatal ini, refleks-refleks primitif yang bersifat fisiologis akan muncul. Diantaranya adalah refleks moro, yaitu refleks merangkul, yang akan hilang pada usia 3-5 bulan, refleks menghisap (sucking refleks); refleks menoleh (rooting refleks); refleks mempertahankan posisi leher/kepala (tonick neck refleks); refleks memegang (palmar graps refleks) yang akan menghilang pada usia 6-8 tahun. Refleks-refleks tersebut terjadi secara simetris dan akan menghilang seiring dengan bertambahnya usia. Fungsi pendengaran dan penglihatan juga mulai berkembang.
3.    Masa bayi 1-12 bulan
            Pertumbuhan dan perkembangan terjadi secara cepat. Pada umur 5 bulan berat badan anak sudah 2 kali lipat berat badan lahir, sementara pada umur 1 tahun berat badannya sudah menjadi 3 kali lipat. Sedangkan untuk panjang badan, pada umur 1 tahun sudah menjadi satu setengah kali panjang badan saat lahir. Pertambahan lingkar kepala juga pesat. Pada 6 bulan pertama, pertumbuhan lingkar kepala sudah mencapai 50%. Oleh karena itu, diperlukan pemberian gizi yang baik, yaitu dengan memperhatikan prinsip menu gizi seimbang.
            Pada tiga bulan pertama, anak berusaha mengelola koordinasi bola mata untuk mengikuti suatu obyek, membedakan seseorang dengan benda, senyum naluri dan bersuara. Terpenuhinya rasa aman dan kasih sayang yang cukup mendukung perkembangan yang optimal pada masa ini. Pada posisi telungkup, anak berusaha mengangkat kepala. Jika tidur telentang, anak lebih menyukai sikap memiringkan kepala ke samping.
            Pada tiga bulan kedua, anak mampu mengangkat kepala dan menoleh ke kiri-kanan saat telungkup. Setelah usia lima bulan anak mampu membalikkan badan dari posisi telentang ke telungkup dan sebaliknya, berusaha meraih benda-benda di sekitarnya untuk dimasukkan ke mulut. Anak mampu tertawa lepas pada suasana yang menyenangkan, misalnya diajak bercanda, sebaliknya akan menangis pada suasana yang tidak menyenangkan.
            Pada enam bulan kedua, anak mulai bergerak memutar pada posisi telungkup untuk menjangkau benda-benda di sekitarnya. Sekitar usia sembilan bulan, anak bergerak merayap atau merangkak dan mampu duduk sendiri tanpa bantuan. Apabila dibantu berdiri, anak berusaha untuk melangkah sambil berpegangan. Koordinasi jari telunjuk dan ibu jari lebih sempurna sehingga anak dapat mengambil benda dengan menjepitnya. Kehadiran orang asing akan membuatnya cemas (stranger anxiety), demikian juga perpisahan dengan ibunya.
            Anak suka sekali bermain “ci-luk-ba”. Pada usia 9 bulan-1 tahun, anak mampu melambaikan tangan, bermain bola, memukulmukul mainan dan memberikan benda yang dipegang bila diminta.
            Berdasarkan teory psikososial (Erikson), anak berada pada tahap percaya dan tidak percaya , sehingga lingkungan dalam hal ini orang tua yang memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup, akan menumbuhkan rasa percaya diri anak. Sedangkan menurut teori psikoseksual (Sigmund Freud), anak berada pada fase oral, sehingga segala sesuatu yang dipegangnya cenderung dimasukkan ke dalam mulut. Oleh karena itu, orang tua harus memperhatikan keamanan dan kebersihan makanan maupun permainan anaknya.
            Masa ini merupakan perkembangan interaksi yang menjadi dasar persiapaan untuk menjadi anak yang lebih mandiri. Kegagalan untuk memperoleh perkembangan interaksi yang positif dapat menyebabkan terjadinya kelainan emosional dan sosialisasi pada masa mendatang. Oleh karena itu diperlukan hubungan yang
mesra antara ibu (orang tua) dan anak.

4.    Masa Balita (1-3 tahun)
            Pada masa ini, pertumbuhan fisik anak relatif lebih lambat dibandingkan dengan masa bayi, tetapi perkembangan motoriknya berjalan lebih cepat. Anak sering mengalami penurunan nafsu makan dan anak mulai belajar jalan. Pada mulanya, anak berdiri tegak dan kaku, kemudian berjalan dengan berpegangan. Sekitar usia 16 bulan, anak mulai belajar berlari dan menaiki tangga, tetapi masih kelihatan kaku. Oleh karena itu anak perlu diawasi, karena dalam beraktivitas anak tidak memperhatikan bahaya.
            Pada masa ini, anak bersifat egosentris yaitu mempunyai sifat keakuan yang kuat sehingga segala sesuatu yang disukainya dianggap sebagai miliknya. Apabila anak menginginkan mainan kepunyaan temannya, sering ia akan merebutnya karena dianggap miliknya.
            Menurut teori Erikson, anak berada pada fase mandiri dan malu/ragu-ragu. Hal ini terlihat dengan berkembangnya kemampuan anak, yaitu dengan belajar untuk makan atau berpakaian sendiri. Apabila orang tua tidak mendukung upaya anak untuk belajar mandiri, maka hal ini dapat menimbulkan rasa malu/rasa ragu akan kemampuannya, misalnya orang tua yang selalu memanjakan anak dan mencela aktivitas yang telah dilakukan oleh anak. Pada masa ini, sudah sampai waktunya anak dilatih untuk buang air besar atau buang air kecil pada tempatnya (toilet training). Anak juga dapat menunjuk beberapa bagian tubuhnya, menyusun 2 kata, dan mengulang kata-kata baru.
            Pada masa ini, anak perlu dibimbing dengan akrab, penuhkasih sayang, tetapi juga tegas, sehingga anak tidak mengalami kebingungan. Jika orang tua mengenal kebutuhan anak, maka anak akan berkembang perasaan otonominya sehingga anak dapatmengendalikan otot-otot dan rangsangan lingkungan.
5.    Masa Pra sekolah akhir (3-5 tahun)
            Pada masa ini, pertumbuhan gigi susu sudah lengkap. Pertumbuhan fisik relatif pelan, naik turun tangga sudah dapat dilakukan sendiri. Demikian pula halnya dengan berdiri satu kaki secara bergantian atau melompat. Anak mulai berkembang superegonya (suara hati), yaitu merasa bersalah bila ada tindakannya yang keliru.
            Menurut teori Erikson, pada usia tersebut anak berada pada fase inisiatif dan rasa bersalah. Pada masa ini, anak berkembang rasa ingin tahu (courius) dan daya imaginasinya, sehingga anak banyak bertanya mengenai segala sesuatu di sekelilingnya yang tidak diketahuinya. Sedangkan menurut teori Sigmund Freud, anak berada pada fase phalik, dimana anak mulai mengenal perbedaan jenis kelamin perempuan dan laki-laki. Anak juga mengidentifikasikan figus atau perilaku orang tua sehingga mempunyai kecenderungan meniru tingkah laku orang dewasa di sekitarnya. Anak juga mulai mengenal cita-cita, belajar menggambar, menulis mengenal angka serta bentuk/warna benda.

E.       Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
1.         Deteksi Pertumbuhan dan standar normalnya
Menurut Nursalam (2005) parameter untuk pertumbuhan yang sering digunakan dalam pedoman deteksi tumbuh kembang anak balita adalah :
a.    Ukuran antropometri
1)   Berat badan
2)   Panjang badan
3)   Lingkar kepala
4)   Lingkar lengan atas (Lila)
5)   Lingkar dada
b.    Keseluruhan fisik
Berkaitan dengan pertumbuhan, hal-hal yang dapat diamati dari pemeriksaan fisik adalah :
1)   Keseluruhan fisik
Dilihat bentuk tubuh, perbandingan kepala, tubuh dan anggota gerak, ada tidaknya odema, anemia, dan ada tanda gangguan lainnya.
2)   Jaringan otot
Dapat dilihat dengan cubitan tebal pada lengan atas, pantat, dan paha untuk mengetahui lemak subcutan.
3)   Jaringan lemak
Diperiksa dengan cubitan tipis pada kulit di bawah triceps dan subskapular.
4)   Rambut
Perlu diperiksa pertumbuhannya, tebal / tipisnya rambut, serta apakah akar rambut mudah dicabut atau tidak.
5)   Gigi geligi
Perlu diperhatikan kapan tanggal dan erupsi gigi susu atau gigi permanen.
c.    Pemeriksaan laboratorium dan radiologis
Pemeriksaan laboratorium dan radiologis baru dilakukan di klinik apabila terdapat gejala atau tanda akan adanya suatu gangguan / penyakit, misalnya anemia atau pertumbuhan fisik yang tidak normal. Pemeriksaan laboratorium yang sering adalah pemeriksaan darah untuk kadar Hb, serum protein (albumin dan globulin), dan hormon pertumbuhan. Pemeriksaan radiologis dilakukan terutama untuk menilai umur biologis, yaitu umur tulang (boneage). Biasanya, hal tersebut dilakukan bila ada kecurigaan akan adanya gangguan pertumbuhan. Bagian tulang yang biasanya di rontgen adalah tulang radius sebelah kiri.

2.         Deteksi Perkembangan
Terdapat empat aspek perkembangan anak balita, yaitu :
a.    Kepribadian/tingkah laku social (personal social), yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan.
b.    Motorik halus (fine motor adaptive), yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu dan melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan otot-otot kecil, memerlukan koordinasi yang tepat, serta tidak memerlukan banyak tenaga, misalnya memasukkan manik-manik ke dalam botol, menempel dan menggunting.
c.    Motorik kasar (gross motor), yaitu aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh yang melibatkan sebagian besar tubuh karena dilakukan oleh otot-otot yang lebih besar sehingga memerlukan cukup tenaga, misalnya berjalan dan berlari.
d.    Bahasa (language), yaitu aspek yang berhubungan dengan kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara secara spontan. Pada masa bayi, kemampuan bahasa bersifat pasif, sehingga pernyataan akan perasaan atau keinginan dilakukan melalui tangisan atau gerakan. Semakin bertambahnya usia, anak akan menggunakan bahasa aktif, yaitu dengan berbicara.

          Aspek-aspek perkembangan tersebut merupakan modifikasi dari tes/skrining perkembangan yang ditemukan oleh Frankerburg, yang dikenal dengan Denver Development Screening Test (DDST), yaitu salah satu test atau metode skrining yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 1 bulan sampai 6 tahun. Perkembangan yang dinilai meliputi perkembangan personal sosial, motorik halus, motorik kasar dan bahasa pada anak (Nursalam dkk, 2005).
          Pada buku petunjuk program BKB (Bina Keluarga dan Balita)
perkembangan balita dibagi menjadi 7 aspek perkembangan, yaitu
perkembangan :
1.    Tingkah laku sosial
2.    Menolong diri sendiri
3.    Intelektual
4.    Gerakan motorik halus
5.    Komunikasi pasif
6.    Komunikasi aktif
7.    Gerakan motorik kasar

          Banyak milestoneperkembangan anak yang penting dalam mengetahui taraf perkembangan seorang anak (yang dimaksud dengan milestoneperkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu), misalnya :
1.    4-6 minggu        :
a.       tersenyum spontan
b.      dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
2.    12-16 minggu    :
a.       menegakkan kepala
b.      tengkurap sendiri menoleh ke arah suara memegang benda yang ditaruh di tangannya
3.    20 minggu         :
a.       meraih benda yang didekatkan kepadanya
4.    26 minggu         :
a.       Dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
b.      Duduk dengan bantuan kedua tangannya kedepan
c.       Makan biskuit sendiri
5.    9-10 bulan         :
a.       Menunjuk dengan jari telunjuk
b.      Memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk
c.       Merangkak
d.      Bersuara da… da…
6.    13 bulan            :
a.       berjalan tanpa bantuan
b.      mengucapkan kata-kata tunggal

          Dengan mengetahui berbagai milestone, maka dapat diketahui apakah seorang anak perkembangannya terlambat ataukah masih dalam batas-batas normal. Kalau ada kecurigaan dapat dilakukan tes skrining (deteksi dini) dan intervensi dini agar tumbuh kembang anak dapat lebih optimal, antara lain dengan DDST (Denver Development Screening Test) yaitu meliputi :
1.    Motorik kasar
a.    Berdiri pada satu kaki selama 1 detik
b.    Lompat di tempat
c.    Naik sepeda roda 3 (tiga)
d.    Lompatan lebar
e.    Berdiri pada satu kaki selama 5 detik
2.    Motorik halus
a.    Mencoret sendiri
b.    Menata dari 4 kubus
c.    Menata dari 8 kubus
d.    Meniru garis vertikal dalam batas 300
e.    Mengeluarkan manik-manik dari botol sendiri
f.     Mengeluarkan manik-manik dari botol dengan contoh
g.    Mengikuti membuat +
h.    Mengikuti membuat O
i.      Meniru jembatan
j.     Membedakan garis panjang (3 dari 3 atau 5 dari 6).
3.    Personal sosial
a.    Memakai baju
b.    Mencuci dan menyeka tangan dengan lap
c.    Mudah dipisahkan dari ibu
d.    Bermain dengan anak lain
e.    Mengancing baju
f.     Memakai baju dengan pengawasan
g.    Memakai baju tanpa bantuan


F.       Masalah-Masalah Tumbuh Kembang Anak
Dalam buku Pedoman Pembinaan Perkembangan Anak Di Keluarga yang disusun oleh Direktorat Bina Kesehatan Keluarga, masalah-masalah/gangguan pada masa kecil atau kelainan yang dibawa sejak lahir sering mengakibatkan hambatan pada perkembangan anak (Direktorat Bina Kesehatan Keluarga, 1992). Masalah tumbuh kembang yang sering timbul :
1.    Gangguan pertumbuhan fisik
Untuk mengetahui masalah tumbuh kembang fisik pada anak, perlu pemantauan yang kontinue. Dengan pemantauan berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, umur tulang dan pertumbuhan gigi, maka dapat diketahui adanya suatu kelainan tumbuh kembang fisik seorang anak seperti : obesitas atau kelainan hormonal, perawakan pendek akibat kelainan endokrin dan kurang gizi, pertumbuhan/erupsi gigi terlambat yang disebabkan oleh hipotiroid, hipoparatiroid, keturunan dan idiopatik, serta gangguan penglihatan dan pendengaran.
2.    Gangguan perkembangan motorik
Perkembangn motorik yang lambat dapat disebabkan oleh :
a.    Faktor keturunan
b.    Faktor lingkungan
c.    Faktor kepribadian
d.    Retardasi mental
e.    Kelainan tonus otot
f.     Obesitas
g.    Penyakit neuromuscular
h.    Buta
3.    Gangguan perkembangan bahasa
Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan berbagai faktor yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran, intelegensi rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan, maturasi yang terlambat, faktor keluarga, kembar, psikosis, gangguan lateralisasi, masalah-masalah yang berhubungan dengan disleksia dan afasia.
4.    Gangguan fungsi vegetatif
a.    Gangguan makan
b.    Gangguan fungsi eliminasi
c.    Gangguan tidur
d.    Gangguan kebiasaan
e.    Kecemasan
Kecemasan pada umumnya merupakan bagian dari perkembangan. Tetapi bila kecemasan ini berlebihan sehingga mempunyai efek terhadap interaksi sosial dan perkembangan anak, maka merupakan hal yang patologis yang memerlukan
suatu intervensi.
5.    Gangguan suasana hati (mood disorders)
Gangguan tersebut antara lain adalah major depression yang ditandai dengan disforia, kehilangan minat, sukar tidur, sukar konsentrasi, dan nafsu makan yang terganggu.
6.    Bunuh diri dan percobaan bunuh diri Bunuh diri sering merupakan penyelesaian masalah psikologi dan lingkungan bagi remaja.
7.    Gangguan kepribadian yang terpecah (disruptive behavioural disorders) Kelainan ini mungkin sebagai akibat dari frustasi dan kemarahan.
8.    Gangguan perilaku seksual
Gangguan perilaku seksual antara lain transseksualism, transventism, dan homoseksual.
9.      Gangguan perkembangan pervasif dan psikosis pada anak Meliputi autisme (gangguan komunikasi verbal dan non verbal, gangguan perilaku dan interaksi sosial), Asperger (gangguan interaksi sosial, perilaku yang terbatas dan diulang-ulang, obsesif), childhood disintegrative disorder (demensia heller), dan kelainan Rett (kelainan x-linked dominan pada anak perempuan).
10.  Disfungsi neurodevelopmental pada anak usia sekolah Disfungsi susunan saraf pusat sering disertai dengan kemampuan akademik yang di bawah normal, kelainan perilaku dan masalah dalam interaksi sosial.
11.  Kelainan saraf dan psikiatrik akibat dari trauma otak Trauma otak meningkatkan resiko gangguan intelektual maupun psikiatris, terutama bila trauma berat.
12.  Penyakit psikosomatik
Konflik psikologik yang dapat memberikan gejala somatik disebut psikosomatik. Contohnya adalah kelainan konversi, hipokondriasis, sindrom

G.      Gizi Balita
1.     Pengertian Gizi
Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpangan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi. Makanan dan zat gizi adalah balok pembangun yang membantu membentuk gigi, tulang, dan otot yang kuat, jaringan yang sehat, perkembangan saraf otak dan sistem daya tahan tubuh. Setiap hari anak perlu mendapatkan zat gizi dari makanan. Tidak ada satu jenis makanan yang menyediakan semua zat gizi yang dibutuhkan anak. Yang paling baik adalah memberikan aneka ragam makanan untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan zat gizi

2.    Gizi Pada Anak Balita
Kecukupan gizi rata-rata bagi anak usia di bawah 3 tahun dengan berat badan 12 kg dan tinggi badan 89 cm, energi yang dibutuhkan sebanyak 1220 kkl dan kebutuhan protein sebesar 23 gram. Sedangkan pada umur 4-5 tahun dengan berat badan 18 kg dan tinggi badan 108 cm, energi yang dibutuhkan sebanyak 1720 kkl dan kebutuhan protein sebesar 32 gram (Pudjiadi, 2003). Balita merupakan masa peralihan makanan dari makanan pendamping ASI ke makanan orang dewasa. Namun, pemberiannya juga masih bertahap disesuaikan dengan kemampuan sistem pencernaan anak dan kebutuhan gizinya. Di usia ini, saatnya dikenalkan ragam makanan yang sehat dan alami karena akan menentukan pola makan anak selanjutnya. Sesuai dengan kemampuan pencernaan dan kebutuhan gizi, balita dipilah menjadi dua, yaitu batita (1-3 tahun) dan prasekolah (4-5 tahun). Batita merupakan konsumen pasif, artinya dia masih menerima saja makanan yang diberikan orang tuanya. Berikan makan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering (7-8 kali) sehari, terdiri atas tiga kali makan pagi, siang, dan sore, 2-3 kali makan selingan, dan 3-4 kali minum susu. Masingmasing usia ini memerlukan makanan yang berbeda sesuai tahap perkembangan saluran pencernaannya dan kebutuhan gizinya. Berbeda dengan batita, anak prasekolah adalah konsumen aktif sehingga sudah bisa menentukan makanannya sendiri. Aktivitasnya juga lebih tinggi sehingga kebutuhan energinya lebih banyak daripada batita. Oleh karena itu, porsi makan diperbesar daripada batita dengan frekuensi diturunkan menjadi 5-6 kali sehari, terdiri atas 3 kali makan pagi, siang, dan sore dan 2 kali makan selingan. Susu 2 kali sehari (pagi dan malam hari) atau dicampurkan pada makanan

3.    Sumber Kebutuhan Gizi Balita
Sepanjang usia balita, selera makan dan kebiasaan makan terus berubah-ubah. Setelah ulang tahun pertama, pertumbuhan melambat dan selera makan pun cenderung menurun. Pada masa tumbuh kembangnya, gizi seimbang sangat besar pengaruhnya. Pada masa ini otak balita telah siap menghadapi berbagai stimulasi seperti belajar berjalan dan berbicara lebih lancar. Balita memiliki kebutuhan gizi yang berbeda dari orang dewasa. Mereka butuh lebih banyak lemak dan lebih sedikit serat. Nutrisi yang anak butuhkan berasal dari beras/gandum/umbi, daging, kacang-kacangan, sayuran, buah, dan dua gelas susu per hari. Tentunya dengan gizi yang seimbang sehingga dalam sehari tercapai 1.000 s.d. 1.500 kalori. Variasi ini sangatlah bergantung pada usia, tinggi badan, serta aktivitas anak (dalam hal ini sekitar 30 menit aktivitas fisik per hari). Pada usia ini, susu masih merupakan makanan yang penting karena mengandung semua zat gizi dasar yang dibutuhkan anak yang sedang tumbuh: energi, lemak, karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.
a.    Energi
Seperti halnya mesin, tubuh manusia membutuhkan pasokan energi (atau kalori) yang terus-menerus. Tanpa energi, fungsi tubuh yang penting tidak mungkin berjalan. Energi diperoleh dari zat gizi kaya energi yang terdapat dalam makanan: karbohidrat kompleks, lemak, protein dan gula sederhana. Kalori yang dibutuhkan balita usia 1-5 tahun adalah sekitar 1300 – 1500 kalori per hari.
b.    Lemak
Merupakan komponen utama membran sel otak dan selubung myelin disekeliling saraf otak. Lemak mempengaruhi perkembangan dan kemampuan otak, terutama pada dua tahun pertama. DHA (asam lemak omega 3) & AA (asam lemak omega 6) adalah komponen utama struktur otak dan mempunyai peran penting dalam perkembangan fungsi otak dan retina. Sphingomyelin adalah komponen utama dari sel saraf, jaringan otak dan selubung myelin disekitar saraf. Sphingomyelin mempunyai peran dalam mengirim sinyal dan membawa informasi dari satu sel saraf ke sel saraf otak lainnya. Sumber lemak antara lain seperti yang terdapat dalam minyak , santan , dan mentega, roti, dan kue juga mengandung omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak.
c.    Protein
Mempunyai fungsi penting dalam membangun dan memelihara sel jaringan tubuh. Protein juga merupakan prekursor untuk neurotransmitter yang mendukung perkembangan otak. Fungsi otak yang baik tergantung pada kapasitas menyerap dan memproses informasi. Neurotransmitter catecholaimes dibentuk dari asam amino penting: Tyrosine dan neurotransmitter serotonin dibentuk dari Tryptophan. Serotonin menstimulasi tidur yang penting untuk perkembangan otak dalam memproses informasi, sedangkan catecholamine berkaitan dengan keadaan siaga yang membantu menyerap informasi di otak. Sumber protein terdiri dari daging 2 ons atau telur 2 butir atau kacang-kacangan 100 gram (untuk usia 5 tahun : daging 3-4 ons atau telur 4 butir atau kacang-kacangan 200 gram). Sumber protein antara lain seperti ikan, susu, daging, telur, kacang-kacangan.
d.    Karbohidrat
Sebagai sumber utama energi. Salah satu bentuk karbohidrat di otak adalah Sialic Acid (SA). SA merupakan komponen struktur dan fungsi ganglion otak yang penting. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian SA sejak awal dapat meningkatkan perkembangan otak dan mempunyai efek dalam proses belajar dan memori. Untuk anak usia 1 atau 5 tahun diperlukan karbohidrat sebagai sumber energi untuk berbagai aktivitas. Diperlukan 2-3 lembar roti atau 1 sampai dengan 1,5 mangkuk nasi atau mi (untuk usia 5 tahun, 4-5 lembar roti atau 2-2,5 mangkuk nasi/mi).Sumber karbohidrat antara lain seperti nasi, roti, sereal, kentang, atau mi.
e.    Zat Besi
Kekurangan zat besi merupakan hal yang biasa pada balita. Hal ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan akan zat besi yang tidak tercukupi dari asupan makanan, khususnya jika tidak mengkonsumsi daging. Makanan yang kaya akan vitamin C seperti segelas jus jeruk dapat dihidangkan ketika makan malam untuk memaksimalkan penyerapan zat besi.
f.     Kalsium
Kalsium sangat penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Kebutuhan akan kalsium dapat terpenuhi asalkan balita mengkonsumsi susu dan produk berbahan dasar susu yang cukup. Dua atau tiga gelas susu dapat memenuhi kebutuhan asupan kalsium dalam sehari.


g.    Vitamin A
Dibutuhkan untuk perkembangan sel dan kulit yang sehat. Makanan Balita seringkali kurang asupan Vitamin A.
h.    Vitamin C
Penting untuk sistem pertahanan tubuh dan pertumbuhan balita. Vitamin C juga membantu penyerapan zat besi, khususnya zat besi yang bukan berasal dari hewan. Asupan vitamin C pada balita seringkali rendah karena sedikit mengkonsumsi sayur dan buahbuahan.
i.      Vitamin D
Sangat penting untuk metabolisme kalsium dan dapat diperoleh melalui aksi sinar matahari pada kulit.
j.     Vitamin E
Berperan penting dalam mencegah kerusakan struktur sel membran. Vitamin E termasuk dalam golongan antioksidan dan berperan dalam mengurangi risiko penyakit seperti kanker.
k.    Susu
Pada usia 1 dan 2 tahun, seorang anak membutuhkan, paling sedikit 800 ml susu per hari dan pada usia 3 tahun ke atas, paling sedikit 500 ml susu per hari

H.      Pola Asuh Orangtua
1.    Pengertian Pola Asuh
Pola asuh merupakan intraksi anak dan orangtua dalam mendidik , membimbing, dan mendisiplinkan , serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma- norma yanga ada dalam masyarakat.
Banyak ahli mengatakan pengasuhan anak adalah bagian yang sangat penting dan mendasar,  Terlihat bahwa pengasuhan anak berupa suatu proses interaksi antara orangtua dengan anak , interaksi tersebut mencakup perawatan mulai dari  mencukupi kebutuhan makan , mendorong keberhasilan dan melindungi, maupun mensosialisasi yaitu mengajarkan tingkahlaku umum yang di terima dimasyarakat.
Pendampingan orang tua di wujudkan melalui cara –cara orang tua dalam mendidik anaknya. cara orang tua dalam mendidik anaknya disebut sebagai pola pengasuhan.

Setiap upaya yang dilakukan dalam mendidik anak , mutlak didahului oleh tampilnya sikap orangtua dalam mengasuh anak  diantaranya:
a.    Prilaku yang patut di contoh
Artinya setiap prilakunya tidak sekedar, prilaku yang bersikap mekanik, tetapi harus didasarkan pada kesadaran bahwa prilakunya akan dijadikan lahan peniruan dan identifikasi bagi anak- anak mereka.
b.    Kesadaran Diri
Kesadaran diri  juga harus di tularkan kepada  anak- anak untuk mendorong mereka agar prilaku keseharianya taat kepada nilai-nilai dan moral. Oleh sebab itu orang tua senantiasa membantu mereka agar mampu melakukan observasi diri melalui komunitasi dialogis,baik secara verbal maupun nonverbal tentang prilaku .
c.    Komunikasi
Komunikasi antara orang tua dan anak juga sangat penting, terutama yang berhubungan dengan  membantu mereka dalam memecahkan permasalahannya.

Menurut baumrind (1997) terdapat 3 macam pola asuh orang tua diantaranya:
a.    Pola Asuh Otoriter
Orang tua cendrung menetapkan standar mutlak yang  harus dituruti, biasanya bersamaan dengan ancaman-ancaman ,misalnya kalau tidak mau makan , maka tidak akan di ajak bicara.
Orang tua cendrung memaksa, memerintah , menghukum  apabila anak tidak mau melakukan apa yang dilakukan oleh orang tua , maka orang tua tidak segan menghukum anakya. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal  dalam komunikasi. Biasanya besifat  1 arah dan orang tua tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya. Pola asuh otoriter yang seperti ini akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, kurang berkembang rasa sosial , tidak timbul kreatif dan keberaniaanya untuk mengambil keputusan. Selain itu,  suka melanggar norma,dan mempunyai kepribadian yang  lemah , dan suka  menarik diri. Biasanya Anak yang hidup dalam suasan keluarga yang otoriter akan menghambat kepribadian dan kedewasaannya.
b.    Pola Asuh Demokratis
adalah pola asuh yang mementingkana kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu- ragu dalam mengendalikan mereka . orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional selalu mendasari tindakanya pada rasio  dan di sini orang tua lebih bersikap realistis terhadap kemampuan anaknya, kemudian memberikan kebebasan pada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan . pendekatan orang tua  kepada anak bersikap lebih hangat. Biasanya Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak yang mandiri, dapat mengontrol diri , mempunyai hubungan baik dengan temannya dan mempunyai minat terhadap hal-hal baru.
c.    Pola Asuhan Permisif
Di sini orang tua memberiakan pengawasan yang sangat longgar, dan memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup dari dirinya,  selain itu sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh orang tua. Namun orang tua tipe ini biasanya hangat sehingga sering di sukai anak. Biasanya pola asuh permisif akan mengasilkan karakteristik anak yang inklusif, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percara diri, dan kurang matang secara sosial.



2.    Faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh anak diantaranya:
a.    Pendidikan orang tua
pendidikan dan pengalaman orang tua dalam perawatan anak akan mempengaruhi kesiapan mereka dalam  menjalankan pengasuhan. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjadi lebih siap dalam menjalankan peran pengasuhan antara lain : terlibat aktif dalam setiap pendidikan anak, mengamati segala sesuatu dengan berorientasi pada masalah anak, selalu berupaya menyediakan waktu untuk anak-anak dan menilai perkembangan fungsi keluarga dan kepercayaan anak. hasil riset dari Sir Godfrey Thomson menunjukkan bahwa pendidikan diartikan sebagai pengaruh lingkungan atas individu atau menghasilkan perubahan-perubahan yang tetap atau permanen didalam kebiasaan tingkah laku, pikiran dan sikap. Orang tua yang telah mempunyai pengalaman sebelumnya dalam mengasuh anak  akan lebih  siap dalam menjalankan peran asuhnya, selain itu orang tua akan lebih mampu mengamati tanda-tanda pertumbuhan dan perkembangan  yang normal.
b.    Lingkungan
Lingkungan banyak memengaruhi perkembangan anak, maka tidak mustahil jika lingkungan juga ikut serta mewarnai pola-pola pengasuhan yang di berikan orang tua terhadap anaknya.
c.    Budaya
Sering kali orang tua mengikuti cara-cara dan, kebiasaan  masyarakat disekitarnya dalam mengasuh anak. Karena pola-pola tersebut dianggap berhasil dalam mendidik anak kearah kematangan.
Orang tua mengharapkan kelak anaknya dapat diterima di masyarakat dengan baik, oleh karena itu kebudayaan masyarakat dalam mengasuh anak juga mempengaruhi setiap orang tua dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya.


I.         Metode Screening terhadap Kelainan Perkembangan
1.      Definisi DDST
            DDST (Denver Devplopmant Screening Test) adalah salah satu dari metode screening terhadap kelainan perkembangan anak, test ini bukanlah test diagnosa atau test IQ. DDST memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode screening yang Baik. Test ini dikembangkan pada 6 tahun pertama kehidupan anak, dengan penekanan pada 2 tahun pertama mudah dan cepat (15-20menit), dapat diandalkan dan menunjukkan validitas yang baik.
            “Denver scale” adalah test screening untuk masalah kognitif dan perilaku pada anak pra sekolah. Test ini dikembangkan wlliam K. Frankenburg (yang mengenalkan pertama kali) dan J.B.Doods pada tahun 1967. DDST dipublikasikan oleh Denver Developmental Material, Inc., di Denver, Colorado. DDST merefleksikan persentase kelompok anak usia tertentu yang dapat menampilkan tugas perkembangan tertentu. Test ini dapat dilakukan oleh dokter spesialis, tenaga profesional kesehatan lainnya, atau tenaga professional kesehatan dalam layanan social. Dalam perkembangan lainnya DDST mengalami beberapa kali revisi. Revisi terakhir adalah Denver II yang merupakan hasil revisi dan standarisasi dari DDST dan DDST-R (revised denver developmental screening test). Perbedaaan denver II dengan screening terdahulu terletak pada item-item test, bentuk, interprestasi dan rujukan.
2.      Manfaat DDST
DDST adalah metode test yang paling banyak digunakan untuk masalah perkembangan anak.
Denver II dapat digunakan untuk berbagai tujuan, antara lain :
a.    Menilai tingkat perkembangan anak sesuai dengan usianya
b.    Menilai tingkat perkembangan anak yang tampak sehat
c.    Menilai tingkat perkembangan anak yang tidak menunjukan gejala kemungkinan adanya kelainan perkembangan
d.    Memastikan anak yang diduga mengalami kelainan perkembangan
e.    Memantau anak yang beresiko mengalami kelainan perkembangan


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
              Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan dasar yang berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.
              Pada masa balita pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung, dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabang-cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang kompleks yang akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga bersosialisasi.
              Pada masa balita pula, perkembangan kemampuan bicara dan bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan berikutnya.
              Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia dikemudian hari.

B.       Saran
Dari hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, maka dapat diberikan saran-saran sebagai bahan masukan bagi pihak yang bersangkutan dalam rangka meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak serta menambah informasi dan wawasan.
1.         Bagi Instansi pendidikan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan tentang tumbuh kembang anak guna menunjuang peningkatan kualitas kesehatan anak sehingga dapat menjadi literature untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan kesehatan khususnya kesehatan anak.

2.         Bagi Profesi Kebidanan
Disarankan agar mengembangkan pengetahuan kesehatan terkait tumbuh kembang anak terhadap klien guna memonitoring pertumbuhan dan perkembangan anak.

3.         Bagi Pembaca
Disarankan agar memahami dan memperluas wawasan mengenai tumbuh kembang anak.


DAFTAR PUSTAKA

Muslihatun, Wafi Nur, dkk. 2009. Dokumentasi Kebidanan. Yogyakarta : Fitramaya
Suryani, Eko. 2010. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta : Fitramaya
Wildan, Moh. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Surabaya : Salemba Medika


LAMPIRAN

A.      Tabel Pertumbuhan dan Perkembangan


B.       Contoh KMS21 (Kartu Menuju Sehat)

C.       Contoh KMS Pertumbuhan Normal
D.      Contoh KMS Pertumbuhan Terganggu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar